
"Natasya bangun...," semua terlihat panik.
"Sebaiknya, kita langsung bawa dia kerumah sakit." usul Davina sambil menyuruh Aldo untuk menyiapkan mobil, sementara Davina, Vita dan pelayan membantu mengangkat tubuh Natasya yang terkulai lemah. lalu memasukkan dan menidurkan nya didalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit, Davina terlihat cemas melihat kondisi sahabatnya. diapun menghubungi kedua orang tua Natasya untuk segera menyusul kerumah Sakit.
"Baiklah Vina, kami sebentar lagi sampai, kamu tolong jaga Natasya dulu ya nak. dan beri dia perawatan terbaik." ucap Mama Natasya.
"Ya Tante." balas Davina.
Sampai dirumah sakit, Natasya langsung mendapatkan penanganan secepatnya dari dokter yang memeriksa. sementara Davina dan teman-temannya terlihat resah menunggu didepan ruangan dokter.
"Mana kedua orang tua pasien?" ucap dokter keluar dari ruangan nya.
"Masih dalam perjalanan menuju kerumah sakit ini dok." balas Davina. yang tidak menyadari jika kedua orang tua Davina dudah sampai, mereka berjalan tergesa-gesa menuju ruangan dokter.
"Kami kedua orang tuanya, dok." ucap papa Natasya.
"Silahkan masuk, ada hal penting yang ingin saya sampaikan mengenai Putri bapak dan ibu." ucap dokter seperti merahasiakan sesuatu dari teman-temannya Natasya.
__ADS_1
"Baik dok." kedua orang tua Natasya ikut masuk keruangan dokter.
"Semoga tidak terjadi apa-apa ya sama Natasya." ucap Davina.
"Iya Vin, mana perasaanku tidak enak dari semalam." ucap Vita yang mondar-mandir kayak setrika.
"Aldo, tolong beritahu Mama ya. jika kita pulang telat." ucap Davina pada Aldo yang duduk tidak terlalu jauh dari posisinya.
"Ya Davina." balas Aldo mengeluarkan ponselnya.
Sementara diruang dokter, Mama Davina langsung pingsan karena syok. sementara papa mengepalkan tinju geram. begitu mendengar keterangan dokter mengenai kabar buruk yang menimpa Putri mereka satu-satunya.
Mama Natasya kembali tersadar, setelah diberi pertolongan oleh dokter. dia kembali menangis.
"Apa dokter tidak salah denga hasil pemeriksaan dokter barusan?" ulang Mama kembali disela-sela isak tangisan nya.
"Tidak Nyonya, Putri Anda benar mengalami trauma dan tekanan. karena kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup nya. berdasarkan hasil visum kami ini, Anda bisa menjerat pelakunya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi ingat!! jangan paksa Putri kalian untuk mengaku atau mengingat kejadian buruk ini. beri dia ketengan dan kenyamanan dulu selama proses perawatan dirumah sakit ini, sampai kondisi dan trauma berkurang dan dia bisa berfikir secara jernih." terang dokter.
"Baik dokter, terimakasih atas semuanya." ucap Mama.
__ADS_1
"Pa, kita harus mencari informasi dari teman-temannya, aku yakin pasti pelakunya masih teman-teman satu sekolahnya. karena ibu hafal jika anak kita tidak pernah bergaul dengan orang-orang baru dikenalnya diluaran sana." ucap mama mengusap air matanya.
Davina, Vita dan Aldo ikut masuk keruangan dokter. setelah bdokter memberi izin untuk menanyakannya permasalahan itu secara langsung pada teman-teman terdekatnya.
Aldo yang ikut masuk langsung menundukkan kepalanya, begitu tatapan tajam dari papa Natasya langsung tertuju padanya. dengan tangan mengepal geram siap melayangkan pukulan nya.
"Ada apa ya dok, Tante dan Om?" tanya Davina garam karena mereka disuruh masuk dan langsung dihadapkan pada wajah tegang, marah dan sedih dari mereka bertiga.
"Davina hu...hu.." Mama langsung menghambur memeluk tubuh Davina.
"Tenanglah Tante." Davina mengusap punggung Mama dari sahabatnya itu.
"Tante tidak akan bisa tenang, sebelum mengetahui laki-laki yang telah merusak Natasya anak Tante hu...hu....dia telah menodai Natasya ku." ucap Mama menangis.
"Astaghfirullah." ucap Davina ikut syok.
"Farrel benar-benar bresengsek, penjahat kelamin masih sekolah sudah pengen ***- ***." ucap Vita.
"Farrel, siapa dia. apa laki-laki ini." papa menunjuk Aldo yang langsung terlonjak kaget.
__ADS_1
"Bukan....bukan om, tapi teman satu sekolah kami." terang Aldo gemetaran.