One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Keras kepala


__ADS_3

Sanum terbangun, dengan air mata yang masih membasahi pipinya. perlahan dia merebahkan Davina diranjang. karena anak kesayangan nya itu masih tertidur pulas pasca ketakutan dan menangis pasca mendengar suara petir semalam.


"Gimana kabarnya mas Arya sekarang?" Sanum menatap keluar kaca jendela villa. nampak suasana yang masih mencekam gerimis yang diselingi sesekali hujan lebat, dan angin kencang yang seakan ingin meroboh kan semua pohon-pohon yang berda disekitar lokasi villa.


"Semoga tidak terjadi sesuatu dengan mas Arya." Sanum terus berdoa, berusaha untuk mengendalikan perasaan takut dan khawatir yang teramat sangat. sehingga dia memutuskan untuk langsung menanyakan masalah Arya pada kepala asisten.


"Ada apa Nona Sanum?" Tanya kepala asisten saat melihat kedatangan Sanum yang sengaja menemuinya pagi ini.


"Bagaimana dengan keadaan mas Arya?" Sanum langsung pada pokok permasalahan yang sedari semalam terus mengganjal dipikiran nya.


Kepala pelayan nampak tercekat, dan mulai kebingungan harus menjelaskan apa pada Sanum saat ini, karena dia sendiri juga sangat panik mengingat putus kontak dengan Arya termasuk asisten nya Zein yang selalu bersama-sama Arya kemanapun pergi.

__ADS_1


"Maaf Nona Sanum, saya belum bisa berkomunikasi dengan beliau saat ini. mengingat udara dan cuaca yang buruk sistim komunis juga ikut mengalami permasalahan." terangnya.


Sanum kembali menangis, saat ini dia benar-benar takut kehilangan Arya. Sanum seolah-olah sadar akan keegoisan dan perasaan nya yang sesungguhnya kepada Arya saat ini.


"Mas Arya, semoga kamu tidak kenapa-kenapa mas, maafkan aku yang egois, maafkan kesalahan ku mas.... kembali lah dengan selamat...demi aku dan anak-anak kita... aku sangat mencintaimu mas Arya." tanpa sadar Sanum mengucapkan kata-kata itu.


Dia berdiri didepan teras utama, tanpa peduli hujan yang kembali turun dengan derasnya, angin yang berhembus kencang menerpa rambut panjang Sanum. dia melihat kedua tangannya di dada untuk mengurangi rasa dingin.


Sanum tidak memperdulikan ucapan kepala pelayan, dia tidak bisa tenang sebelum melihat Arya datang ke villa. Sanum tidak peduli dengan dirinya yang sudah menggigil kedinginan.


"Dasar perempuan keras kepala." gumam kepala pelayan sambil menggelengkan kepalanya melihat Sanum yang masih berdiri walaupun angin bertambah kencang menerpa tubuh mungilnya.

__ADS_1


Kepala pelayan Akirnya mengalah, dia mengambil jaket tebal lalu menyerahkan pada sanum yang langsung menyambar dan mengunakan nya.


Sesekali Sanum mengatup dua Tangan nya sambil meniup-niup untuk mengurangi rasa dingin.


Dimeksiko, Oma dan Melinda juga sangat khawatir begitu mendengar Arya sedang mendarat menuju Villa, sementara daerah sekitar mengalami cuaca yang sangat buruk.


"Arya anakku semoga kamu tidak kenapa-kenapa nak, baru juga kita merasakan kebahagiaan dengan kehadiran anak-anak mu, sekarang kami begitu takut dan cemas terjadi sesuatu yang buruk padamu nak." Melinda dan Oma terus berdoa untuk keselamatan Arya dimana orang-orang suruhan nya belum berhasil menghubungi Arya termasuk pilot helikopter.


Cuaca yang sangat buruk, tidak memungkinkan bagi mereka melanjutkan mendarat. sehingga terpaksa mereka melakukan pendaratan darurat disebuah pulau terpencil yang sama sekali tidak berpenghuni.


"Ah sial, disini tidak ada signal lagi..," gerutu Arya.

__ADS_1


Zein turun dari helikopter sambil mengangkat tangan nya keatas berharap mendapatkan signal namun usahanya sia-sia belaka.


__ADS_2