
Tangis keluarga Jeni pecah, begitu tim SAR menemukan tas kecil yang berisikan data-data Jeniffer yang masih tersimpan, meskipun sudah terlihat rusak dan berlumpur dibawa arus ombak laut.
"Aku yakin anak ku Jeniffer masih hidup." teriak Mami Jeniffer menangis di pelukan Arya yang mencoba menenangkan nya.
"Ya Tante, tapi kita harus tetap tenang dan sabar." bujuk Arya.
"Aku yakin anakku Jeniffer masih hidup, sebelum aku melihat sendiri jasadnya." bentak Papi Jeniffer ketika tim SAR mengatakan kemungkinan untuk Jeniffer dan Zein untuk selamat sangat lah kecil.
Pencarian terus dilakukan, meskipun mereka belum juga mendapatkan hasil yang memuaskan, paling tidak mereka telah berusaha. Sanum juga memberikan dukungan dan motivasi pada suaminya, agar tidak menyerah dalam mencari asisten dan adik sepupunya.
Dalam kapal nelayan yang masih mengarungi lautan lepas ini. Zein berjalan keluar dari kamar Sambil menutup pintu perlahan. Jeni melepaskan pakaiannya yang basah, dan mengunakan pakaian Zein. Meskipun risih dan malu. Tapi Jeniffer tidak mempunyai pilihan lain saat ini.
__ADS_1
“Syukurlah aku masih selamat, ya Tuhan mungkin sekarang saatnya untuk aku bertobat dan menyakini jika engkau benar-benar ada, yang memberikan ku kesempatan kedua untuk hidup.
Aku merasa malu pada diriku yang hina dan penuh dosa ini, Om Zein begitu baik dan tulus membantu ku. Hatiku tersentuh melihat perhatian dan perlakuan nya selama berada dipulau sampai detik ini dia juga masih menolong ku.
Tanpa aku sadari, perlahan namun pasti kehadiran Om Zein mampu menggeser posisi kak Arya dihatiku. Tapi aku ragu apa Om Zein juga menyukai ku? Mengingat begitu banyak perbedaan diantara kami berdua.”
Gumam Jeniffer, tiba-tiba lamunan Jeni Buyar, ketika pintu diketuk dari luar.
“Boleh Om, Jeni sudah siap ganti pakaian kok.” Balas Jeni yang masih terbaring mengingat tenaganya yang belum pulih sempurna.
“Jeni makanlah, ternyata mereka berbaik hati menolong dan memberikan kita makanan.” Ucap Zein membawa nampan berisi makanan laut yang masih panas, yang terlihat sangat mengunggah selera.
__ADS_1
“Iya Om," balas Jeni memperbaiki posisi duduknya. mereka mulai makan dengan diam, menikmati makanan yang sudah lama tidak mereka rasakan.
"Om... terimakasih ya karena Om juga sudah banyak membantu Jeniffer, hingga kita sampai ketempat ini.” Tutur Jeniffer memecahkan kesunyian diantr mereka.
“Jenifer, kamu Jangan marah. sebenarnya tujuan utama memang sengaja untuk mengikuti dan memata-matai kamu, atas perintah. bos Arya. Aku berterus terang karena kamu sudah mengatakan untuk tidak menganggu hubungan mereka lagi.” Tutur Zein
“Jeni sudah menduga dari semula Om, Jeni tidak marah Karena itu kesalahan Jeni. Sekarang Jeni juga sadar, jika di dunia ini masih banyak laki-laki yang tulus dan sangat tampan selain kak Arya.” Ucap Jeniffer malu-malu.
“Maksudmu siapa laki-laki itu.”
Detak jantung Zein berdetak kencang, tangannya tersa panas dingin. Begitu Jeniffer menarik lembut tangan nya dan menggenggamnya. Tatapan mata Jeniffer begitu lembut sambil tersenyum begitu manis terlihat oleh Zein.
__ADS_1
"Jeniffer begitu cantik, dan sifat nya juga sudah jauh berubah menjadi gadis yang manis dan sangat lemah lembut. aku tidak mampu lagi mengendalikan perasaan yang terdapat begitu indah dan nyaman ini...oh Jeni apakah kamu bersedia menjadi istri Uda." gumam Zein yang tidak bisa berkata-kata lagi.