
"Mudah-mudahan saja aku menemukan cara dan jalan keluar dari tempat ini?" harapan Zein sambil terus mengayunkan langkah kakinya.
"Ayo ponsel, cepat temukan signal."
Zein mengangkat tinggi-tinggi ponselnya, berharap bisa mendapatkan jaringan seluler. Namun harapannya sia-sia belaka saat menatap tulisan.
“No signal”
Tulisan itu, yang selalu muncul dilayar utama ponsel mahal kesayangannya.
“Aku harus mencoba keatas , sapa tahu bisa mendapatkan jaringan.” Gumam Zein Sambil terus mengangkat tangannya berharap bisa menghubungi seseorang dan mengirimkan mereka bantuan secepatnya. dia berjalan menuju sebuah bukit bebatuan karang. tanpa sadar Zein menginjak batu hingga membuatnya tergelincir.
"Aaaaawww ... aaaagghhh....Zein berhasil berpegangan pada akar kayu, dan kaki bawahnya mampu bertumpu pada batu karang. Zein melirik kebawah yang hampir membuat nya pingsan.
"Ya Tuhan, jika aku jatuh kebawah. mungkin Tamat lah riwayat ku saat ini." gumam Zein, begitu melihat jurang yang sangat tinggi, dibawah sana juga sudah menanti bebatuan karang yang tajam dan ombak yang siap menghempaskan tubuhnya.
__ADS_1
Dengan gerakan pelan namun pasti, Zein berhasil kembali keatas. "Alhamdulillah, ya Allah ternyata engkau masih memberikan ku kesempatan untuk hidup." Ucap Zein disela-sela nafasnya yang masih ngos-ngosan.
“Seperti nya kami akan mati sia-sia dipulau terpencil ini. jika tidak ada yang menemukan dan menolong kami” Zein terhenyak lemas, tubuh dan pikiran nya terasa begitu capek. diliriknya ponselnya madih tergeletak.
"Syukurlah ponselku tidak jatuh kebawah, meskipun saat ini posisi letaknya sangat tidak memungkinkan untuk aku menggapainya." menatap ponsel tersebut sambil berfikir bagaimana cara untuk mengambilnya, Zein tidak ingin kejadian barusan terulang kembali.
"Aku harus memikirkan cara, untuk mengambil benda itu." berusaha mencari ranting pohon dan menggeser secara perlahan ketempat yang aman.
"Berhasil." Ucap nya tersenyum senang.
“Hey tolong Kami.....,”
Teriak Zein sekencang mungkin, sambil berlari mengambil pakaian nya yang semula dia gantungkan pada sebuah kayu panjang dan mengibar-ngibarkan keudara, berharap kapal nelayan yang terlihat masih jauh itu, Melihat dirinya yang sangat membutuhkan pertolongan saat ini.
“Hey aku disini....tolong, apa kalian tidak mendengar ku.?” Teriak Zein semakin meninggikan suaranya.
__ADS_1
“Haaagh....” Zein kembali terhenyak, rasa putus asa tiba-tiba membuat semangat nya memudar. Saat melihat kapal nelayan itu sama sekali tidak meresponnya sama sekali, bahkan kapal itupun sudah mulai menjauh lagi.
Rasa lapar yang teramat sangat, bercampur lelah membuat tenaga Zein lemas. Dia merebahkan tubuhnya dibawah pohon dengan Udara lepas dan sangat sejuk, membuat Zein tanpa sadar tertidur pulas. Dia melupakan Jennifer yang menunggu nya sendirian di gubuk kosong tidak jauh dari posisi nya sekarang.
“Om Zein kemana ya?”
Jeniffer mulai resah dan ketakutan, ditambah lagi bunyi suara binatang-binatang hutan, membuat nya memegangi tengkuk sambil bergidik ngeri.
“Kenapa Om Zein lama banget? Apa dia pergi dan meninggalkan aku sendirian di tengah-tengah hutan pulau kosong ini. Tidaaaakkk.... Jeniffer tidak mau mati sia-sia....Mami...Papi... Jeniffer menyesal tidak mendengarkan nasehat kalian. Jeni mau pulang hu... hu....” Ucap nya kembali menangis.
“Om Zein....Om Zein dimana?” teriak Jeniffer berjalan keluar kearah pantai, sambil kebingungan karena dia tidak melihat sosok Zein disekitaran pantai pasir putih itu.
“Om Zein jahaaaat...dia meninggalkan Jenni sendirian..hu...hu...” mata Jeniffer sudah sangat sembab karena kebanyakan menangis.
Karena tidak bisa mengendalikan emosi dan kesedihan nya, serta rasa takut yang tetus menghantui. Membuat Jeniffer menangis layaknya anak kecil. Kaki nya menghantam-hantam pasir dihadapannya. Hingga kakinya seperti menendang sebuah benda bulat yang sangat keras. Membuat tangisnya terhenti.
__ADS_1
“Benda apa itu?”