
Arya terdiam, dia masih tercekat membaca hasil pemeriksaan kesehatan Sanum, tanpa sadar kertas putih itu jatuh kelantai. sementara Sanum, Davina saling pandang. mereka berdua bingung melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh papa tampan itu.
"Sayang, jadi kamu hamil?"
"Iya mas, calon anak kita yang ke enam." Sanum memegangi pipi suaminya, meyakinkan jika ucapannya benar.
"Alhamdulillah....ini benar-benar anugerah terindah dalam hidupku, semoga anakku kelak menjadi anak yang Sholeh dan Soleha." Arya langsung menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya, dia sangat bahagia. tanpa sadar air mata haru dan bahagia menitik membasahi pipi Arya.
"Mas, udah ah. malu dilihatin Jeniffer sama Davina." Sanum meregangkan pelukan Arya, yang hendak mencium nya kembali, untuk mengungkapkan betapa bahagianya Arya saat ini.
"Selamat ya kak Sanum, aku ikut terharu dan bahagia dengan kehamilan kakak. semoga setelah ini aku juga bisa menyusul memberikan adek buat Safira." bisik Jeniffer setelah mereka duduk di sofa bersebelahan.
"Aamiin, doaku selalu yang terbaik buat mu Jeniffer." balas Sanum.
***
Davina tersenyum senang, membayangkan jika sahabatnya hamil. meskipun Natasya tidak berterus-terang secara langsung kepadanya.
__ADS_1
Hari ini, Natasya ditemani ibu mertuanya juga mengunjungi klinik ternama, dia ingin memastikan secara langsung kondisi menantunya yang menunjukkan perubahan dan ciri-ciri kebanyakan yang dialami ibu hamil muda pada umumnya.
"Ayo sayang kita masuk kedalam, jangan takut. Mama akan menemanimu." bujuk Mama mertua Natasya.
Wajah dokter perempuan paruh baya itu menatap lekat Natasya yang masih terlihat pucat dan lemas. sambil mendengarkan keluhan-keluhan yang dirasakan gadis remaja itu, akhir-akhir ini, kemudian dokter memulai melakukan pemeriksaan nya.
Natasya *******-***** tangannya cemas, menunggu hasil pemeriksaan dokter. begitu juga dengan mertuanya.
Dokter menatap kedua orang dihadapannya itu secara bergantian, baru dia memulai menjelaskan hasil memeriksakannya.
“Sudah, dia menantu saya dok." jawab Mama, sambil menatap Natasya yang terlihat masih lemas.
"Syukurlah, mengingat usianya yang terlihat masih sangat muda."
“Maksud dokter?”
“Anak Nyonya sedang hamil , masuk semester pertama.” Ucap dokter.
__ADS_1
“Alhamdulilah, ini benar-benar berita yang menggembirakan, Mama harus kasih tahu Farrel, berharap dengan kehamilan mu dia benar-benar berubah. agar menjadi calon ayah yang lebih baik kedepannya.” Ucap Mama tersenyum bahagia.
Sementara Natasya langsung memucat, pikiran nya belum mampu menerima kenyataan ini, tubuhnya tiba-tiba bergetar seketika pandangan nya muram dan sukses pingsan dalam hitungan detik itu juga. nampak genangan air mata masih membasahi pelupuk mata dan pipi putih mulus nya. Persis tanpa noda sedikit pun hal inilah yang membuat daya tarik dari Natasya.
“Natasya bangun... Natasya bangun nak....,” dia mendengar suara Mama Sinta, yang memangil namanya, namun Natasya tidak mampu untuk membuka matanya.
Cukup lama Natasha pingsan, saat dia membuka matanya gadis itu melihat disekelilingnya serba putih.
dan seorang laki-laki tampan yang sudah menjadi suaminya duduk disebelah Natasya sambil memegang dan mengusap lembut jemari tangan Natasya.
"Farrel."
Suara lembut Natasya, mengagetkan Farrel. spontan suaminya yang masih mengenakan seragam sekolah SMA itu melepaskan dan menarik tangannya kembali, bersikap acuh dan cuek.
Natasya mengulum senyum, dia tahu jika saat ini Farrel tengah mencemaskan kondisi nya yang tidak stabil. tapi laki-laki yang merupakan cinta pertamanya itu mepadih terlihat gengsi untuk mengakui perasaannya yang sesungguhnya.
Mama Sinta masuk keruangan tempat Natasya dirawat, sambil membawa makanan dan minuman mineral.
__ADS_1