
“Pasti gadis cantik ini calon istri mu ya?” tunjuk Melinda kearah Sahsa sambil tersenyum ramah menyapa.
“Iya Tante, dialah yang membantu dan menyemangatiku, sehingga aku bisa kembali bangkit dan tidak terpuruk dengan keadaan ini, bahkan aku sudah siap untuk bertemu dengan banyak orang.” Balas Rendi, yang membuat Sahsa semakin bingung dengan sikap nya.
“Oya Tante, Sanu. Kami pergi dulu ya.” Ucap Rendi.
“Iya nak, hati-hati.” Balas melinda sambil mengajak Sanum memasuki ruangan dokter, untuk periksa kehamilan juga.
Dimobil, Rendi duduk bersebelahan dengan Sahsa. Keheningan tiba-tiba menjadi perantara diantara mereka yang lebih memilih diam.
“Sasha.” Rendi mulai berbicara, sebelah tangannya menggenggam lembut tangan Sahsa.
“Ya Tuan muda, ada apa?” Ucap Sahsa sambil berusaha menarik tangannya pelan.
“Maaf tentang kejadian tadi, aku tidak bermaksud meng iya kan. Jika kamu calon istriku, aku hanya tidak ingin...,” Rendi kesusahan untuk menjelaskan.
“Tidak masalah Tuan muda, aku mengerti kok. wanita cantik barusan pasti mantan tunangan Tuan muda dulunya.” Balas Sahsa.
“Dimana kamu mengetahui nya?”
“Nyonya pernah menceritakan sedikit tentang masa lalu Tuan, termasuk memperlihatkan foto wanita bernama Sanum itu.”
“Dia hanyalah masa lalu, sekarang sudah tidak ada lagi dia dihatiku.” Ucap Rendi.
“Karena sekarang, hanya ada kamu Sahsa dan calon anak kita.” Bathin Rendi yang ingin sekali merengkuh tubuh Sahsa kedalam pelukannya saat ini. meluapkan perasaan sayang dan cintanya.
Kebahagiaan Rendi terasa semakin lengkap, semenjak Sasha tinggal satu atap bersama nya dirumah besar ini, begitu juga dengan Sahsa perasaan cinta dan sayangnya mulai mengalir dengan tulus terhadap Rendi. Meskipun dia masih memendamnya dalam hati.
__ADS_1
“Sini Tuan aku bantu.” Ucap Sahsa mengambil sisir untuk merapikan rambut panjang Rendi.
“Tidak usah Sha,” tolak Rendi.
Namun Sasha tidak mengindahkan perkataan Rendi, dia merapikan rambut yang masih beraroma wangi sampo, sambil mengikat nya dengan rapi.
“Tuan muda sekarang jauh terlihat lebih rapi dan sangat tampan.” puji Sahsa, namun spontan dia menutup mulutnya dengan punggung telapak tangan. Sasha benar-benar malu.
Rendi tersenyum bahagia, mendengar pujian Sahsa yang tiba-tiba itu.
“Tapi jika kamu masih memanggil ku dengan sebutan Tuan muda, aku Merasa jauh lebih tua. Coba saja kamu ganti dengan panggilan yang lebih enak didengar.” Ucap Rendi.
“Ganti panggilan,?”
“Ya Sha.” Balas Rendi
“Apa?, Tidak....aku lebih suka jika kamu panggil dayang ataupun sebutan mas Rendi.” Ucap Rendi sedikit kesal.
"Sayang?"
"Maksud ku mas Rendi saja." Rendi kembali meralat ucapannya.
“Baiklah, mas Rendi.” Ulang Sahsa.
“Mas Rendi, kalau boleh ngasih saran. Gimana jika rambut, jambang dan kumis mas ini dipotong dan dicukur saja. Aku yakin mas akan terlihat jauh lebih tampan.” Ucap Sahsa.
“Ngak Sha, aku takut kamu akan pergi setelah melihat ku nantinya.” Ucap Rendi.
__ADS_1
“Mas tidak mungkin aku pergi dan meninggalkan mu mas, yang pasti aku akan lebih jatuh cinta lagi melihat ketampanan mu nantinya.” Tutur Sahsa yang sering keceplosan.
“Aduh kenapa dengan mulutku ini? Seringkali aku berbicara jujur sekarang...malu....malu... Sadar diri Sha. karena secara tidak langsung kamu sudah mengatakan cinta." Gumamnya menunduk merutuki dirinya.
Rendi menarik kedua belah tangan Sahsa, *******-***** lembut.
“Sha benar kamu menyukai ku.?” Tanya rendi menatap kedua bola mata Sahsa.
“E...anu mas, A...aku ...,” Sahsa semakin gugup.
“Sha tatap aku, aku ingin melihat kejujuran di matamu.” Ucap Rendi.
Sahsa mengangkat wajahnya, pandangan mata mereka bertemu. Rendi sangat bahagia ketika melihat pancaran cinta dan kejujuran dari mata Sahsa yang indah.
“Sha sejujurnya aku juga mencintaimu, kamu wanita kedua yang mampu menggeser posisi Sanu dihatiku..tapi aku laki-laki pengecut Sha....aku pengecut.” Tiba-tiba Rendi menangis memukul-mukul kakinya.
“Mas hentikan, kamu kenapa berubah melow seperti ini.” Sahsa menegang kedua tangan Rendi, sehingga dia berhenti memukul kakinya.
“Aku laki-laki lumpuh dan tidak berguna Sha.” Ucap nya.
“Sapa bilang mas Rendi tidak berguna, bagiku mas Rendi laki-laki yang baik, aku tulus sayang dan mencintai mas Rendi. Bagaimana pun keadaan mas.” Ucap Sahsa meyakinkan.
“Benarkah Sha?”
“Benar mas.” Ucap Sahsa sambil mengangguk mantap.
Rendi merengkuh tubuh Sahsa kedalam pelukannya, rasanya dia begitu dilema untuk berterus-terang. Rendi melihat maminya Berliana yang tengah mengintip mereka dari balik pintu.
__ADS_1