One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Kepergian Nita


__ADS_3

"Syukurlah Sanum, tidak terjadi apa-apa pada dirimu dan kedua cucu kembar ku yang harus lahir secara darurat. ini merupakan sejarah pertama di keluarga kita." ucap Melinda mengusap sayang rambut Sanum.


"Iya mi, ini semua diluar dugaan kita. padahal mas Arya sudah menyiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari." terang Sanum menatap kedua bayi kembar mereka yang belum diberi nama sama sekali.


"Mama.... Mama....Mama." teriak Davina diikuti kedua kakak kembarnya Devan dan Devano.


"Anak-anak ku sayang." balas Sanum mencium sayang kedua pipi mereka bergantian.


"Kedua Adek Davina cantik-cantik banget ma." teriak Davina terlihat bantusias dan sangat bahagia dari pancaran mata dan ekspresi gadis kecil itu.


"Iya, tapi Davina harus hati-hati dan belum boleh pegang-pegang Dede Bayinya, sabar dulu sayang." bujuk Oma mengingat kan cucu-cucu nya.


"Iya Oma," balas mereka patuh.


Tanpa sadar, Melinda mengusap air mata yang menetes haru bercampur bahagia.


"Tanpa terasa, aku sekarang sudah mempunyai lima orang cucu. aku begitu bersyukur dan sangat bahagia. hidup ku tersayang begitu hangat dan ramai." Gumam Melinda.

__ADS_1


Tiga hari dalam masa perawatan dirumah sakit, kondisi kesehatan Sanum sudah semakin membaik. begitu juga dengan kedua anak-anak kembar Sanum. Dengan hidung serta bentuk mata yang sangat mirip Arya.


Tapi tidak dengan kondisi Nita, dia semakin kritis dan belum juga sadar dari komanya, kedua orang tua Nita hanya bisa menangis dan pasrah melihat kondisi anaknya.


Meskipun Arya sudah memberikan bantuan fasilitas dokter dan obat-obatan terbaik, namun Seolah-olah tidak mampu membantu kondisi Nita yang hanya terbaring.


***


Ceklek pintu ruangan Sanum terbuka, nampak Arya masuk dengan wajah terlihat tegang. berjalan kearah istrinya yang juga menatap heran melihat raut wajah yang terpancar dari suami tercinta nya.


"Mas kenapa wajahmu terlihat tegang seperti ini?" tanya Sanum penasaran.


"Maksud mas apa?"


"Nita, sahabat mu sayang."


"Nita, memang nya Nita kenapa mas?" Sanum mengulang kembali pertanyaan nya.

__ADS_1


"Nita sudah meninggal barusan Sanum,"


"Apa, tidak....tidak mungkin mas... kemaren kami masih sempat bercanda dan ngobrol banyak, ketika dia kerumah mengunjungi anak-anak." tidak percaya mendengar berita yang terasa begitu mendadak itu.


" Dia kemaren kecelakaan bertepatan sewaktu aku mengantarkan kamu kerumah sakit ." terang Arya.


"Jadi korban kecelakaan yang mas katakan itu adalah Nita,"


Ya sayang, mas sengaja menutupi karena mas tidak ingin kamu syok ditambah lagi saat itu kamu kesakitan karena mau melahirkan." terang Arya.


"Nita...hu...hu... kenapa dua pergi begitu cepat mas." tangis Sanum pecah.


"Nita masih dirumah sakit ini, sebentar lagi akan dibawa pulang untuk segera dimakamkan di TPU." ucap Arya memeluk Sanum yang terlihat begitu sedih termasuk Melinda, dia teringat bagaimana baiknya nya yang pernah ikut membantu dan menjaga Davina ketika gadis kecil itu sedang sakit.


"Mama ikut sedih mendengar berita duka ini," Melinda mengusap air mata nya.


"Mas bawa aku bertemu dengan Nita, untuk yang terakhir kalinya." ucap Sanum disela-sela tangisan nya.

__ADS_1


"Baiklah sayang." Arya membimbing Sanum berjalan pelan menuju kamar jenazah, disana terlihat keluarga Nita, mereka terlihat sangat terpukul atas kepergian Nita yang terasa begitu mendadak.


__ADS_2