One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Sekawanan monyet


__ADS_3

Sekawan monyet liar, seakan-akan ikut terhanyut menyaksikan kebahagiaan Zein dan Jeniffer. bahkan seekor monyet jantan yang berukuran cukup besar. tanpa sadar tergelincir dari dahan pohon yang biasanya digunakan sebagai rumah atau tempat nya bersantai selama ini. kecantikan Jeniffer


membuat nya lupa kodratnya yang sesungguhnya.


Zein dan Jeniffer yang mendengar keributan dari atas pohon, tidak jauh dari tempat mereka mandi-mandi. mereka langsung menghentikan tawa dan saling lempar air. keduanya refleks menatap balik kawanan monyet yang seolah-olah menertawakan salah satu teman mereka yang jatuh ketanah.


“Uda banyak monyet, aku takuuut.” bisik Jeniffer berdiri dibelakang Zein.


“Kamu nggak usah takut Jeniffer, mereka sudah biasa melihat orang-orang mandi di telaga ini.” bujuk Zein mencoba menenangkan Jeniffer.


“ Tapi monyet besar itu mendekati kita Uda.” Jeniffer yang ketakutan memeluk tubuh Zein dari belakang.


“Kenapa monyet Besar ini sekarang berubah, biasanya dia tidak pernah mengganggu orang-orang yang mandi di telaga ini.” Gumam Zein menatap tajam sang monyet,


Sementara si monyet masih menatap tajam ke arah wanita pujaan Zein. Nampak si monyet tengah berfikir keras dan penasaran. Dia bingung membedakan apakah Jeniffer Manusia atau sejenis buah-buahan.

__ADS_1


Rambut Jeniffer yang pirang, membuat monyet berfikir jika itu rambut jagung. Sedangkan kulit nya yang sangat putih, yang dipikirkan monyet adalah isi ubi kayu. yang terlihat sangat enak untuk dimakan.


Tapi saat melirik buah dada Jennifer dan bokong nya, kejantanan sang monyet langsung beraksi, sehingga monyet sekarang berfikir bagaimana caranya untuk menyingkirkan Zein. yang merupakan saingan terberat nya saat ini.


Otaknya yang dangkal, membuat sang monyet sulit untuk berfikir cepat dia malah duduk di atas batu besar sambil menatap tubuh Jeniffer.


Sehingga Zein dan Jeniffer berhasil mundur secara perlahan untuk mengambil baju-baju mereka yang sengaja di jemur dibelakang monyet itu. Namun belum sempat Zein menjulurkan tangannya, monyet itu langsung tersadar dan melarikan baju Jeniffer, monyet itu melompat cepat naik keatas pohon, membuat teman-teman yang lain saling berebutan saling tarik menarik baju Jeniffer hingga pakaian itu robek.


“Dasar monyet-moyet sialan, turun kalian.” Tantang Zein yang sudah mengenakan pakaian nya kembali, sementara Jeniffer meringkuk kedinginan.


Diluar dugaan Zein, segerombolan monyet-moyet itu malah menyerang balik. sehingga membuat Jeniffer dan Zein lari pontang-panting, dibalik semak-semak seorang gadis cantik yang semula terbakar api cemburu ikut tertawa puas, apalagi melihat Jeniffer yang lari ketakutan dengan hanya mengunakan dalaman saja.


Jeniffer tidak kehilangan akal, dia berhasil bersembunyi di balik orang-orang sawah, dengan hati-hati Jeniffer mengunakan pakaian orang-orang sawah tersebut, melihat penampilan Jeniffer yang berubah jelek, membuat ketua kawanan monyet itu mundur.


Dengan nafas ngos-ngosan Zein menarik tangan Jeniffer.

__ADS_1


“Ayo Jeniffer, kita tinggal kan tempat ini.” Ucap Zein.


“Uda sih, ngapain melawan monyet-moyet itu.” Ucap Jeniffer terlihat kesal.


“Bukan nya Uda melawan mereka, tapi biasanya monyet-moyet itu langsung kabur jika dihadang pakai kayu. Uda tidak menyangka jika mereka sekarang sudah pintar melawan.” Ucap Zein.


“Kapan Uda terakhir kali bertemu mereka?”


“Mumhkin sekitar lima belas tahun silam.” Jawab Zein.


“Pantesan mereka melawan Uda, karena mereka sudah lupa wajah Uda, dan berfikir jika uda pendatang baru di desa ini.” Jawab Jeniffer.


“Mungkin juga.” balas Zein.


“Jeni, Uda semakin cinta melihat penampilan mu seperti ini.” Ucap Zein sambil menatap dan menahan senyum kearah Jeniffer.

__ADS_1


“Habis Jeniffer ngak punya pilihan lain Uda, dari pada nggak pakai apa-apa sama sekali mendingan ini.” Ucap Jeniffer dengan muka memerah karena malu, serta rasa gatal-gatal.


__ADS_2