
Pagi ini Sahsa ketiduran, padahal dia sudah menyetel alarm tepat waktu. namun karena semalam turun hujan dan cuaca yang dingin, membuat gadis itu begitu nyaman tidur dalam balutan selimut tebal nya.
Sayup-sayup Sahsa mendengar suara burung yang saling bersahutan, yang bertengger di pohon mangga. yang terletak didepan kamar kos-kosan kecilnya itu. membuat Sahsa mengeliat pelan dan membuka sedikit matanya. tiba-tiba dia terlonjak kaget melihat cahaya yang terang melalui ventilasi kamar.
“Astaga...aku ketiduran, jam berapa sekarang.” Dengan sigap sahsa Menyibak gorden penutup jendela, nampak cahaya matahari pagi yang sudah terang benderang. Masuk menerobos melalui celah-celah jendela kaca tersebut. " ternyata hari ini cuaca sangat bersahabat."
“Sudah jam delapan lewat lima belas menit, kalau aku mandi dan bersiap? Tidak mungkin. Aku akan lebih terlambat. belum lagi perjalanan yang harus aku tempuh. Ya Tuhan.... bagaimana ini.?” Sahsa panik.
“Sebaiknya mandi kilat saja,” Sasha berlari menuju kamar mandi, dia memang ahli dalam mandi kucing . Sehingga dalam waktu lima menit dia sudah siap, sambil terus berdoa semoga Berliana ataupun gorila kurus itu tidak akan memarahinya.
“Apapun resikonya nanti, aku harus hadapi. Karena ini bukan kesengajaan ku. “ gumam Sahsa sambil mengenakan pakaian baru yang dibelinya kemaren sore.
Dengan penampilan seadanya, Sahsa langsung buru-buru untuk segera keluar dari kamarnya. dan berjalan cepat dia lupa jika kondisi nya yang tengah masa hamil muda.
"Aduuuuuh... sakiiit," refleks jalan Sahsa terhenti, ketika merasakan sakit karena cram yang teramat dibagian bawah perutnya. dia langsung terduduk lemas didepan pintu kamarnya.
"Pasti ini gara-gara aku buru-buru, sehingga membuat mu kesakitan nak. Sayang maafkan Bunda ya, Bunda seperti ini agar kita bisa mengumpulkan uang. coba saja Bunda bisa bertemu dengan ayahmu dan meminta pertanggungjawaban nya, namun laki-laki brengsek itu menghilang bak ditelan bumi. bunda sudah capek mencarinya. mulai sekarang kita akan berjuang bersama. karena semua ini juga kesalahan Bunda, sehingga bunda akan menjaga dan merawat mu dengan baik. muda dengan begini rasa bersalah dan dosa-dosa Bunda bisa berkurang." gumam Sahsa sambil mencoba menahan sakit dan berjalan namun rasa sakit itu kembali lagi jika Sahsa melangkah.
"Sebaiknya hari ini aku tidak usah masuk kerja, semoga Tuan muda Rendi dan Bu Berliana mau memberikan aku izin. berdoa lah nak semoga mereka tidak mengeluarkan Bunda nantinya dari pekerjaan ini. yang merupakan harapan kita satu-satunya." Sahsa Kembali masuk kekamar dan merebahkan tubuhnya.
Sebelah tangan Sahsa mencoba menghubungi ponsel Berliana, yang tengah resah menunggu kedatangan Sahsa. terutama Rendi yang sedari pagi sudah bersantai didepan teras utama menunggu kedatangan wanita yang pelan namun pasti sudah menggantikan posisi Sanu. Rendi juga terlihat begitu rapi dengan rambut panjang yang sudah diikat nya.
"Mi kenapa Sahsa belum juga datang? tidak biasanya dia seperti ini. Rendi khawatir jika terjadi sesuatu pada Sahsa." Ucap Rendi.
__ADS_1
"Sabar nak, mungkin dia masih dijalan." Berliana mencoba menenangkan Rendi kembali.
Suara dering tanda panggilan masuk dari ponsel Berliana, mengagetkan ibu dan anak itu.
"Dari Sahsa." Ucap Berliana, yang langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo assalamualaikum, Sahsa."
"Ya, Waalaikumsalam Nyonya. " kemudian Sahsa terdiam mencoba mencari-cari alasan yang tepat.
"Sasha, kenapa diam dan kamu juga belum datang kerumah. kamu nggak kenapa-kenapa Khan?" tanya Berliana, Sementara Rendi meremas tangan khawatir sambil penasaran mendengar percakapan Mami dan Sahsa.
"Nyonya, aku mau minta izin untuk hari ini. karena lagi kurang enak badan karena mungkin faktor cuaca Nyonya. besok Sahsa usahakan datang tepat waktu." Ucap Sahsa harap-harap cemas.
"Tidak bisa, kita harus jemput Sahsa sekarang, Rendi khawatir mi.. Sahsa tolong berikan alamatmu sekarang.?" Ucap Rendi Tanpa sadar membuat Mami dan sahsa yang mendengar langsung melongo.
__ADS_1
__ADS_1