
Setelah hampir tiga jam lebih Sanum berdiri di teras utama menunggu Arya, Akirnya dia kembali masuk kerumah saat mendengar teriakan suara Davina yang kersa memangil- mangilnya.
"Mama... mama... sini, Davina takut dengan suara petir itu ma." teriak Davina.
"Iya sayang mama segera masuk nak." sanum masuk dan segera membalas pelukan Davina.
Malam nya Sanum yang kelelahan tertidur sambil memeluk Davina, dalam balutan selimut tebal. cuaca yang tersa begitu dingin seolah-olah membuat nya enggan untuk bangkit.
Cuaca sedikit membaik, sehingga mereka langsung melanjutkan kembali pendaratan. meskipun semula pilot agak ragu tapi melihat kesungguhan Arya Akirnya dia terpaksa mengalah.
"Alhamdulillah Akirnya kita sampai," Ucap pilot dan Zein hampir berbarengan.
Arya langsung melangkah masuk menuju Villa, dia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu Sanum dan Davina, kepala pelayan menyambut kedatangan Arya penuh haru karena dia sempat berfikir sesuatu yang buruk telah menimpa Arya.
__ADS_1
"Syukurlah Tuan, Anda sampai disini dengan selamat karena saya sempat berpikir buruk jika sesuatu telah menimpa Anda, mengingat cuaca yang sangat buruk." Ucap nya.
"Iya, bagaimana keadaan Sanum dan Davina selama aku pergi." Arya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang kosong.
"Nona Sanum mengetahui jika Anda pulang ke villa, dia begitu cemas karena Tuan belum juga sampai sedangkan cuaca semakin memburuk. bahkan tadi pagi Nona Sanum menghabiskan waktu tiga jam menunggu Tuan diteras utama, saya sudah berusaha untuk membujuknya namun dia sama sekali tidak menghiraukan, malah dia lebih sering menangis." terang kepala pelayan.
"Ternyata dia begitu mencemaskan ku," gumam Arya sambil mengulum senyum bahagia, dengan langkah panjang dia langsung menuju lantai dua kamar Sanum dan Davina.
"Putriku dan ibu nya sama-sama cantik."
Arya mencium hangat kedua pipi Davina, membuat gadis kecil itu menggeliat namun kembali tertidur pulas. lalu Arya pindah keposisi dibelakang Sanum yang masih mendekap Davina, menyibak perlahan selimut itu dan masuk kedalam memeluk erat Sanum dari belakang, aroma wangi tubuh Sanum seakan mampu mengobati rasa rindu yang membara beberapa hari ini terpendam.
Arya perlahan membalikkan tubuh Sanum sehingga posisi mereka saling berhadapan, Arya seakan tidak ingin kehilangan kesempatan. ciuman demi ciuman lembut dan hangat mendarat di wajah dan leher Sanum.
__ADS_1
Sementara Sanum seperti sedang bermimpi indah, dalam tidur nya dia sedang berjalan berbimbingan dengan Arya ditaman yang indah, sampai akhir nya mereka berda disebuah kamar yang didekorasi seindah mungkin layaknya kamar pengantin.
Arya mencium hangat bibirnya, sehingga Sanum tidak bisa menolak ataupun menepisnya, Arya memperlakukan nya dengan begitu lembut. semakin jauh percintaan dalam mimpi itu, Sanum mersa sentuhan demi sentuhan itu terasa sangat nya.
"Sebaiknya aku tetap tidur dan memejamkan mata, agar mimpi indah ku ini tidak segera berakir, aku begitu merindukan Arya saat ini. " gumam Sanum dengan mata yang masih terpejam.
Melihat tidak ada penolakan dari Sanum, Arya semakin berani sekarang kancing piyama tidur Sanum sudah terlepas. Arya benar-benar sudah terbakar gairah, sehingga dia tidak sabar lagi untuk segera melampiaskan pada wanita yang dicintainya ini.
"Aaaaawww," teriak Sanum saat Arya sukses melakukan penyatuan, Sanum langsung membuka mata dan menatap Arya dihadapannya. seakan tidak percaya dengan penglihatannya. Sanum mengatup wajah Arya dengan Kedua telapak tangannya.
"Mas Arya,"
Arya tersenyum, dan membungkam mulut Sanum dengan ciuman hangat sehingga dia tidak bisa berbicara lagi.
__ADS_1