One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Jatuh kepangkuan Rendi


__ADS_3

Sasha mersa detak jantung nya tiga kali lebih kencang dari biasanya, ditambah lagi detak jantung bayi diperut nya. seakan saling berpacu semenjak kedatangan Rendi.


“Ternyata selain berhati lembut, senyum Tuan Rendi terlihat begitu manis, meskipun jambang itu masih menutupi wajahnya. Aku rasa jika rambut panjang dan jambang itu disingkirkan, ketampanan nya pasti akan terlihat jelas.” Gumam Sahsa, meskipun dia teringat kembali dengan pria yang pernah meniduri nya memiliki senyum yang sangat mirip dengan Rendi.


“Ah...mungkin hanya perasaan ku saja, karena masih terbawa suasana mimpi barusan. Mereka berbeda dan bukan orang yang sama.” Sahsa sesekali mencuri pandang kearah Rendi. Saat pandangan mata mereka bertemu Sahsa langsung menunduk malu, dia tidak sanggup membalas tatapan mata elang Rendi yang terasa langsung menembus relung terdalam hatinya.


“Kamu setuju kan Sha,” Rendi kembali memastikan ajakannya.


“Aku setuju Tuan muda, tapi aku harus berkemas dulu.” Jawab Sahsa.


“Tidak perlu Sha, biar aku perintahkan pelayan saja nanti untuk datang kesini berkemas pakaian dan barang-barang mu.” Ucap Rendi yang tidak ingin Sahsa kecapean, dia ingin memanjakan gadis itu mulai dari sekarang.


Sasha masih teringat akan mimpi nya barusan, sehingga dia kurang fokus. seolah-olah masih berusaha untuk mengumpulkan energi nya yang berserakan.


“Sekarang bersiaplah, aku ingin mengajakmu periksa ke dokter.” terang Rendi kembali.


“Baik Tuan.” Sahsa ingin berdiri, tapi tiba-tiba dia kesandung. Rendi dengan sigap menangkap Sahsa, dan menarik tubuh mungil itu kedalam pangkuannya, meskipun dia sendiri hampir jatuh.


"Ma...maaf tuan muda." Sahsa sangat gugup berada dipangkuan Rendi yang masih belum ingin melepaskannya. Rendi menatap bibir Sahsa yang terlihat basah dan sangat menggoda, perlahan dia mendekatkan wajahnya, semakin dekat......dekat......

__ADS_1


Seperti terhipnotis, Sahsa tidak menolak. dia memejamkan mata saat merasakan hembusan nafas Rendi yang terdengar berat menyentuh kulit wajah nya. mengingat posisi mereka sangat dekat nyaris tanpa jarak. tinggal satu centi lagi bibir mereka menyatu, namun segera buyar ketika terdengar Suara.


"Tuan apakah Anda sudah siap?" tiba-tiba sopir Rendi masuk.


"Sial."" umpat Rendi dalam hati kesal, melirik sopir.


"Ma...maaf Tuan, Nona. aku tidak sengaja." Ucap pak sopir menyadari kesalahannya.


Sementara Sahsa langsung turun, dia benar-benar malu. dan langsung merapikan penampilannya , sehingga membuat nya bertambah cantik dimata Rendi yang tengah kasmaran masih menatap kearah nya.


Mereka berjalan masuk ke Mobil, yang langsung meluncur meninggalkan kontrakan kecil, membelah jalanan ibukota menuju sebuah rumah sakit  Elizabeth, kepunyaan keluarga Arya.


"Kenapa dengan ku sekarang, perasaan indah ini mengalir begitu saja. seumur hidupku belum pernah jatuh cinta, termasuk pada laki-laki yang menghamiliku. tapi tuan Rendi gorila kurus ini? mampu membuat ku merasa nyaman, tenang dan jantungku pun seakan ingin copot berada didekatnya. . sentuhan nya..... aahh..tidakkkkk....aku tidak boleh jatuh cinta... mereka tidak mungkin menerimaku dan menganggap aku hanya menginginkan harta dari laki-laki cacat ini." Sahsa perang bathin dengan perasaan nya sendiri.


Sampai dirumah sakit yang dituju, Sasha melakukan pemeriksaan dengan dokter ahli kandungan, yang mengatakan jika bayinya sehat-sehat saja, dan sakit yang dirasakan Sahsa hanya lah cram perut biasa.


Rendi berusaha menyembunyikan perasaan haru, begitu  melihat layar monitor USG dihadapannya. Sehingga spontan dia mencium lembut kening Sahsa.


“Selamat Sha, bayiku sangat sehat.” Ucap Rendi.

__ADS_1


“I..Iya” jawab Sahsa gugup bercampur bahagia, karena tanpa sadar cinta dan perasaan nya sudah mulai tumbuh untuk Rendi.


Sopir membantu mendorong kursi roda Rendi, sementara Sahsa berjalan pelan disampingnya.


“Rendi.” Ucap Sanum yang juga sedang periksa kehamilan nya yang juga mulai terlihat membesar dibandingkan sahsa yang masih tidak terlihat.


“Sanu.”


“Kamu sendirian, mana Arya?” tanya Rendi.


“Mas Arya sedang ada rapat besar, sehingga aku melakukan pemeriksaan kesini ditemani Mami Melinda.” Jawab Sanum tersenyum ramah menyapa Sahsa yang berdiri disebelah Rendi.


“Ada nak Rendi juga, kamu apa kabarnya nak.” Ucap Melinda yang tiba-tiba muncul dari arah samping, karena habis berbicara melalui ponsel dengan seseorang.


“Beginilah Tante.” Ucap Rendi melirik kursi roda nya.


“Kamu harus semangat nak, Tante yakin kamu pasti bisa sembuh. Dan harus Tetap rajin terapi dan minum obat.” Ucap Melinda.


“Iya Tante, terimakasih.” Balas Rendi.

__ADS_1


“Pasti gadis cantik ini calon istri mu ya?” tunjuk Melinda kearah Sahsa sambil tersenyum ramah menyapa.


__ADS_2