
"Hhhuuuaakk.... Hhhuuuaakk....," Sanum meringkuk didepan Westafel, keringat dingin membasahi tubuh mungilnya. pandangannya mulai buram, sekuat tenaga dia ingin menyeret langkah kaki yang gemetar itu Menuju ranjang. tapi baru beberapa langkah dia kembali membalikkan badannya menuju wastafel seakan-akan dia ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya yang terus mendesak ingin segera dikeluarkan.
"Aaagghh....muaaggg..huaaakk," nafas Sanum turun naik, dia masih tersengal-sengal, tenaga nya terasa begitu lemah. perlahan dia mencuci wajah dan mengangkat kepala sambil memperhatikan pantulan wajahnya yang terlihat pucat, pada cermin besar yang ada dihadapannya saat ini.
"Ya Tuhan, kenapa dengan diriku?. sekarang aku begitu sering merasakan pusing dan mual, apa aku hamil anaknya Arya kembali, tidak.... tidaaaakkk........." teriak Sanum sambil memejamkan matanya.
berusaha keras untuk mengiusir pikiran buruk yang menghantuinya.
Suara teriakan Sanum mengagetkan seisi rumah besar tersebut, sehingga dalam waktu singkat semua sudah berkumpul diruang kamar Sanum.
"Sanum kamu kenapa sayang?" Melinda mulai cemas.
Perlahan Sanum membuka mata nya, dia langsung terlonjak kaget begitu melihat semua orang berkumpul dengan tatapan heran kearah nya. Sanum membulatkan matanya sehingga terlihat begitu imut dan cantik.
"Mama...., Mama.....Mama..." teriak anak-anaknya berlari menghampiri mamany.
__ADS_1
"Mama cenapa teliak-teliak?"
Tiga bocah itu saling berebut untuk duduk di pangkuan mamanya, mereka belum mengerti dengan keadaan Sanum yang masih lemas. namun Sanum tidak menunjukkan hal itu terhadap anak-anaknya, dia berusaha untuk kuat, saat Devan dan Revano duduk dipangkuan nya, sementara Davina memeluk pundak nya dari arah belakang.
"Iya nak, kamu kenapa dan wajahmu terlihat sangat pucat?" Ucap Melinda khawatir.
"Sa...Sanum ngak papa kok mi. cuma ...cuma mimpi buruk saja." Ucap Sanum menyembunyikan ketakutan dan kegundahannya.
"Ooo syukurlah nak, kirain kamu sakit," Ucap Melinda Akirnya.
"Ngak papa kok Oma." jawab Sanum.
Semua kembali meninggalkan Sanum, sekarang dia kembali sendirian dikamar yang cukup besar dan luas itu.
"Aku harus bagaimana sekarang, aku takut terjadi sesuatu?," Sanum berfikir keras untuk mengingat kembali moment saat dia dan Arya melakukan hubungan itu tanpa adanya pengaman.
__ADS_1
Meskipun saat itu dia dan Arya melakukan nya dalam keadaan terpengaruh obat dari minuman yang sudah dicampur oleh Arya, tapi Sanum dapat dengan jelas mengingat semua nya.
"Aku harus memeriksa kan diriku, tapi bagaimana cara nya?, aku takut mami Melinda dan Oma curiga, dan menganggap ku sebagai wanita kotor jika seandainya hasil pemeriksaan ku nantinya sesuai dengan apa yang aku takutkan sekarang. bagaimana jika dia membenciku dan anak-anak. sementara ketiga anak-anak ku sudah mulai betah dan sangat bahagia untuk tinggal disini. karena Mami Melinda dan Oma sangat memanjakan mereka bertiga." gumam Sanum
Tok...tok...., Nona Sanum. apa boleh kami masuk?" terdengar suara ke pala pelayan mengetuk pintu kamar Sanum.
"Boleh silahkan, pintu nya tidak dikunci." jawab Sanum dari dalam kamar, dia tidak mempunyai tenaga lagi untuk berjalan menuju pintu.
Cekklek....., nampak pelayan mendorong troli berisi segelas susu coklat panas, serta makanan yang sangat menggugah selera makan Sanum.
"Nona silahkan sarapan, setelah itu Anda lanjutkan istrahat dikamar saja." Ucap pelayan yang mengatakan sesuai perintah Melinda.
"Iya terimakasih," Ucap Sanum menerima troli berisi beraneka makanan.
Setelah Pelayan pergi dan menutup pintu kamarnya, Sanum mulai meminum susu coklat, mengingat isi perutnya yang kosong. dan mulai menyicipi makanan itu, namun belum beberapa suap Sanum kembali menyeret langkah kaki nya menuju Westafel dan memuntahkan semua nya kembali.
__ADS_1