
"Sayang, kamu yakin jika bakal baik-baik saja?"
Arya memperhatikan Sanum dengan seksama, dia khawatir jika istri cantik nya itu bakal mual atau pusing lagi dipesta pernikahan Safira nantinya.
"Ya mas, seperti nya. kondisi ku ini sudah jauh lebih baik sekarang." terang Sanum, yang sudah jarang sekali merasakan mual dan pusing-pusing lagi.
"Sayang, semoga saja nanti tidak ada masalah yang berarti dipesta Safira ya."
"Maksud mas."
"Ya, kita kan sudah mendengar sendiri penuturan Zein, tentang bagaimana kehidupan Alexander dulunya, serta asal-usul keluarga kerajaan yang menjadi orang tua angkatnya." terang Arya.
"Iiiisszz... merinding juga ya mas," Ucap Sanum membayangkan bagaimana kehidupan Alexander sebelumnya.
"Baiklah, sekarang kita harus segera bersiap-siap." ucap Arya.
Sanum mengunakan gaun terusan dengan motif warna lembut, yang terlihat sangat cocok dikenakan Mama lima orang anak itu, bahkan Sanum juga mengunakan hijab, meskipun belum sepenuhnya dia merubah penampilannya.
__ADS_1
"Subhanallah, cantik nya istriku dengan pakaian muslimah seperti ini."
"Masa sih mas."
Sanum kembali memperhatikan pantulan dirinya, dihadapan cermin besar yang terdapat dikamar mereka. begitu juga dengan Arya, yang jauh lebih rapi dan menawan di usianya sekarang.
"Tapi alangkah indahnya, jika istri cantik ku ini mengunakan hijab untuk seterusnya." Arya mengelus wajah Sanum.
"Insyaallah mas, Sanum akan merubah penampilan ini dengan perlahan, mengingat rasanya begitu nyaman dan adem, setelah mengunakan hijab dan pakaian yang lebih tertutup."
"Safira... sahabat ku, maaf ya Davina ngak bisa hadir, tapi aku mengirimkan doa terbaik untuk pernikahan mu, semoga terus bahagia, langgeng sampai Kakek nenek." teriak Davina sambil melambaikan tangannya pada sahabat, yang sedang mengenakan pakaian pengantin, yang terlihat begitu indah dan sangat cantik dikenakan oleh Safira, dalam balutan pakaian adat Minang.
"Ya Davina, terimakasih ya atas doanya." Mereka berdua tidak bisa ngobrol lama-lama, karena masih banyak yang ingin bersalaman dengan Safira.
Suasana pesta yang ramai, membuat Arya tidak melepaskan bimbingan tanganya pada tangan lembut Sanum, dia tidak ingin istrinya itu kenapa-napa. sambil berbisik pada Sanum agar istri nya selalu berusaha istighfar. mengigat Arya mersa aneh dan tiba-tiba tengkuknya merinding saat memasuki pesta besar Safira.
"Mas, kamu kenapa?"
__ADS_1
"Entahlah sayang, masa dipesta mewah dan gedung yang terbaik di kota ini. aku mersa seperti ada yang aneh, dan tengkuk ku ini tersa dingin." bisik Arya.
"Mas, sebaiknya kita langsung beri selamat pada Zein dan keluarga. selepas itu kita sebaiknya langsung pulang." ucap Sanum.
"Baiklah ma."
Senyum mengembang dibibir Zein dan Jeniffer, mereka terlihat bahagia melihat kedatangan Sanum dan Arya.
"Selamat ya Zein, tanpa tersa kamu sekarang sudah memiliki seorang menantu yang tampan." bisik Arya menyalami Zein.
"Selamat ya Jeniffer." yang diikuti oleh Sanum, selepas itu mereka juga menyalami kedua pasangan pengantin baru yang terlihat tengah berbahagia.
"Safira, selamat ya nak. semoga kalian berdua bisa jadi keluarga yang sakinah, dan bahagia selalu ya sayang." ucap Sanum.
"Amiiin, terimakasih ya Tante Sanum."
Arya juga menyalami Alexander, yang terlihat jauh lebih matang. namun tidak mengurangi pesona ketampanan nya. disebelah kiri Alexander, nampak tuan Husein yang ikut tersenyum menyambut kedatangan kolega bisnisnya tersebut.
__ADS_1