
Setelah melihat kepergian Sanum dan Arya, sementara Berliana juga sudah kembali ke kamar nya. Rendi kembali resah begitu teringat dengan Sasha.
Dia langsung mendorong kursi nya dengan tombol otomatis, menuju arah kamar dimana Sasha masih terbaring. meskipun Sasha sudah mersa tidak apa-apa lagi, namun pelayan tidak memperbolehkan nya keluar maupun melakukan apapun.
"Kenapa kalian tiba-tiba memperlakukan aku begitu baik seperti ini?" Tanya Sasha menatap bingung dua orang pelayan yang menjaganya, sambil memijid pelan tubuh Sasha.
"Ini perintah dari Tuan Rendi, Nona muda."
"Apa Nona muda? hey.... status kuta sama dirumah ini, sama-sama hanyalah seorang pelayan. apa kalian sudah lupa hal itu." Ucap Sasha sedikit kesal.
"Kami tahu, tapi mulai sekarang kamu adalah Nona muda kami." Ucap mereka yang membuat Sasha memijid pelipisnya bingung dan pusing dengan keanehan itu.
"Apa tuan muda Rendi mersa kasihan setelah mendengar kan kisah hidup ku, serta nasip bayi yang tidak berdosa ini. sehingga dia tiba-tiba begitu baik dan sangat perhatian." gumam Sasha mengambil kesimpulan dari sikap Rendi.
Ceklek....pintu kamar tamu terbuka, mengagetkan lamunan panjang Sasha yang mersa masih sedikit pusing dikepalanya. sementara dua pelayan wanita barusan langsung keluar meninggalkan rebdi dan Sasha berdua di kamar mewah khusus tamu dirumah Arya.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan mu sekarang Sasha?” Ucap Rendi khawatir.
“Tuan muda, maafkan aku yang tiba-tiba pingsan. Sehingga melalaikan tugasku.” Ucap Sasha sambil berusaha untuk duduk.
“Sasha jangan dipaksakan, jika kamu merasa kondisi mu masih belum stabil." Ucap Rendi khawatir.
"Aku tidak apa-apa Tuan muda, dan terimakasih atas perhatian mu. tapi maaf aku tidak apa, dan Tuan muda tidak perlu berbelas kasih melihat kehidupan ku yang seperti ini." tutur Sasha.
"Tidak masalah Sasha, Oya Lanjutkan lah istrahat mu, aku keluar dulu.” Rendi memutar tombol otomatis Kurdi rodanya hendak meninggalkan kamar Sasha.
"Percaya lah Sasha, aku tulus membantu mu. seperti perkataan ku tadi ditaman. anggaplah aku sahabatmu." terang Rendi, sambil tersenyum bahagia dia meninggalkan kamar Sasha yang masih termangu.
Rendi mempunyai semangat yang besar untuk sembuh, dia meminum obatnya sendiri. Makan dan minum yang dilakukan nya secara perlahan. Bahkan Rendi berusaha untuk menggantikan pakaian nya. Meskipun dia sedikit kesusahan, namun dia berhasil melakukan dan mengurus dirinya sendiri.
Semua itu tidak terlepas dari perhatian Berliana,
__ADS_1
“Sasha kemana, dan kenapa dia tidak mengurus Rendi dengan baik.” Gumam Berliana berjalan mendekati anaknya.
“Duh anak mami terlihat sangat tampan dan bersemangat begitu bersemangat sekarang ini.” Bisa Berliana sambil mengusap bahu Rendi dan memijid.
“Tentu dong mi, karena sebentar lagi Rendi akan menjadi seorang ayah.”
“Apa seorang ayah???”
Tetiak Berliana dengan mata membulat syok mendengar penuturan Rendi yang spontan. Namun terdengar jelas dan nyata ditelinga Berliana, dimana pendengarannya masih berfungsi dengan sangat baik.
“Aduuuh karena saking bahagianya, aku keceplosan sama mami, yang mungkin belum siap mendengar penjelasan ku nanti.” Gumam Rendi yang mersa bersalah.
“Rendi apa yang kamu katakan barusan, coba ulangi. Mami ingin mendengar nya sekali lagi.” Ucap Mami berdiri dihadapan Rendi, sambil menatap intens mata anaknya, seolah-olah dia ingin memastikan sendiri dari pancaran bola mata Rendi yang sedari kecil selalu ketahuan oleh Berliana jika dia berbohong atau pun menyembunyikan sesuatu.
“Ayo jawab sayang, karena Mami melihat kejujuran di matamu .” desak Berliana.
__ADS_1
“Baiklah mi tapi bukan sekarang, Rendi janji akan menceritakan nya semua pada mami.” Ucap Rendi pasrah.