
“ Zein, Jeniffer selamat ya ...Semoga kalian berdua bahagia dan saling melengkapi satu sama lain.” Ucap Arya bersiap untuk kembali pulang mengingat begitu banyak pekerjaan yang sedang menunggu.
“Ya bos, terimakasih atas semua dukungan dan bantuan nya.” Ucap Zein yang ikut mengantar Arya dan Sanum ke bandara.
“Ini sudah tugasku Zein, karena kamu bukan sekedar Asisten. melainkan sahabat dan saudara bagiku.” Balas Arya.
“Setelah semua urusanku dikampung selesai, secepatnya aku akan kembali menyusul dan bekerja seperti biasanya.” Ucap Zein, mengingat seminggu ini dia diberi waktu liburan oleh Arya untuk menikmati bulan madu mereka disebuah Villa. ini juga atas permintaan Jeniffer yang sangat menyukai suasana dikampung halaman suaminya.
“Zein, titip Putri kami Jeniffer ya.” Ucap Mami terlihat sedih menatap anak semata wayangnya yang sudah menikah.
“Tentu mi, karena aku sangat menyayangi dan mencintai Jeniffer.” Balas Zein.
“Senang ya mas, melihat kebahagiaan Zein dan Jeniffer. sepertinya mereka pasangan yang sangat serasi dan sangat cocok.” Ucap Sanum sambil mengikuti langkah suaminya memasuki pesawat.
“Iya sayang sama seperti kita, aku ingin selalu bersama mu selamanya. hingga maut memisahkan kita berdua.” balas Arya mencium kening Sanum seiring pesawat yang mulai mendarat di udara membawa mereka kembali ke ibukota metropolitan.
****
__ADS_1
Tanpa terasa seiring berjalannya waktu, kehamilan Sanum semakin membesar. bahkan dia mulai kewalahan untuk mengurus dirinya sendiri, dimasa kehamilan yang sekarang jauh berbeda dengan kehamilan pertamanya.
“Sayang kakimu kelihatan semakin membengkak, “ Ucap Arya yang baru sadar perubahan-perubahan tubuh istrinya.
“Iya mas, bahkan aku merasa kakiku sebesar kaki gajah.” Balas Sanum yang tidak bisa melihat kakinya karena terhalang oleh perutnya yang cukup besar.
Arya duduk disebelah Sanum, perlahan dia memijid dan mengompres kaki Sanum.
“Sayang, apa kamu seperti ini sewaktu hamil Davina, Devan dan Devano?” Ucap Arya menatap kasihan istrinya.
“Iya mas, tapi aku jauh lebih kuat dan mandiri sewaktu hamil mereka. tidak seperti sekarang, untuk mengurus diriku sendiri pun sering dibantu pelayan, apalagi untuk mengurus mu mas.” Ucap Sanum.
“Anak-anak ku sayang.... jangan nakal dan buat Mama susah ya, kasihan Mama.” Bisik Arya keperut besar Sanum.
“Iya papa...” balas Sanum seolah-olah mewakili jawaban anaknya.
“Sayang, aku sudah menyulap dan menyediakan salah satu ruangan khusus di Rumah sakit milik Mama, termasuk mendatangkan dokter terbaik yang akan membantu mu saat proses melahirkan nantinya. ” Ucap Arya terlihat bangga.
__ADS_1
“Untuk apa semua itu mas?”
“Istriku, aku ingin kamu merasa nyaman. Aku juga melakukan ini semua untuk menebus kesalahan ku yang dulu tidak tahu, dan kamu berjuang melahirkan sendirian,” Ucap Arya mengelus dagu Sanum.
“ Bagaimana pun mewah bentuk tempat nya, rasa sakit melahirkan itu akan tetap sama suamiku sayang.” Goda Sanum.
“Aku tahu, tapi aku ingin penerus Arya seterusnya dilahirkan ditempat yang terbaik.” Balas Arya.
Sanum menganggukan kepalanya pelan, sambil tersenyum memaklumi alasan suaminya, toh itu juga Rumah sakit milik keluarganya sendiri.
“Ayo lawan aku,” teriak Devan yang berlarian bersama Devano mereka main perang-perangan.
Ketiga anak-anak kembar mereka sangat aktif, terutama Devan dan Devano. namun hal itu justru membuat Sanum merasakan kebahagiaan yang teramat sangat.
“Davina sayang, sini main dekat Mama nak.” Ajak Sanum melihat Davina sibuk sendiri dengan bonekanya.
“Ma, Davina pengen adeknya nanti perempuan. biar Vina ada teman mainya.” Ucap Davina dengan wajah polosnya.
__ADS_1
“Insya Allah nak, karena menurut hasil pemeriksaan dokter adik-adik Davina kedua nya perempuan.” Ucap Sanum antusias.
“Benaran ma? Asyik...asyik...nanti Davina sudah ada teman untuk bermain.” Ucap Davina terlihat sangat bahagia.