
Rendi terlihat bersemangat mengikuti terapi, bahkan dia menyetujui usulan dari maminya Berliana. untuk melakukan pengobatan terbaik keluar negeri. setelah mempersiapkan semua nya, Sahsa ikut terbang ke negeri Paman Sam, tak terkecuali kedua orang tua Rendi.
Mereka sengaja memilih Rumah Sakit besar dengan peralatan medis yang super cangih, dan juga memiliki spesialisasi khusus untuk kasus kasus sulit. tanpa pertimbangan lokasi dan keberadaan nya, Mount the La rose medical Center, new York.
Beberapa hari melakukan terapi dan perawatan, Berliana dan Sahsa sudah merasa lega. kesehatan Rendi sudah menunjuk perkembangan yang bagus, meskipun dia masih menggunakan kursi roda. menurut dokter disana sel sel saraf belakang Rendi, sudah mulai berfungsi tinggal proses terapi selanjutnya.
Arya ikut bahagia, mendengar perkembangan kesehatan Rendi sahabat nya. dengan terus memberikan dukungan dan semangat untuk Rendi. dan meyakinkan nya jika Rendi pasti bisa untuk disembuhkan.
Sementara dipulau terpencil, nasip Zein dan Jeniffer masih penuh dengan petualangan yang menantang keselamatan mereka berdua. tanpa pikir panjang lagi, Jeniffer langsung berenang berusaha untuk mengambil papan surfing, meskipun sedikit kewalahan karena arus ombak yang deras. namun dia berhasil menggapai papan yang mengapung dipermukaan air laut tersebut.
“Yes aku berhasil.” Ucap Jenni penuh semangat dan sangat senang sekali.
__ADS_1
Dia melirik kearah Zein sambil memberikan Kode dengan bahasa isyarat jika dia sudah berhasil mendapatkan nya. Zein ikut tertawa bahagia. paling tidak mereka mersa sudah mempunyai harapan yang kuat untuk segera keluar dari tempat ini.
Jeniffer naik keatas papan surfing, mencoba kembali olahraga yang pernah dilakukan nya dulu, meskipun beberapa kali sempat jatuh namun Jeni kembali berhasil.
“Ternya aku masih bisa melakukan nya, mungkin aku bisa mengunakan nya lebih ketengah lagi. Agar bisa meminta pertolongan pada kapal nelayan itu.” Gumam Jeniffer sambil mengumpulkan keberaniannya.
“Hey tolong Kami,” teriak Jeniffer sambil sesekali melambaikan tangannya kearah kapal nelayan. arus ombak membuat Jeniffer kewalahan, sementara Zein sudah panik dengan kecemasan yang teramat sangat memikirkan keadaan Jeni yang berusaha keras melawan arus ombak.
“Jeniffer..... Jeniffer....,” Zein mengusap kasar wajahnya.
“Hey lihat, itu seperti orang yang sedang membutuhkan pertolongan.” Ucap seorang awak kapal yang melihat Zein yang panik sambil melambai-lambaikan tangannya di atas perbukitan batu karang.
__ADS_1
“Ayo kita segera kesana.” Kapal itu pun mendekat kearah Zein, mereka tidak melihat Jeniffer yang kesusahan tenggelam dan kembali berusaha menggapai papanya yang sempat terlepas.
“Kamu siapa? Dan kenapa berada dipulau terpencil ini sendirian?” tanya mereka sambil mendekati Zein yang terlihat panik.
“Ceritanya panjang, cepat kalian tolong Kami, lihatlah temanku kesusahan melawan arus di tengah-tengah lautan itu. Aku tajut dia kehabisan tenaga dan menyerah.” Ucap Zein.
“Ayo cepat, kita harus segera menyelamatkan gadis itu.” Ucap nakhoda kapal yang langsung menambah kecepatan kapal nya mendekati Jeniffer.
Jeniffer jatuh tangan nya yang lemah berusaha untuk mempertahankan papan sambil memeluknya erat.
“Aku tidak sanggup lagi. Air laut ini tersa begitu dingin hingga membuat ku lemas tidak bertenaga.” gumamnya. Tanpa sadar papan yang dipeluknya terlepas. Dibawa arus air laut.
__ADS_1
Seiring dengan tubuh Jeniffer yang terasa melayang jatuh kedasar lautan. Dia memejamkan mata nya. Jeniffer mersa hidupnya sudah berakhir karena tidak akan ada seorang pun yang akan memberinya pertolongan disaat seperti ini. Untuk berusaha naik keatas dia tidak mampu lagi meskipun dia masih berusaha untuk bernafas dalam air seperti ilmu berenang yang pernah dipelajari nya.