One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
No signal


__ADS_3

"Villa ini benar-benar mewah, penuh ketenangan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, tapi ini dimana? aku seperti tidak mengenali sama sekali tempat keberadaan ku saat ini?" gumam Sanum.


Sanum lebih banyak diam, sambil terus memperhatikan lokasi sekeliling yang sempat dia lewati. Berbagai pertanyaan bermunculan dibenaknya.


"Untuk apa dia menculik kami ketempat yang begitu jauh, sepertinya sulit untuk aku pergi dan kabur dari tempat ini. mengingat tidak ada akses untuk keluar. tempat ini jauh dari pemukiman penduduk dan terle


tak ditepi pantai pasir putih." Sanum mulai resah namun dia berusaha tenang agar tidak terlihat oleh Arya.


"Aku perhatikan sedari tadi kamu terlihat berfikir keras untuk kabur dari tempat ini, Mmmmhhh.... jangan harap sanum kamu bisa pergi membawa putriku lagi." Ucap Arya dingin.


"Ooootidak Tuan, aku hanya mengagumi tempat ini. Oya Tuan bisakah kamu memberikan ponsel ku, aku takut temanku Nita akan mencemaskan aku dan mencari-cari keberadaan ku." Tutur Sanum.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang mencemaskan mu Sanum, buktinya temanmu langsung pergi meninggalkan bandara begitu dia tidak menemukan mu disana. bahkan dia terlihat tenang dan tidak mencemaskan mu sama sekali, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi." ujar Arya yang menutup semua akses keluar termasuk alat komunikasi.


"Bagaimana ini, aku takut Bu Melinda mengkuatirkan aku. termasuk kedua jagoan kecil ku mereka semua pasti mencemaskan kan aku. aku harus mencari-cari cara untuk bisa berkomunikasi dengan Bu Melinda. agar dia mau membantu ku untuk kabur dari Arya. aku yakin bu Melinda pasti dengan senang hati membantu. mengingat Bu Melinda dan Oma sangat menyayangi anak-anak ku dan mereka pasti tidak ingin Arya juga mengambil Revano dan Devan dari sisi mereka." Sanum tersenyum mersa mendapatkan ide yang sangat cemerlang.


Arya mengajak Sanum duduk disebuah taman, mereka menikmati sore sambil bermain dengan Davina kecil.


"Tuan Arya seperti nya kita dikelilingi air dan tinggal disebuah pulau?" Tanya Sanum memastikan.


"Tuan penculik yang terhormat, jadi kamu membawaku ketempat ini menaiki apa?" Ucap Sanum karena kapal-kapal yang lewat tidak ada yang singgah. bahkan masih jauh dari lokasi mereka.


"Dengan helikopter pribadi ku." jawab Arya santai.

__ADS_1


"Apa?"


Sanum semakin panik, dan langsung pingsan namun dia tak bisa pingsan seperti biasanya. Sanum masih bisa melihat Arya tertawa lepas begitu juga dengan putrinya Davina yang ikut-ikutan tertawa melihat kearahnya.


"Sanum...Kamu jangan mencoba bersikap seperti ini, dikit-dikit pingsan. aku tahu kali ini kamu hanya berpura-pura agar aku bersimpati dan membebaskan mu. jangan harap Sanum." Ucap Arya.


Sanum mersa malu, dia kembali duduk dengan wajah cemberut.


"Kenapa jika didekat Arya, aku tidak bisa pingsan seperti biasanya? perasaan mual dan pusing ku juga hilang jika mencium aroma tubuhnya, bahkan aku tidak muntah-muntah seperti biasanya. makanan yang aku makan tadipun tidak keluar." gumam Sanum memikirkan keanehan itu.


"Kenapa melamun, sekarang apalagi yang tengah kamu pikirkan." tanya Arya.

__ADS_1


"Ti...tidak Tuan, aku hanya mersa bahagia disini karena tempat nya benar-benar indah." Ucap Sanum sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum. harapan nya untuk kabur dan meminta bantuan kepada Bu Melinda pun pupus sudah.


__ADS_2