
Setelah melihat Arya keluar, Sanum mulai mencuri-curi pandang pada makanan lezat dihadapannya. banteng pertahanan nya mulai goyah, beberapa kali dia menarik salivanya yang ingin menetes.
Banyak perubahan yang dirasakan Sanum pada dirinya, namun dia tidak mempermasalahkan hal itu karena dia yakin jika sedang tidak hamil anaknya Arya.
"Kalau aku mencicipi makanan ini sedikit, mungkin tidak akan ada yang tahu." gumam Sanum.
Perlahan dia Mulai mengambil potongan daging dan memakannya sambil menyembunyikan mulutnya yang mengunyah dengan telapak tangan.
"Oh Tuhan...enak banget," Sanum semakin berani mengambil dan mencicipi satu persatu makanan itu. hingga tanpa sadar dia hampir menghabiskan nya.
Arya tidak tahan melihat ekspresi wajah dan gaya makan Sanum, dia tertawa lepas sambil menyaksikan nya melalui rekaman cctv yang terhubung dengan layar ponselnya.
"Ayo anakku Sayang kita temui mamamu." Ucap Arya sambil mengendong Davina menuju kamar Sanum.
"Mama," terdengar suara nyaring Davina begitu masuk kekamar Sanum.
"Davina, Arya....?"
Sanum langsung kebingungan, wajahnya berubah menjadi udang rebus begitu tertangkap basah sedang asyik makan.
__ADS_1
"Seperti nya ada yang tidak lapar? tapi ini seperti nya bukan lapar lagi, tapi kelaparan." Ucap Arya sambil tertawa.
Sanum sangat kesal dan malu, ingin rasanya dia mencakar Arya dengan jurus kucing garong. tapi dia tidak bisa berbuat apa, mengingat dimulutnya masih ada makanan. tanpa banyak bicara Sanum langsung berlari menuju Westafel mengeluarkan sisa yang ada dimulutnya.
Setelah itu Sanum bernalik mendekati Davina, yang juga berlari kearahnya.
"Davina sayang, disini saja ya sama Mama. jangan dekat-dekat dengan orang lain. ntar Davina diculik." bisik Sanum namun terdengar jelas oleh Arya.
"Kalian berdua sudah aku culik, jadi tidak perlu merasa khawatir apalagi sampai berniat untuk kabur dari pulau ini." Ucap Arya.
"Iya pa?, tapi Davina suka kok diculik papa karena Davina betah tinggal disini." Ucap gadis polos itu.
"Terimakasih nak, papa bahagia sekali mendengar nya jika Davina suka tinggal disini." mencium kedua pipinya.
"Apa? Davina memanggilmu dengan sebutan papa?" tanya Sanum seolah-olah tidak percaya.
"Iya lah, karena dia sah sebagai putri kandung ku," Ucap Arya penuh kemenangan.
"Sanum jika kamu masih bersikeras, terpaksa aku menempuh jalur lain. agar kamu tidak keras kepala lahi." Ucap Arya tegas yang ampuh membuat Sanum bergidik.
__ADS_1
"Tidak....aku tidak ingin kehilangan anak-anakku, sebaiknya sekarang aku menurunkan egoku demi mereka bertiga. Tuan Arya aku akan mengikuti permainan mu." gumam Sanum pasrah.
"Apa kamu masih ingin meringkuk dikamar ini, atau ikut dengan ku jalan-jalan mengelilingi Villa." tawar Arya.
Sanum tidak menjawab, namun dia mengikuti langkah Arya dari belakang. nampak sekali wajah ceria Davina dalam gendongan Arya. yang membuat rasa bersalah di hati Sanum.
"Maafkan Mama nak, bukan maksud Mama memisahkan mu dengan papamu selama ini. Mama hanya ingin melindungi dan takut kehilangan kalian bertiga." Sanum mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
Dia terus berjalan sambil menunduk, mengikuti langkah Arya dari belakang. Sanum tidak sadar jika Arya tengah berhenti sehingga dia langsung menabrak tubuh tegap dihadapannya.
"Bruuuaggkk....uups maaf." jawab Sanum tergagap, sambil berusaha berdiri dengan normal kembali. Arya sengaja mendongak tubuh agak kedepan, sehingga membuat Sanum oleng dan hilang keseimbangan. Dengan sigap tangan kokohnya menaraih pingang Sanum dan jatuh kedalam pelukannya. mengapit Davina ditengah-tengah nya.
Pandangan mata mereka seketika bertemu, Arya terpesona dengan kedua bola mata Sanum yang hitam bulat, tatapan lembut yang selama ini selalu dirindukan nya, begitu juga dengan Sanum. dia mersa begitu nyaman dan tenang berada dalam dekapan tubuh Arya, perasaan ini benar-benar indah sang sulit diungkapkan oleh Sanum.
Davina menatap Bingung kearah Mama dan papanya, kemudian gadis kecil itu tersenyum.
"Muuuacch.... muuuacch Davina melayangkan ciuman lembu kepipi Mama dan papanya, sehingga kedua tersadar dan segera menguasai keadaan kembali.
"Duh...mata Arya, sentuhannya membuat perasaan ku benar-benar tenang dan nyaman.... Sanum kamu tidak boleh terlena dan tergoda dengan mudah. itu hanyalah siasatnya untuk merebut milikmu...Sanum"
__ADS_1
Sanum berusaha untuk mengendalikan perasaannya, namun semakin dia berusaha semakin kuat pesona seorang Arya menguasai hati dan pikiran nya.