
“Benda apa itu?”
Rasa penasaran Jeniffer semakin menjadi, dia bangkit untuk melihat benda yang barusan ditendangnya. sambil terus waspada dengan memegang sebuah kayu.
"Astaga?" tubuhnya bergetar, dengan mata membulat ketakutan. Keringat dingin kembali membasahi seluruh tubuhnya yang sangat ketakutan, rasanya Jeniffer ingin pingsan atau berpura-pura pingsan namun tidak bisa. rasa takut mengalahkan semuanya.
“Aaaaaaaaaaaaa tidaaaakkk....itu....itu... tengkorak kepala manusia” Jeniffer kembali menendang keras benda itu hingga terguling-guling jauh. Diapun berteriak memangil-mangil Zein , sambil berlari tanpa arah.
Zein yang ketiduran dibawah pohon rindang, terbangun begitu mendengar suara Teriakan ketakutan. Yang memangil-mangil namanya. seketika dia mengumpulkan kesadarannya kembali, dengan mata yang masih tersa begitu betat, dan badan yang pegal-pegal karena hampir jatuh barusan.
“Om Zein...., Om Zein dimana? Tolong Jeni Om....” Teriak Jeni sambil berlari ketakutan, berharap Zein segera datang membantunya.
“Ya itu suara?....itu suara teriakan Jeniffer,” Ucap Zein yang teringat Jeniffer yang ditinggalkan nya tadi di pondok kosong.
“Jeniffer... Jeniffer...aku disini.” Teriak Zein berlari kearah Jeni yang terlihat sangat panik dan kebingungan.
__ADS_1
“Om Zein......,” balas Jeniffer sambil tersenyum bahagia, dia merentangkan kedua tangannya berlari kearah Zein.
Seketika Zein terpesona, di umur nya yang tidak lagi muda, baru kali ini dia tersentuh dan tertarik melihat pesona wanita berambut pirang, yang tergerai lepas sambil tersenyum bahagia, berlari kearahnya.
"Wah... sangat cantik, meskipun bukan seperti gadis idamanku dulu. banyak perbedaan diantara kami, tapi sekarang aku begitu tertarik akan pesona gadis yang berbeda bangsa dan kebudayaan dengan ku ini, sadar Zein kamu dan dia tidak mungkin bisa bersama ."
“Bruuugghh,” Jeniffer langsung menghambur memeluk erat tubuh Zein. Hingga Hampir membuat Zein tumbang, namun segera dia menyeimbangkan posisi berdiri nya.
“Jenni takuuuuut Om, jangan tinggalkan Jeniffer sendirian lagi.” Rengeknya menangis sedih.
“Iya , tapi Om janji dulu tidak akan meninggalkan Jenni lagi.” Jeniffer mengangkat jari kelingkingnya, yang dibalas Zein dan menautkan kedua jemari mereka. Sebagai tanda jika mereka akan terus bersama. Senyum manis mengembang dibibir keduanya.
“Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu sendirian lagi.” Ucap Zein.
“Terimakasih Om,” Ucap Jeni yang ingin kembali memeluk Zein.
__ADS_1
“Eeeiitsz... cukup, cukup jangan diulang lagi Jeni. Aku bisa khilaf.” Elak Zein.
“Oya Om, sudah hampir malam. Tapi kita tidak punya apa-apa untuk dimakan.” Ucap Jeniffer sambil melirik tidak ada yang dibawa oleh Zein, yang sebelumnya berkata akan mencari bahan makanan untuk mereka berdua.
“Jenifer, barusan aku ketiduran dibawah pohon itu. Sehingga aku lupa untuk mencari makan untuk kita.” Tutur Zein.
“Ngak papa kok Om, bagaimana jika sekarang kita cari makanan nya bersama-sama.” Balas Jeniffer.
“Okey cantik.” Ucap Zein tanpa sadar, segera dia menutup mulutnya. Menyesali dan sangat malu dengan ucapannya barusan.
Zein pun berinisiatif menangkap ikan-ikan, mengunakan ranting kayu. Menunjukkan kembali keahlian nya. Karena pada dasarnya Zein dulunya hanya seorang anak petani biasa yang sudah terlatih hidup didesa dan bersahabat dengan alam.
“Jeniffer inilah menu makan kita, semoga kamu menyukai nya.” Zein mengumpulkan ranting dan membakar ikan-ikan hasil tangkapan nya.
“Wah... sepertinya makanan ini sangat lezat Om,” Ucap Jeniffer antusias. Zein hanya tersenyum dan mengangguk menanggapinya.
__ADS_1