
“I Love Yuo mas Rendi.” Bisik Sahsa.
“Love Yuo too Sha,” balas Rendi Tanpa sadar menitikkan air matanya.
“Sha, aku sudah siap untuk kamu mengetahui wajahku yang sesungguhnya.” Ucap Rendi mantap yang membuat Sahsa tersenyum lepas sambil mengambil alat cukur kembali.
Perlahan namun pasti, wajah tampan Rendi mulai kelihatan. Membuat tangan halus lembut Sahsa mulai gemetaran saat semua sudah terlihat jelas, Rendi benar-benar tampan.
“Ka....kamu?” Ucap Sahsa, peralatan cukur yang dipegangnya jatuh kelantai. Mata Sahsa membulat menatap tajam kearah Rendi.
“Maafkan aku Sha.” Ucap Rendi tertunduk sedih.
Pandangan mata Sahsa berputar-putar, gadis itu terlihat begitu syok mendapati kenyataan ini. Hingga semua terlihat berputar dan mengeci, refleks Rendi menangkap tubuh yang oleng itu hingga pingsan dipangkuan nya.
“Sha...Sha...bangun sayang, maafkan aku Sha. Aku menyesal telah mengatakan semua ini. Bangunlah sayang....” Rendi menangis memeluk Sahsa.
Berliana langsung menuju kearah Rendi ,begitu mendengar teriakan anaknya.
“Anakku Rendi tenangkan dirimu, Sahsa tidak akan kenapa-kenapa.” Bujuk Berliana. Sahsa dibaringkan dikamarnya, sambil menunggu dokter keluarga datang untuk memeriksa kondisi gadis cantik itu.
Rendi menggenggam tangan Sahsa, dia terlihat sangat tertekan, sedih dan takut. Sesekali mencium punggung telapak tangan Sahsa, untuk mengusir rasa cemasnya.
“Dia hanya syok, sehingga mudah pingsan dengan kondisi nya yang juga tengah hamil muda.” Ucap dokter sembari memberi resep obat.
Berliana mengiring langkah dokter keluar dari kamar, sementara Rendi masih setia berada disamping Sahsa. Yang sudah mulai siuman. Tapi Sahsa segera memejamkan mata dan berpura-pura tidak sadar kembali, dia masih enggan dan marah pada sikap Rendi yang tidak jujur dari semula.
“Sahsa maafkan mas sayang, bukan niatku seperti ini. Tapi mas benar-benar mersa rendah dan merasa seperti laki-laki yang tidak berguna dengan kondisi yang cacat dan hanya bergantung pada kursi roda.” Rendi mengelus-elus lembut jemari tangan Sahsa.
“Mas, aku ngerti dan paham alasanmu melakukan semua ini, aku hanya menyayangkan sikap mu itu. Aku merasa dibohongi mas.” Ucap Sahsa tiba-tiba sambil mengusap air mata.
“Mas hanya takut kehilangan mu sha, hanya itu.” Balas Rendi.
Lama Sahsa terdiam kembali, mencoba mengendalikan perasaan yang berkecamuk. Serta memahami alasan- alasan yang diutarakan Rendi.
Rendi mendorong kursi roda nya supaya lebih mendekat lagi, namun saat dia ingin mencoba untuk pindah dan menahan tubuhnya agar bisa duduk diranjang sebelah Sahsa, Rendi tiba-tiba jatuh.
Bruuuaggkk.... Rendi tergeletak diam dilantai.
“Mas....Mas Rendi, kamu kenapa bisa seperti ini mas,” Sahsa langsung menghambur memeluk tubuh Rendi, dibegitu cemas, air mata meluncur deras membasahi kedua pipi nya.
__ADS_1
“Mas bangun mas, kamu nggak boleh terluka lagi aku sudah memaafkan mu mas, Ingat anak kita, dia butuh kamu sayang hu...hu....” Ucap Sahsa disela-sela tangisnya.
“Benar kamu mau memaafkan ku Sha.” Ucap Rendi terlihat lemas.
“Iya mas,” Sahsa membawa tubuh Rendi kedalam pelukannya.
“Sha, kamu mau kan menikah dengan laki-laki cacat sepertiku ini?” Ucap Rendi.
“Ya mas, aku mau dan bersedia menjadi istrimu.” Sahsa mengangguk mantap. Mereka kembali berpelukan. Berliana dan suaminya ikut berpelukan, terharu melihat kebahagiaan anaknya Rendi.
Pernikahan sederhana pun dilangsungkan, atas permintaan Rendi yang tidak menginginkan pesta mewah.
Sasha mengusap air mata sedih, karena tidak ada pihak keluarga nya satupun yang datang ke pernikahan nya. Bahkan kedua orang tua termasuk sahabat nya malah menyalah Sahsa yang bodoh dan mau menikah dengan laki-laki cacat.
Tapi Sahsa tidak memperdulikan penghinaan mereka, karena dia tulus mencintai Rendi. Sasha ikhlas membantu, merawat Rendi walau apapun hasilnya nanti. Namun dilubuk hati terkecilnya Sahsa punya keyakinan jika suaminya bisa disembuhkan.
“Selamat ya Rendi, Sahsa semoga kalian berdua bahagia selamanya.” Ucap Arya.
“Terimakasih Arya.” Balas Rendi.
“Sasha, kamu cantik banget. Rendi beruntung mendapatkan mu.” Puji Sanum.
“Terimakasih kak.” Balas Sahsa dengan balutan pakaian pengantin yang sangat indah melekat ditubuhnya yang putih bersih.
“Coba dari dulu kamu jujur mas, pasti sudah lama kita Menikah.” Balas Sahsa.
“Iya Sha, karena dulu aku tidak tahu jika kamu hamil anakku, bahkan aku baru ingat jika benda keramat yang aku cari-cari dulu tertinggal disini.” Menunjuk bawah perut Sahsa.
“Kenapa kata-kata mas Rendi, hampir sama persis mimpi ku kemaren?” gumam Sahsa.
Part Tiga Terdampar (balik Jeniffer dan Zein) dengan cerita yang lebih seru., okey teman-teman.
__ADS_1
__ADS_1