One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Keajaiban untuk Rendi


__ADS_3

Tanpa terasa, perputaran waktu terus berlalu begitu juga dengan kondisi kesehatan Rendi yang mulai menunjukkan hasil. meskipun Rendi belum mampu untuk berdiri dengan benar, tapi paling tidak kedua kakinya sudah mulai merespon dan mampu digerakkan secara perlahan. bahkan Rendi sudah bisa berdiri dengan bertumpu pada dinding tembok atau alat terapi.


Senyum mengembang di bibirnya, paling tidak semangat dan usaha nya beberapa bulan ini sudah menunjukkan hasil. semenjak memutuskan tinggal di Amerika, Berliana mempunyai banyak waktu untuk mengurus Rendi, mengingat kondisi kehamilan Sahsa yang semakin membesar.


Melihat Sahsa yang mulai mulas dan sering bolak-balik kamar mandi, membuat Berliana dan Rendi ikut resah.


"Sayang, apa perut mu masih mulas?" ucap Rendi mendekati Sahsa yang duduk sambil mengelus-elus perutnya.


"Seperti nya masih mas." ucap Sahsa.


"Seperti Sahsa sudah waktunya melahirkan Ren," jawab Berliana.


"Mungkin mi." balas Sahsa.


"Ayo sayang, kita bersiap menuju Rumah sakit sekarang." ucap Berliana.


"Rendi ikut mi." ucap Rendi yang ingin sekali mendampingi istrinya melahirkan, meskipun dia harus duduk dikursi roda.

__ADS_1


"Boleh mas." jawab Sahsa memeluk sebelah lengan suaminya, untuk berusaha menyembunyikan perutnya yang mulai kontraksi palsu.


Sasha segera dibawa kerumah sakit terdekat, karena takut kejadian seperti Sanum terulang kembali. pikir Berliana yang mendapat informasi dari keluarga Arya sewaktu berkunjung ke pesta syukuran menyambut kelahiran anak kembar Arya.


"Sakit banget mas." Gumam Sahsa


"Sabar sayang, sebentar lagi pasti sampai." bujuk Rendi.


Saya langsung mendapat pertolongan, namun karena posisi bayi dalam perutnya yang salah, mau tidak mau. Sahsa harus melahirkan secara cecar. meskipun dari awal gadis itu pengen melahirkan secara normal.


Selama proses melahirkan cecar, Rendi dengan setia selalu berada disamping Sahsa, memegangi tangannya dan mencium kening Sahsa, tidak begitu lama. terdengar suara tangisan bayi yang memecah keheningan kamar bersalin Sahsa. Tanpa sadar air mata Rendi mengalir menatap sayang bayi perempuan yang sangat cantik.


"Silahkan untuk diazani, npbyi bapak berjenis kelamin perempuan yang sangat cantik dan sehat." terang perawat memberikan pada Rendi.


Sahsa ikut menangis terharu melihat bayinya, dia benar-benar bahagia tidak pernah terbayangkan jika anaknya lahir dan diazani ayah kandungnya sendiri dan mendapatkan status yang sah di mata ahama dan hukum, padahal semula Sahsa sempat khawatir jika anaknya terlahir tanpa seorang ayah.


"Anaku." ucap Sahsa.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi mungil kita ini?" tanya Rendi.


"Sudah mas, Humaira Balqis." ucap Sahsa yang dulunya dia begitu terinspirasi dari nama ratu Balqis.


"Aku ingin, anak kita nanti nya bisa menjadi wanita yang kuat dan pintar."


ucap Sahsa.


"Nama yang bagus." puji Rendi.


Setelah Sahsa dipindahkan ke Ruangan terbaik, Berliana dan suaminya saling bergantian menimbang-nimbang cucu kebanggaan mereka. bayi Sahsa begitu cantik, sehat dengan warna kulit yang putih bersih.


Saat semua mata tertuju pada bayi mungil itu, tidak ada yang menyadari termasuk Rendi sendiri, jika dia sudah berdiri bahkan tadinya sempat mengendong bayinya dengan berdiri tanpa kursi roda.


"Mas Rendi." pekik Sahsa yang menyadari jika suaminya sudah bisa berdiri dan berjalan, mata Sahsa membulat seakan-akan tidak percaya dengan penglihatan nya.


"Masya Allah, Rendi. kamu sudah sembuh nak." teriak Berliana.

__ADS_1


"Alhamdulillah ma, ini benar-benar keajaiban." ucap Rendi.


"Aku sangat bahagia mas, ternyata anak kuta lahir membawa keajaiban untuk kesembuhan mu." ucap Sahsa dan Rendi saling berpelukan bahagia. begitu juga dengan kedua orangtuanya.


__ADS_2