
"Mama...Mama kenapa?" Davina langsung mengusap-usap punggung sang Mama bercampur rasa cemas.
"Ngak tau sayang? Mama tiba-tiba pusing dan rasanya perut Mama tiba-tiba mual."
"Kak Sanum, kita periksa ke dokter, biar Jeni temani?" ucap Jeniffer yang masih nginap dirumah Sanum, mengingat suaminya Zein belum balik.
"Iya ma, lihat tuch wajah Mama pucat banget." Ucap Davina cemas sambil mengusap keringat dingin dari wajah mamanya.
"Baiklah sayang." Sanum akirnya pasrah, mengingat Jeniffer dan Davina yang ngotot ingin membawanya periksa ke dokter, sedangkan Arya masih sibuk melakukan rapat kerjasama dengan perusahaan Husein groups yang semula ditangani Zein.
"Mama, apa sebaiknya kita beritahu papa dulu?"
"Ngak usah sayang, takutnya nanti papa khawatir. lagian papa sedang sibuk-sibuknnya. mendingan kita aja yang pergi ke dokter. mengingat kondisi Mama juga ngak terlalu sakit." balas Sanum.
Mereka berangkat diantarkan Aldo selaku sopir siaga, Davina duduk disebelah Aldo. sedangkan di jok belakang Mama dan Tante Jeniffer duduk sambil ngobrol-ngobrol ringan.
"Ya Tuhan, Mama terlihat pucat banget. dia kenapa ya? dan ciri-ciri yang disebutkan Mama. sama persis dengan apa yang dialami Natasya sahabat ku. tidak...aku harus bagaimana. antara senang dan malu jika seandainya mamaku hamil lagi." Gumam Davina mengingat mereka sudah remaja, sedangkan sang Mama kembali hamil muda.mem bayangkan nya saja kepala Davina langsung puyeng.
"Davina kamu kenapa?"
__ADS_1
Aldo melirik Davina yang terlihat gusar sambil mengelus perutnya, membayangkan jika mamanya tengah hamil besar.
"Sayang kamu kenapa nak?"
"Hamil ma."
Jawaban Davina yang spontan membuat semua terlonjak kaget, terutama Aldo yang hilang konsentrasi. hampir saja pemuda tampan itu menabrak pembatas jalan. jika tidak cepat-cepat menguasai dirinya kembali.
"Kamu hamil?"
Sanum yang syok, langsung berfikir jika nasip buruknya dulu, sekarang telah menimpa anak kesayangannya juga.
Sanum bertambah pusing dan mual, kondisi nya yang tidak stabil. membuat Mama cantik itu langsung kehilangan kesadarannya.
"Mama...Mama... bangun ma." ucap Davina panik, begitu juga dengan Jeniffer yang duduk disampingnya. menguncang pelan bahu Sanum.
"Cepat Al, aku takut terjadi sesuatu pada mamaku." Davina mulai menangis. sedangkan Aldo langsung mempercepat laju mobil nya. begitu sampai dirumah sakit pusat. Sanum langsung mendapatkan pertolongan pertama.
Dokter yang menangani Sanum langsung tersenyum, saat melihat hasil pemeriksaan nya. sering dengan Sanum yang mulai kembali sadar, namun yang membuat dokter melonggo, ekspresi Sanum yang langsung menangis begitu sadar.
__ADS_1
Begitu juga dengan Aldo yang menunggu diluar ruangan, pria tampan itu terhenyak lemas. membayangkan jika wanita yang selama ini disukainya sedang hamil.
"Tapi jika dipikir-pikir, Davina hamil anak siapa? setiap hari aku selalu bersama dan memperhatikan pergaulan nya disekolah. dan dia tidak pernah dekat dengan laki-laki, selain Farrel yang selalu mendapatkan penolakan dari sikap acuh Davina. yahh...aku yakin ini pasti salah paham." Aldo kembali tersenyum lega.
"Nyonya Sanum kenapa menangis? justru ini kabar bahagia. Nyonya kembali hamil." jawab dokter.
"Apa dok, saya hamil?" jawab Sanum bingung, apakah bahagia atau cemas.
"Alhamdulillah, kak Sanum hamil lagi." ucap Jeniffer antusias ikut bahagia dan terharu.
Davina mendekati dan merangkul mamanya.
"Ma, Davina bahagia sekali, membayangkan keluarga besar kita bakal bertambah, meskipun semula Davina sempat syok dan agak keberatan." jawan gadis itu sambil mengusap-usap pelan perut mamanya yang terlihat masih datar.
"Tapi kamu ngak hamil juga Khan?" tanya Sanum mempersiapkan hati, untuk mendengar Jawaban dari Davina nanti.
"Ha....Ha....Mama lucu banget, mana mungkin Davina hamil, anak siapa juga? pacar aja Davina ngak punya." jawab gadis cantik itu sambil tertawa.
"Sapa tahu aja anaknya Aldo, karena hanya dia laki-laki yang dekat sama kamu." goda Sanum sambil tertawa, yang membuat Aldo diluar ruangan langsung keselek Saliva nya sendiri.
__ADS_1
"Ahh, bercanda Mama ngak lucu." Davina cemberut.