One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Kondisi Sanum sesungguhnya


__ADS_3

Suara kicauan burung yang saling bersahutan, seakan-akan memberikan nyanyian yang teramat merdu bagi tidur Arya dan sanum. mereka yang saling memeluk Davina ditengah-tengahnya. pantulan cahaya matahari yang malu-malu masuk menerobos celah ventilasi kamar villa mewah ini. mengenai kulit wajah dan mata Davina, perlahan gadis kecil itu mengeliat sambil mengucek matanya yang silau, dilirik nya kanan dan kiri kedua orang tuanya masih tertidur pulas.


"Pagi mama....Muuuacch....,"


" Pagi papa..., Muuuacch....,"


Putri Davina melayang kan ciuman hangat di pipi Mama dan papanya, sehingga membuat Arya ikut terbangun, sementara Sanum masih merajut mimpi indahnya dengan membalikkan badannya sehingga posisi nya lebih merapat ketubuh Arya, dengan santai nya Sanum membenamkan wajahnya di dada bidang Arya. melihat tingkah Sanum refleks Arya menatap Davina yang senyum-senyum.


"Sayang, sejak kapan Mamamu pindah kekamar ini?" bisik Arya.


Davina mengangkat bahunya, menandakan jika dia juga tidak mengetahui sama sekali, karena begitu bangun Sanum sudah memeluk tubuh kecilnya dari sisi sebelah kanan.


Arya bingung harus menolak atau membiarkan saja, karena penolakan Sanum semalam membuat nya sadar, jika mereka belum memiliki ikatan yang sah di mata agama dan hukum. sementara Sanum semakin mengeratkan pelukannya, karena dipikiran Sanum saat ini adalah Davina putrinya bukan Arya.


Davina turun dari tempat tidur, berlari menujun jendela kaca sambil menikmati pemandangan luar yang sangat indah dan cerah, setelah hampir dua hati ini diterpa hujan badai.


"Papa dini." teriak Davina memangil Arya agar mendekatinya.


"Sebentar sayang," Ucap Arya sambil memperbaiki posisi tidur Sanum, namun semakin dia meregangkan pelukan Sanum, semakin kuat Sanum memeluknya. bahkan Sanum menghimpit paha Arya dengan mengunakan pahanya. membuat Arya kewalahan melawan akal sehatnya saat ini.


"Papa cepat sini," teriak Davina kegirangan, dengan volume suara yang lebih kencang. saat melihat sepasang burung yang sangat cantik dengan sayap-sayap yang indah, bertengger di sebuah pohon tanaman hias, yang sengaja diletakkan di balkon.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaaaa...,"


Kali ini suara teriakan Davina, ampuh membangun kan mamanya Sanum. dia langsung membuka mata, lalu berteriak kaget begitu tahu tengah mendekap tubuh Arya yang terlentang disebelah nya.


"Mas Arya, kamu benar-benar kelewatan. semalam aku sudah memohon untuk jangan menyentuh ku lagi, tapi kamu tidak pernah mau mengerti perkataan dan perasaan ku yang diperlukan sesuka mu ini. Tuan arogan yang terhormat." Ucap Sanum penuh emosi.


Perkataan Sanum membuat Arya sedikit tersinggung, karena kali ini bukan kesalahan nya melainkan Sanum.


"Hey bangun...kamu jangan terlalu lama bermimpi Nona. lihatlah disekelilingmu dikamar siapa kamu sekarang? ingat juga posisi tidurmu barusan yang lebih dahulu memeluk tubuhku." bentak Arya kesal sambil berdiri melangkah mendekati Davina.


Sanum menunduk malu, ketika sadar jika dia tengah berada dikamar Arya.


"Bodoh....bodoh kamu Sanum, seharusnya semalam kamu langsung membawa Davina pergi dari kamar ini, tapi malah ikutan ketiduran. memeluk Arya lagi.... aduuuuh malunya." gumam Sanum sambil berusaha untuk kabur meninggalkan kamar Arya.


Arya yang mengetahui jika Sanum tengah bersembunyi, mengulum senyum.


"Davina, berhubung cuacanya sangat cerah. kita berwenang yuk?" bisik Arya.


"Mau...mau pa."


Arya dan Davina mengunakan Pakaian renang, dan mulai bersantai di kolam renang yang terdapat dilantai dua. dia memasangkan melambung bebek ditubuh Davina.

__ADS_1


Sanum sempat melongo melihat bentuk tubuh sispek dan atletis Arya, dia tidak sadar jika langkah kakinya sudah terayun perlahan kearak kolam renang.


"Mama ayo cepat sini." teriak Davina kegirangan Melihat kedatangan sang Mama.


" Davina sayang, sini ikut Mama. Ngak baik pagi-pagi sudah berenang." Ucap Sanum, sementara Arya sengaja pura-pura cuek mengabaikan Sanum yang terlihat masih malu-malu.


"Asyik lho ma," Ucap Davina menjulurkan tangan nya kearah Sanum, meminta supaya mamanya ikutan berenang.


Sanum yang mengira Davina ingin ikut dengannya, menjulurkan tangan. tanpa diduga karena posisi yang tidak tepat Sanum jatuh kedalam kolam. dia kesusahan untuk tidak tenggelam karena sama sekali sanum tidak bisa berenang.


Arya kaget dan langsung menarik Sanum dan menaikan nya ketepi.


"Sanum....sanummmm banguuuunn....." Arya mencoba mengeluarkan air yang sempat masuk ketubuh Sanum. sementara Davina terus menangis.


"Maafkan aku Sanum, aku tidak tahu jika kamu tidak bisa berenang." Ucap Arya.


Sanum sudah bisa bernafas normal, namun dia terlihat masih lemas dan syok. sehingga Arya menghubungi Zein untuk mengantarkan dokter segera.


Arya terpaksa mengantikan pakaian Sanum, dan menidurkan dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. setelah dokter datang dan memeriksa Sanum. dokter pun keluar dan meminta berbicara empat mata dengan Arya, mengenai kondisi Sanum yang sesungguhnya.


"Bagaimana keadaan Sanum dokter?" Ucap Arya terlihat tidak sabaran lagi.

__ADS_1


"Kondisi nya sudah stabil, cuma dia sekarang sedang...?" dokter menghentikan ucapannya, dia ragu untuk berterus terang takut Arya akan marah, mengingat setahunya mereka belum terikat pernikahan.


"Maksud mu sedang apa? jangan berbelit-belit jika kamu masih mau dipanggil dokter." bentak Arya.


__ADS_2