One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Kerjasama


__ADS_3

Disalah satu ruangan Rumah sakit, Rendi masih terpaku duduk dikursi roda dengan pandangan yang terlihat kosong dan putus asa. meskipun wanita yang duduk disebelah nya nampak jauh lebih tegar, berusaha untuk terus memberikan semangat untuk suaminya.


"Mas Rendi, kita lanjutkan lagi ya." bujuk Sahsa yang tidak ingin Rendi menyerah untuk melanjutkan terapi nya.


"Percuma Sha, sudah beberapa bulan kita disini. kondisiku masih seperti ini. padahal dokter sudah mengatakan jika saraf-saraf tulang belakang ku sudah mulai bekerja dengan normal. tapi apa hasilnya Sha? aku masih seperti ini ?" Rendi terlihat gusar dan putus asa, wajahnya tertunduk sedih.


"Mas Rendi, yang penting kita berusaha dan semangat. untuk hasilnya nanti biarkan yang diatasnya menentukan nya mas." bujuk Sahsa.


Rendi melirik perut Sahsa yang sudah membesar, sebelah tangan nya tergerak mengelus perlahan-lahan perut istrinya tersebut.


"Mas lihatlah bayi kita menendang-nendang tangan mu, mungkin dia ingin menyemangati ayahnya." balas Sahsa tersenyum manis.


Rendi membungkuk kearah perutnya Sahsa, dan menciumnya penuh perasaan. Rendi merasa sedih melihat dirinya yang masih seperti Ini.


"Sha."

__ADS_1


"Ya mas." balas Sahsa.


"Seandainya kondisi ku masih seperti ini, apa kamu masih bersedia mendampingi laki-laki cacat yang hanya mampu duduk dikursi roda ini." Rendi kembali tertunduk lesu.


"Tentu mas, perasaanku tidak pernah berubah masih sayang dan mencintaimu sampai kapanpun." Sahsa membalas tatapan suaminya.


Rendi tersenyum lega, setelah melihat kesungguhan Sahsa dari tatapan matanya yang penuh dengan kejujuran. bahkan Sahsa tidak peduli dan tidak pernah menuntut dirinya yang masih belum mampu untuk memberikan nafkah batin yang merupakan kewajiban nya selaku suami.


Bahkan Sahsa begitu telaten merawat dan mengurus nya, meskipun Berliana dan Rendi ingin memperkerjakan perawat untuk membantunya, tapi Sahsa lebih suka mengurus Rendi sendiri, karena dia mengerti perasaan suaminya, yang lebih nyaman jika Sahsa sendiri yang mengurusnya.


Sedangkan Berliana sudah kembali pulang, untuk mengurus perusahaan nya yang sedang membutuhkan seorang pemimpin. dan juga suami yang mulai sering sakit-sakitan. sehingga Berliana begitu sibuk dalam membagi waktu.


Pagi ini Berliana mendatangi perusahaan Arya, dia berharap Arya mau menyetujui kerjasama dalam mengurusi perusahaannya yang di indoneia, dan menyatakan niatnya untuk pindah ke Amerika dan tinggal bersama Sahsa dan Rendi.


"Selamat siang Tante." sapa Arya yang langsung menemui Berliana yang tengah menunggu nya diruangan tamu perusahaan nya.

__ADS_1


"Siang Arya." sapa Berliana yang terlihat sedih.


"Ada apa Tante, tumben Tante berkunjung mengingat jadwal Tante yang selalu sibuk." ucap Arya mencoba mencairkan suasana.


"Arya Tante sangat membutuhkan pertolongan mu nak."


"Maksud Tante?"


"Tante ingin pindah ke Amerika, biar total dalam membantu Sahsa untuk merawat Rendi, berhubungan dengan Sahsa yang tengah hamil besar. Tante khawatir dengan mereka. tapi Tante juga tidak bisa meninggalkan perusahaan tanpa ada pemimpin yang tepat dan bisa Tante percaya Arya." ucap Berliana.


Arya mengangguk pelan, dia sudah sangat paham sekali dengan maksud Berliana sekarang. tapi Arya juga bingung mengingat dia juga sangat kewalahan semenjak Zein keluar dari perusahaan nya.


"Tante Arya mengerti, mungkin Arya akan menambah beberapa orang asisten untuk membantu perusahaan-perusahaan ayar berjalan normal, namun aku tetap harus memantau mereka." ucap Arya.


"Bagus sekali nak, Tante setuju." balas Berliana senang karena Arya akirnya mau membantu.

__ADS_1


__ADS_2