
Sanum terhenyak lemas, dengan sigap Arya menangkap tubuhnya sehingga tidak sampai jatuh kelantai.
"Nita, kenapa kamu pergi terlalu cepat hu...hu... Nita."Sanum memeluk tubuh Arya meluapkan kesedihannya.
Hari itu Nita langsung dimakamkan, kondisi Sanum yang masih lemah pasca melahirkan tidak bisa ikut mengantarkan sahabatnya itu ketempat peristirahatan terakhirnya.
"Selamat jalan sahabat ku, semoga engkau pergi dengan tenang." ucap Sanum yang hari itu juga sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah mereka ditemani Mami Melinda, pengasuh dan sopir Jono yang membawakan bara Sanum menuju mobilnya. sedangkan Arya ikut mengantar dan membantu proses pemakaman Nita sahabat istrinya.
Sepanjang jalan menuju pulang kerumah, Sanum lebih banyak diam. pikiran nya menerawang mengingat masa-masa indah yang pernah dilalui nya bersama sahabatnya Nita. suara tangisan sikembar membuyarkan lamunan Sanum.
"Sayang kenapa nangis...cup...cup...mau Mimi susu ya nak," Sanum menyusui salah satu bayi kembarnya sambil mengusap-usap rambut bayinya pelan dan penuh kasih sayang. menjadi seorang ibu dari lima orang anak merupakan anugrah terindah dalam hidup Sanum saat ini.
Sampai dirumah, Sanum langsung istirahat sementara bayi dan anak-anak nya yang lain dijaga oleh pengasuh dibawah pantauan sang mami Melinda.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama Sanum sudah tertidur pulas, mengingat dari pagi dia cukup sering menangis merasa kehilangan atas kepergian sahabat terbaik, sehingga membuat nya kelelahan.
Arya yang baru sampai dirumah, tersenyum melihat istrinya yang tidur cukup pulas. sehingga dia membatalkan niatnya untuk mencium wajah Sanum yang terlihat semakin menggemaskan pasca melahirkan.
"Istri imutku." Gumam Arya sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai membersihkan tubuhnya, Arya kembali berpakaian rapi. dia sudah tidak sabar untuk mengendong sikembar yang baru saja terlahir kedunia. Arya langsung menuju kamar bayinya.
"Putri cantik ku." mencium bergantian sambil mengendong salah satu bayinya yang tidur begitu pulas. Bayi mungil itu sesekali mengeliat pelan kegelian karena cium papa Arya, dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Papa gantian, Vina juga pengen gendong dedek." ucap Davina vsambil merajuk.
"Davina sayang sabar ya nak, dedek masih terlalu kecil untuk digendong. nanti jika sudah besar Davina bebas mau bermain apapun dengan dedek." bujuk Arya. namun melihat Davina yang merenggut Arya akirnya menaruh tangannya yang masih mengendong bayi kepangkuan Davina, hingga sukses membuat Putri cantik nya itu tertawa bahagia.
__ADS_1
"Hati-hati sayang." ucap Oma Melinda khawatir cucunya kecilnya kenapa-napa.
"Iya Oma." balas Davina.
Sanum mengeliat pelan, merenggang otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, tiba-tiba dia kembali teringat Nita yang pergi begitu cepat. tanpa sadar air mata Sanum kembali menetes.
"Aku tidak boleh larut dalam kesedihan, Kasihan bayi-bayi ku pasti sudah kehausan." pikir Sanum meskipun kedua bayi mungilnya dibantu dengan susu formula tapi Sanum juga tetap memberikan mereka ASI eksklusif.
sambil mengikat rambutnya, Sanum berjalan menuju wastafel mencuci tangan dan wajahnya. mengoles dengan bedak tipis. membuat penampilan Sanum terlihat lebih cantik.
"Mama...," teriak Davina kesenangan melihat Sanum masuk ke kamar bayi.
"Anak-anak kesayangan Mama,." balas Sanum mencium Davina dan mulai memberikan asi pada sikembar, sedangkan Devan dan Devano lebih suka main perang-perangan dan berlarian dari pada ikutan bermain dan bermanja-manja dengan adik Bayi mereka.
__ADS_1
Setelah ini kita kembali pada percintaan Rendi dan Sasha.