
"Mama....Mama...." teriakan bahagia terdengar dari Revano dan Devan begitu sampai dimeksiko.
"Anak-anak ku, mama sangat merindukan mu Sayang." memeluk dan mencium secara bergantian kedua bocah yang sangat dirindukan nya.
"Maafkan Mama sayang, karena meninggalkan kalian bersama bi Ijah. Mama janji ngak bakal ninggalin anak-anak Mama lagi." Ucap Sanum dengan air mata yang mengalir deras, terharu karena bisa berkumpul dengan ketiga buah hatinya.
Devan juga berlari kearah adik bungsunya, dia memeluk erat Davina yang diikuti juga oleh Revano. terlihat sekali ikatan batin yang begitu kuat dari ketiga anak kembar yang tampan dan cantik itu.
Oma dan Mama Melinda yang semula hanya terharu menyaksikan, perlahan mendekati cucu-cucu nya.
"Revano, Devan dan Davina. sini sayang gantian peluk Oma ya nak." merentangkan tangannya pada bocah-bocah kecil yang terlihat begitu imut dan menggemaskan.
"Oma.....,' Ucap mereka serempak dan berlari memeluk Oma dan Melinda bergantian.
"Duuuuh...cantik dan tampan sekali cucuku ini." Melinda mendarat ciuman penuh kasih sayang, tanpa sadar dia menitikkan air mata nya, karena teringat tingkah laku Revano dan Devan sangat mirip sekali dengan Arya sewaktu kecil.
"Oma Napa nangis." Tanya Devan dengan tampang polosnya.
"Ini tandanya Oma sangat bahagia sayang, mulai sekarang kita semua akan berkumpul tinggal di rumah Oma yang besar ini." Ucap Melinda.
__ADS_1
"Benararan ma," terakhir Revano sambil melirik mamanya meminta kepastian.
"Iya nak, Ucap terimakasih dulu sama Oma dan Grandmother. karena sudah membantu biaya pengobatan adek Davina. serta memberikan kita tempat tinggal yang jauh lebih bagus dan layak." terang Sanum.
"Terimakasih Oma," Ucap mereka serempak.
"Iya sayang." Oma mengajak ketiga cucu-cucu nya menuju ruangan yang sudah didesain secantik mungkin ala anak-anak, yang merupakan area bermain.
"Banyak mainan," teriak Devan yang langsung menarik tangan Revano. sehingga mereka hampir jatuh. Bi Ijah langsung mengikuti dari belakang.
"Hati-hati nak," Ucap Sanum.
"Davina sini main sama Oma saja." Melinda mengendong Davina berjalan menuju rumah-rumahan Barbie.
"Bi Ijah istrahat lah, bibi pasti capek habis perjalanan jauh. biar aku yang temani anak-anak." Ucap Sanum.
"Baik Sanum."
Bi Ijah langsung diantar pelayan menuju kamar yang sudah disediakan untuk nya.
__ADS_1
"Bu Melinda sangat baik, Semoga dengan pindahnya kami ke negara ini, Sanum bisa tenang dan nyaman tanpa perlu khawatir lagi dengan anak-anak nya." gumam bi Ijah.
Di kantor Arya tidak pernah fokus, dia kembali teringat bagaimana Sanum berusaha untuk mencari biaya untuk pengobatan Putri nya. sampai diarela menjadi wanita nya.
"Mika suruh Mery menuju ruangan kerjaku." perintah Arya.
"Baik Tuan."jawab Mika.
Tidak lama Bu Mery datang, raut wajahnya terlihat gusar antara cemas dan penasaran kenapa Arya memanggilnya untuk menghadap langsung.
"Maaf Tuan, ada apa Tuan memanggilku?"
"Berapa hutang-hutang Sanum.. dan apa alasan nya meminjam uang?"
"Saya tidak tahu pasti Tuan, tapi dulu dia meminjam untuk biaya pengobatan ibunya dan tidak berapa lama ibunya meninggal. setelah itu dia ingin meminjam jlagi dengan jumlah yang sangat banyak." Ucap Mery menjelaskan.
"Kenapa kamu tidak memberikan nya?" Arya menatap tajam Bu Mery yang langsung menunduk ketakutan.
"Saya tidak berani mengajukan pinjaman Sanum itu, kar... karena jumlah nya sangat banyak." jawab Mery terbata.
__ADS_1
Arya menarik nafas panjang, dia tidak bisa menyalahkan Mery karena dia juga tidak mengetahui permasalahan antara dirinya dan Sanum.
"Baiklah kamu boleh pergi." terang Arya kesal.