One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Ketakutan Sanum


__ADS_3

Wajah Arya terlihat begitu bersemangat memasuki helikopter pribadi milik perusahaan, rasa rindu dan cinta pada Sanum dan putrinya Davina membuat Arya tidak bisa berlama-lama di Meksiko. sehingga dia memutuskan untuk menunda semua jadwal kesibukan nya dan pulang ke villa.


Sesekali Arya mengusap layar ponselnya, untuk melihat aktivitas Sanum dan Davina kecil. Arya juga mengingatkan agar kepala pelayan tidak memberitahukan masalah kepulangan nya hari ini. karena Arya ingin sekali memberikan kejutan pada Sanum dan Davina.


"Apa reaksinya Sanum ya? jika aku tiba-tiba pulang. dan mendapati nya yang sedang tidur di kamarku malam ini." Arya mengulum senyum membayangkan wajah tidak berdosa Sanum nantinya.


"Aaagghh gadis egois dan sangat imut itu, memang pintar bersandiwara. bahkan dia mampu mengelabui ku dengan tampang polosnya selama ini. tapi cukup menarik, okey.., cantik kita akan memulai permainan baru aku ingin tahu sejauh mana kehebatan mu."


Arya tersenyum puas dan sangat bahagia begitu teringat Sanum yang tidak hanya berhasil tidur dengan nya, dengan harga tiga lembar uang seratus, tapi Sanum juga mampu memberikan dia kejutan dan kebahagiaan yang luar biasa, ketiga anak kembar yang cantik dan sangat tampan sehingga Oma dan sang mami tidak pernah menuntut ini itu lagi dari Arya. mereka sudah sangat bahagia dengan kehadiran cucu-cucu nya.


Arya mersa perjalanan ini tersa begitu lama dan lambat, dia sudah tidak sabar lagi untuk menyentuh Sanum malam ini. untuk mengurangi rasa rindunya Arya melipat kedua tangannya sambil memejamkan mata membayangkan wajah cantik Sanum.

__ADS_1


Sanum yang sempat menguping pembicaraan kepala pelayan, yang diyakininya bersama Arya mulai resah. saat mendengar jika malam ini Arya akan pulang. perasaan Sanum bercampur aduk antara bahagia, senang dan rindu menjadi satu. namun perasaan Sanum bertolak belakang dengan pikiran nya yang menolak kepulangan Arya.


"Disini aku bisa bebas, tanpa ada Arya, dan kedua anakku Devan dan Revano semoga mereka aman disana." gumamnya mencoba melawan perasaan nya yang sesungguhnya.


Malam ini Sanum dan putri Davina sengaja tidur dikamar mereka sendiri, Sanum ingin berjaga-jaga takut Arya tiba-tiba muncul.


"Arya bisa terbang kegeeran jika mengetahui aku sering dan diam-diam tidur dikamar nya, sambil memeluk pakaian nya....oh Tuhan ada apa dengan ku sekarang.?" Sanum meremas rambutnya frustasi.


"Mama....takuuuuut ma...hu...hu...," memeluk erat tubuh Sanum.


"Tenanglah nak, ada Mama sayang." bujuk Sanum sambil mengelus rambut panjang Putri satu-satunya. sementara pikiran Sanum begitu berkecamuk dan cemas.

__ADS_1


Angin yang berhembus begitu kencang, diiringi hujan yang sangat lebat. rasa takut yang teramat sangat menghantui ketika Sanum teringat Arya yang sedang dalam perjalanan dengan helikopter pribadi nya, Sanum melirik jam yang tergantung ditengah-tengah ruangan besar yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


"Seharusnya Arya sudah sampai." gumamnya tapi Sanum tidak mendengar suara helikopter landas, dibelakang villa terlihat masih kosong, hanya pohon yang seakan-akan ingin tumbang diterpa kencangnya angin dan hujan yang tidak berhenti. cuaca benar-benar buruk suara petir masih terdengar sehingga Davina semakin mengeratkan pelukannya.


Sanum berjalan keluar kamar, mencoba memastikan jika Arya sudah berda dikamarnya sendiri. namun hasilnya kosong, tidak ada siapa-siapa. sementara kepala pelayan paruh baya itu terlihat panik sambil mondar-mandir didepan pintu masuk, wajahnya terlihat cemas sambil terus melakukan panggilan.


"Kita putus kontak dengan pilot helikopter Tuan Arya." terdengar dia sedang menghubungi seseorang.


Air mata Sanum lolos membanjiri kedua belah pipinya, pikiran buruk telah terjadi sesuatu pada Arya saat ini membuat nya hilang kendali. Sanum terhenyak dilantai sambil memeluk Davina.


"Sayang, berdoalah semoga papamu baik-baik saja nak." gumam Sanum disela tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2