
Arya memainkan kursi putar, yang merupakan lambang kebesaran dan kekuasaan nya. Arya duduk sambil menyilakan kakinya keatas dan kedua tangannya saling ditautkan. tatapan matanya yang tajam membuat karyawan yang ingin meminta tanda tangan nya lebih memilih mundur. setelah melihat suasana hati bos besar mereka yang terlihat sedang memburuk.
Zein yang paham mengambil alih untuk sementara urusan Arya, termasuk mengangkat panggilan masuk ke ponselnya.
"Hallo ada apa Josh?"
Josh merupakan orang yang ditugaskan oleh Arya dan Zein untuk mengintai kedatangan Sanum dibandara. jika sewaktu-waktu gadis itu datang atau pergi.
"Bos, aku seperti melihat wanita yang bernama Sanum. dia seperti nya baru datang dari luar negeri bersama seorang anak kecil." Ucap Josh sambil mengarahkan kamera ponselnya kearah Sanum yang berjalan membimbing Davina.
"Ya, dia memang Nona Sanum. cepat ikuti dia jangan sampai dia keluar terlebih dahulu dari bandara." perintah Zein.
Arya langsung berdiri dari kegalauan nya begitu mendengar nama Sanum.
"Bos Nona Sanum dan putri mu sedang berada di bandara internasional. aku sudah memerintahkan Josh untuk mengawasi nya." terang Zein.
__ADS_1
"Bagus, informasi yang sangat berharga sekali. setelah sekian lama Sanum mengajakku main kucing-kucingan dengan seringnya dia menghilang. sekarang aku tidak akan membiarkan nya kabur lagi." Ucap Arya dengan wajah berseri-seri.
"Apa rencana kita selanjutnya bos," Tanya Rey.
"Culik dia, dan aku akan membawanya kesebuah villa dipulau. sehingga dia tidak akan pernah kabur lagi. tapi ingat jangan sakit dia dan anakku. bekerja lah dengan baik." Ucap Arya sambil tersenyum puas.
Sanum menundukkan kepalanya, sambil terus berjalan pelan. dia sebenarnya ingin cepat-cepat keluar. namun tidak bisa mengingat langkah kaki Davina yang kecil. serta koper yang diseret nya, mau tidak mau Sanum Akirnya berjalan sambil menunduk agar orang-orang Arya tidak mengetahui nya.
"Siapa kamu?"
"Aku Josh, aku diperintahkan untuk menjemputmu Nona Muda."
" Minggir lah, aku tidak menganalimu." Ucap Sanum sambil mencoba mencari-cari sosok Nita yang akan menjemputnya.
Namun tiba-tiba Sanum mersa ada seseorag dari arah belakang yang menyemprot wewangian, yang membuat pandangan mata Sanum muram sehingga dia begitu merasa ngantuk yang teramat berat. tapi dia masih berusaha memegang erat Davina. sambil memaksa membuka matanya, untuk melihat kebelakang.
__ADS_1
Arya yang sudah berdiri dibelakang Sanum langsung menangkap tubuh Sanum yang sukses tertidur dan tidak ingat apa-apa lagi. Arya tersenyum puas mengendong dan menidurkan Sanum dijok belakang mobilnya.
Davina kecil yang semula menangis, namun saat melihat tatapan dan sikap manis Arya yang memperlakukan nya jadi diam. bahkan gadis kecil polos itu mulai tersenyum.
"Ternyata anakku sangat cantik, persis mamanya yang imut sekali pintar menyembunyikan Putri ku selama ini." Ucap Arya.
Zein ikut tersenyum mendengar penuturan Arya, mengingat kuasa dan kelicikan mereka dalam berbisnis. namun mereka berdua kalah oleh seorang Sanum. bahkan Sanum berhasil mengelabui Arya bertahun-tahun.
"Putri cantik ku, mulai sekarang pangil aku papa..." Ucap Arya kembali menciumi Davina.
"Pa.....Pa...," Ucap Davina dengan bibir mungilnya. tanpa sadar Arya terharu mendengar ucapan Davina, cairan bening menetes disudut mata Arya. sikap dingin dan aroganya seolah-olah hilang. dia memeluk erat Davina.
"Putriku sayang, maafkan papa tidak mengetahui keberadaan mu selama ini nak." Ucap Arya, sementara Sanum masih tertidur dengan damainya hingga mobil sudah jauh meninggalkan kota. menuju suatu tempat yang Sanum tidak akan ketahui nantinya.
Nita kelabakan mencari Sanum, sudah hampir sejam Nita mencari-cari dibandara namun belum juga berhasil. hingga Nita Akirnya memutuskan untuk menghubungi Bu Melinda.
__ADS_1