
"Hallo Bu Melinda," terdengar suara Nita yang bergetar karena panik. sesekali Nita masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling bandara berharap bisa melihat Sanum.
"Ada apa Nita?" jawab Bu Melinda dari seberang sana, dia sudah menduga sesuatu telah terjadi menimpa diri Sanum. tapi Melinda sama sekali tidak cemas, malah dia mengulum senyum bahagia dan yakin jika dalang di balik semua ini adalah putra kesayangannya sendiri.
"Sa....Sanum dan Davina hilang Bu, mereka tidak terlihat sama sekali dibandara. sementara pesawat yang mereka tumpangi sudah satu jam lebih sampai di Bandara ini." Ucap Nita terbata karena panik.
"Okey, kamu tenang dulu Nita. biar sekarang saya hubungi orang-orang suruhan saya di indoneia untuk melacak keberadaan Sanum dan cucuku Davina. sebaiknya kamu kembali pulang saja dan tunggu informasi selanjutnya dariku, Ok." Ucap Melinda yang jauh lebih tenang.
"Baiklah Bu, saya percaya pada kemampuan ibu untuk menemukan sahabat saya." jawab Nita kembali pulang.
Di Meksiko, Melinda langsung menghubungi orang-orang kepercayaan nya. dia mondar-mandir didepan Devan dan Revano yang asyik main mobil-mobilan, Melinda sesekali melihat ke layar ponselnya karena tidak sabaran ingin segera tahu informasi yang sesungguhnya tentang keberadaan Sanum, dia hanya baru menduga-duga Sanum diculik Arya. untuk kebenarannya dia belum tahu pasti.
"Mudah-mudahan tidak ada orang lain yang berniat buruk menculik Sanum dan Davina, aku harap dia benar-benar diculik Arya." gumam Melinda sedikit resah.
Tiba-tiba ponsel Melinda kembali berdering, tertera nama asistennya Sena. wanita tomboi yang memiliki ilmubela diri yang patut diacungi jempol.
__ADS_1
"Bagaimana Sena?" Melinda langsung pada pokok persoalan.
"Nyonya besar, Nona Sanum dan putri nya telah dibawa pergi oleh tuan Arya." terang Sena.
"Syukurlah, kemana Arya membawanya.?"
"Mereka pergi menuju villa kita yang berada dipulau seribu nyonya." jawab Sena sambil mengirimkan foto-foto saat Arya membawa Sanum yang terlihat tengah tertidur karena pengaruh obat, sedangkan Davina terlihat mulai akrab dalam gendongan Arya.
"Bahagia nya, ternyata cucuku sudah bertemu dengan ayah kandungnya." Ucap Melinda terharu dan langsung berjalan menuju taman yang terletak diteras belakang, tempat dimana Oma sering menghabiskan waktu merawat tanaman hias kesayangan nya.
"Melinda?" Ucap Oma heran melihat Melinda berjalan sedikit cepat kearah nya.
"Arya ma, dia tengah bersama Sanum dan putri nya, ternyata tidak sia-sia kita mengizinkan Sanum kembali pulang." Ucap Melinda antusias.
"Syukurlah, aku berharap sekali meresa bisa segera menikah." Tutur Oma menerawang sambil tersenyum merekah, dengan bibir nya yang sudah keriput termakan usia.
__ADS_1
"Aku juga sependapat dengan Oma." Tutur Melinda.
Sanum terbangun dari tidur panjang, dia langsung refleks duduk dari kasur empuk yang ditiduri nya. sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang sangat mewah.
"Dimana aku?"
"Putri ku?"
"Davina, tidak....tidak.... putriku sayang kamu dimana.?" Sanum mulai cemas, dia langsung turun dari ranjang dan mencari-cari Putri nya di setiap sudut ruangan kamar yang sangat luas.
"Davina sayang, kamu dimana nak?" rasa cemas membuat cairan bening mengalir begitu saja dikedua pipinya, yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Sanum.
Langkah kaki Sanum terayun pada pintu yang terhubung ke balkon terbuka lebar, dia langsung berlari kesana. berharap bisa menemukan Davina.
" Kosong? dimana anakku.?" Sanum terheran-heran melihat pemandangan lepas lautan luas, yang terdapat beberapa pulau yang saling terhubung satu sama lainnya, ditengah-tengah kebingungan Sanum melihat kebawah, dan semakin mempertajam penglihatan nya pada sosok yang tengah bermain-main bersama Davina.
__ADS_1
"Arya?"
Sanum kembali pingsan, begitu mengetahui jika dia dan putri nya telah diculik dan dibawa Arya ketempat yang begitu jauh, tempat yang tidak dia ketahui sama sekali keberadaan nya.