
"Dimana aku? kenapa akhir-akhir ini aku begitu mudah sekali pingsan?" gumam Sanum kembali tersadar dari pingsan keduanya, dia enggan untuk bangun dari tidurnya. kepala nya masih tersa berat.
"Kamu sedang berada di villa ku cantik," terdengar suara laki-laki yang sangat dikenal Sanum.
"Arya?"
Sanum menatap tajam Arya tengah duduk disamping jendela kaca, raut wajah Arya terlihat tenang tanpa emosi, berbeda dengan Sanum yang terlihat kesal dan marah.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu? seharusnya aku yang marah. karena kamu telah menyembunyikan Anakku selama ini?" nampak pancaran aura dingin dari wajah Arya.
"Anak? dia adalah Anakku, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan mu Tuan Arya yang terhormat." Sanum menekankan nada suaranya.
"Sudahlah Sanum, sandiwara mu tidak berarti lagi sekarang. sebaiknya kamu menyerah dan mengakui semuanya," Ucap Arya.
"Tidak ada yang perlu aku perjelas lagi disini, mana Putri ku Davina kamu sembunyikan.?" Ucap Sanum berusaha untuk bangkit namun tiba-tiba dia kembali ambruk di kasur empuk itu, ketika merasakan sakit akibat cram di bagian bawah perutnya.
__ADS_1
"Hati-hati," Hardian langsung mendekat tangannya terjulur menyentuh pinggang Sanum, namun segera Sanum menepisnya.
"Dengan kondisi tubuh mu yang seperti ini, masih saja keras kepala." Ucap Hardian kesal Melihat Sanum yang masih bersikukuh dengan pendirian nya, meskipun Sanum sendiri sudah tahu saat Arya memperlihatkan bukti tes DNA nya dengan Davina yang menunjukkan hasil 100 persen cocok.
"Mana putri ku, dia pasti sangat membutuhkan ku sekarang?" Sanum tidak menghiraukan ucapan Arya, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar yang luas dan mewah untuk ukuran nya.
"Putri kita sedang diluar bermain dengan pengasuh, dia barusan ikut tidur di sini disebelah mu. saat terbangun dia minta susu dan dilanjutkan dengan bermain." terang Arya.
Sanum sebenarnya ingin langsung berdiri dan mengambil anaknya, namun kondisi nya semakin lemah.
Sanum memalingkan wajahnya, lama-lama menatap wajah tampan itu membuat hatinya luluh dan jatuh cinta.
"Tidak....tidak...aku tidak boleh terpesona pada laki-laki ini angkuh ini, dia hanya menginginkan anak-anakku, setelah mendapatkan apa yang diinginkan nya. dia akan membuangku, seorang gadis biasa seperti ku tidak akan mampu melawan nya nanti. karena uang jauh lebih berkuasa dari segalanya." Sanum perang batin dengan perasaan nya sendiri.
Tok....tok....tok.... terdengar pintu diketuk dari luar.
__ADS_1
"Masuk." Ucap Arya dengan suara baritonnya.
Seorang pelayan wanita dengan pakaian rapi, masuk sambil mendorong troli bersi banyak makanan.
"Selamat datang Nona, silahkan makan." Ucap pelayan itu sambil menyiapkan makanan dengan sangat hati-hati.
"Tidaaaakkk, aku tidak lapar." Sanum mengalihkan perhatian kearah jendela kaca, meskipun saat ini cacing-cacing diperutnya demo minta segera untuk diisi, ditambah lagi selera makan Sanum yang semakin hari semakin meningkat.
"Yakin jika kamu tidak lapar," Ucap Arya mengulum senyum, karena dia sempat menangkap reaksi Sanum saat melihat makanan itu.
Sanum diam, dia berusaha untuk bersikap cuek dan mengabaikan makanan yang sangat mengunggah selera makannya, ditambah lagi cuaca yang dingin. membuat perutnya semakin keroncong ketika bau lezattt itu singgah di hidung nya yang mancung.
"Kruuugghh.... kruuugghh....." terdengar bunyi nyaring yang berasal dari perutnya, namun Sanum masih bersikukuh dengan pendirian nya.
"Dasar keras kepala." gumam Arya pergi meninggalkan ruangan kamar begitu juga dengan pelayan wanita.
__ADS_1