
Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki pekarangan rumah Rendi, berhenti tepat dipekarangan rumah yang luas itu. Sanum dan Arya saling berpegangan, seolah-olah saling menguatkan satu sama lainnya, turun dari mobil dan memantapkan langkah memasuki rumah Besar itu.
Arya memencet bel, tidak berapa lama seorang pelayan paruh baya membukakan pintu masuk untuk mereka.
“Silahkan masuk Tuan, Nyonya. Tuan muda Rendi sudah menunggu anda ditaman belakang ,” ucap pelayan sambil menunduk hormat. yang membuat Arya dan Sanum saling pandang, karena kehadiran mereka seperti nya sudah diketahui oleh Rendi.
“Ayo Sayang.” Arya mengajak Sanum berjalan mengikuti langkah pelayan menuju tempat yang dimaksud.
Nampak Rendi yang sedang duduk disebuah kursi roda, yang sedang membelakangi Arya dan Sanum. Yang tengah berjalan kearahnya. Rendi tidak bergeming sama sekali
“Rendi,”
Ucap Sanum pelan, yang membuat laki-laki itu refleks menoleh kebelakang. begitu mendengar suara perempuan yang selama ini dirindukan dan dicarinya.
__ADS_1
"Sanu, tidak mungkin itu Sanu." gumam Rendi.
Kedua mata Rendi membulat, dia ingin memastikan dan membalikkan badannya, menatap Rendi dan Sanum secara bergantian. Rendi tidak menyangka kehadiran Arya dan Sanum, karena dia sudah meminta Mami Berliana dan papinya untuk merahasiakan keberadaan dan kondisi nya saat ini. Rendi belum siap untuk bertemu dengan orang-orang masa lalunya.
“Untuk apa kalian kesini, apa ingin mencemooh kan aku laki-laki lumpuh yang tidak berguna.” Ucap Rendi dingin tanpa ekspresi sedikit pun.
“Rendi maafkan aku dan istriku Sanum, kami berdua tidak pernah bermaksud untuk menyakiti mu, apalagi merebut Sanum darimu, pertemuan kami benar-benar tidak sengaja.” Terang Arya sambil berjalan mendekati Rendi.
“Rendi, sebagai seorang sahabat. Aku sangat prihatin dan sangat menyayangimu, aku ingin kita kembali seperti dulu lagi.” Ucap Arya sementara Sanum lebih memilih diam tidak menyangka melihat kondisi tubuh Rendi yang jsih berubah.
Gumam Sanum yang ingat betapa rajin dan telaten nya Rendi memperhatikan penampilannya dulu. bahkan Rendi tidak membiarkan sehelai bulu tumbuh diwajah tampanya itu.
Rendi yang sudah tenang, karena mendengar kata-kata Sasha barusan, mencoba mengendalikan dirinya. Dan menguatkan hatinya untuk ikhlas. Rendi sadar semua ini kesalahan nya. Arya dan Sanum hanya korban dan mungkin sudah jalan nya mereka dipertemukan oleh jodoh mereka yang sebenarnya.
__ADS_1
“Arya sahabat ku mendekat lah.”
Rendi tiba-tiba melunak dan merentangkan kedua tangannya kearah Arya sambil tersenyum lepas, melihat hal ini Arya langsung mendekat, mereka saling berpelukan penuh haru.
“Sanum, Arya ini semua bukan kesalahan kalian, tapi keadaan yang membawa kita seperti ini. Sanum mulai sekarang kita lupakan masalah kita dan membuka kehidupan dan lembaran baru lagi, sekarang aku sudah mengikhlaskan kamu bersama Arya, semoga kalian berdua bisa hidup bahagia Dengan Anak-anak kalian yang tampan dan cantik itu.” Ucap Rendi.
“Terimakasih sobat.”
Balas Arya penuh haru. Begitu juga Sanum yang mengusap air mata bahagia dan sangat lega, hubungan nya dan Arya tidak ada yang akan mengusik lagi kebahagiaan mereka berdua. Meskipun keberadaan Zein dan Jeniffer yang masih belum jelas.
Dari kejauhan Berliana menyaksikan pertemuan penuh haru itu, tanpa sadar dia ikut menangis memperhatikan anaknya yang terlihat sudah mulai bersemangat lagi. Dan sudah mampu mengendalikan emosinya.
“Aku sangat bersyukur sekali, semenjak kehadiran Sasha dirumah ini. Rendi benar-benar sudah berubah. Bahkan dia dengan mudah menerima kehadiran Sanum dan Arya, lalu memaafkan mereka dengan sangat mudah, semua ini diluar dugaan ku.” Gumam Berliana tersenyum senang. Melihat dari lantai dua kamarnya.
__ADS_1