
Suasana pesta, yang terlihat mewah dan gemerlap cahaya lampu seakan-akan ikut berlomba-lomba memberikan kesan indah. namun tidak mengurangi aura mistis yang dirasakan sebagian para tamu undangan.
"Sayang, sebaiknya kita pulang ya."
"Iya mas."
Sanum dan Arya tidak terlalu lama, mereka kembali berjalan menuju pelataran parkir. tempat mobil mereka terparkir berjejer dengan mobil-mobil para tamu lain nya.
Arya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mas, aura diluar lokasi pesta. beda banget ya. didalam kita mersa merinding dan atmosfer didalam mencekam banget."
"Iya juga sih, makanya mas ngajakin cepat-cepat pergi, takut terjadi sesuatu pada kehamilan mu. meski mas kurang yakin juga sih pada hal-hal seperti ini."
Karena mereka tidak makan apapun di pesta Safira. Arya pun membelokkan mobilnya menuju sebuah restoran nasi Padang, dia tahu jika istrinya paling suka makan nasi Padang jika sedang hamil muda. persis sewaktu kehamilan keduanya dulu.
"Sayang, Kita makan dulu ya."
__ADS_1
"Asyik, kita makan rendang." balas Sanum dengan mata berbinar-binar bahagia. mengingat selera makanya yang mulai meningkat.
"Sayang, mudah-mudahan kamu didalam ngak kembar lagi.' Gumam Sanum mengelus-elus pelan perut.
"Kembar juga nggak papa." balas Arya yang bisa membaca isi pikiran istri tercintanya.
Pasangan itu mulai memesan makanan mereka, meskipun sudah lama mengarungi rumah tangga, namun kemesraan dari Sanum dan Arya tidak berkurang sedikit pun. malah Arya semakin perhatian terhadap sang istri. hal ini menarik perhatian sebagain orang, apa
lagi pasangan Sahsa dan Rendi, yang kebetulan juga tengah makan malam berdua, mereka duduk tidak terlalu jauh dari posisi Arya dan Sanum.
"Mas Rendi, mumpung pesanan kita belum datang. kita gabung dengan mas Arya dan mbak Sanum ya." bujuk Sahsa.
Rendi dan Sahsa membatalkan duduk dikursi dan meja, yang semula ingin mereka tempati. senyum mengembang dibibir pasangan itu berjalan mendekati Arya dan Sanum yang saling suap dan menyuapi.
"Wah pasangan yang romantis dan sangat serasi sekali sekali." puji Sahsa.
Sanum dan Arya, langsung mengangkat kepala mereka, kearah asal suara.
__ADS_1
"Eh Rendi, Sahsa. pa kabar?"
Mereka pun saling berpelukan, dan mulai terlibat obrolan hangat, sambil menikmati makanan dan minuman.
"Oya Rendi, sudah lama ngak ketemu. emang kalian berdua selama ini ngilang kemana lagi sih?" ucap Arya.
"Sibuk di Dubai, memulai bisnis baru kami disana." terang Rendi.
"Mantap, kamu menang tipe pekerja keras dan sukses." puji Arya pada sahabat nya, sekaligus mantan tunangan Sanum, meskipun tidak ada perasaan yang dulu diantara mereka sekarang.
"Bagaimana kabarnya Balqis, apa dia jadi sekolah dan tinggal di asrama tempat Devan dan Devano sekolah?"
"Ya, karena itu pilihan Balqis yang ingin tinggal diasrama dan hidup mandiri." terang Sahsa.
"Anak yang pintar." puji Arya, ketika mendengar prestasi Balqis yang hobby menulis, sehingga diusianya yang masih remaja, gadis cantik itu sudah memenangkan berbagai prestasi dan menjadi penulis berbagai cerita, bahkan sekarang Balqis juga mulai bekerja sama dengan percetakan yang memakai tulisan dan novel- novel terbaik hasil karya-karya Balqis.
"Aku juga bingung, dengan bakat yang dimiliki Balqis, mengingat aku dan Sahsa tidak ada diantara kami yang hobi dan mempunyai bakat menulis, seperti yang dimiliki Balqis" terang Rendi.
__ADS_1
"Aku yakin, suatu saat Balqis akan sukses menjadi penulis terkenal, seperti impiannya." puji Arya yang mersa kagum dengan kemampuan Putri satu-satunya dari sahabat baiknya itu.