
Cukup lama Arya terdiam, dia seakan-akan masih tidak rela mendengar keputusan Zein yang terkesan dibuat-buat, tidak mudah baginya untuk melepas Zein berhenti bekerja di perusahan nya. mengingat selama ini Zein merupakan orang kepercayaannya yang sudah banyak berjasa bagi perkembangan perusahaan selama ini.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu untuk berhenti di perusahan ku ini Zein?" Arya kembali mengulang pertanyaan nya, dia berharap Zein akan merubah keputusannya.
"Ya bos." jawab Zein mantap.
Arya akirnya mengangguk setuju, melihat keputusan Zein yang sudah bulat. meskipun Zein tidak menceritakan alasan tepatnya, kenapa berhenti bekerja dan memilih tinggal dan mengembangkan usaha perkebunan nya dikampung halaman sendiri.
"Zein ini cek. tulislah berapapun kamu inginkan, anggaplah pesangon dariku atas pekerjaan mu yang bagus selama ini." ucap Arya sambil menyerahkan selembar cek kosong ketangan Zein.
"Tidak bos," tolak Zein.
"Kenapa Zein?"
"Aku merasa pemberian bos sudah lebih dari cukup selama ini, aku dan keluargaku dikampung bisa hidup jauh lebih layak sekarang, bahkan dari hasil perkebunan yang lumayan luas itu, kami sudah bisa membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat disekitar dikampung ku." ucap Zein.
__ADS_1
"Itu semua setimpal dengan hasil kerja kerasmu selama ini Zein." balas Arya sambil menulis cek kosong itu dan menyerahkan nya pada Zein.
"Terimalah Zein, aku tidak suka penolakan darimu lagi." ucap Arya.
"Ta....tapi bos," Ucap Zein bingung harus memberikan alasan untuk menolak, apalagi setelah melihat nominal yang tertulis di cek tersebut. Arya memberi kode dengan bahasa isyarat agar zein tidak berbicara atau memberikan alasan lagi.
"Maafkan aku bos Arya, aku belum siap menceritakan masalah yang membuat aku memilih untuk berhenti bekerja. aku tidak mau semua akan ikut resah setelah mendengar masalah kehidupan ku dengan Jeniffer, biarlah kami berdua menyelesaikan nya terlebih dahulu." Gumam Zein melangkah meninggalkan kantor perusahaan yang sudah membuatnya menjadi orang sukses.
"Tunggu Zein."
Zein menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Arya.
Bibir Zein bergetar mendengar ucapan Arya, dia berjalan mendekati Arya tanpa sadar dia memeluk Arya. sebelum akirnya dia tersenyum sambil mengangguk pelan, dan langsung memantapkan langkahnya lagi untuk pergi.
Arya terhenyak duduk dikursi kebesarannya, sesekali dia mengusap kasar wajah tampan nya. tidak mudah bagi ayah lima orang anak itu mencari pengganti Zein. mengingat Zein sudah punya tempat tersendiri di hati Arya dan keluarga nya.
__ADS_1
***
Sanum mulai resah, tidak biasanya Arya pulang telat dari kantor. dia kembali melirik jam didinding yang tergantung ditengah-tengah ruang utama Rumah besar itu.
"Sudah jam sepuluh malam lebih, kenapa mas Arya belum juga pulang." Gumam Sanum mondar-mandir.
Sanum menyambar ponsel nya, mendial No ponsel suamiku. namun belum sempat dia melakukan panggilan, nampak mobil Arya sudah memasuki gerbang utama.
"Mas Arya sudah pulang." Sanum segera berjalan menuju pintu, dia ingin menyambut suami tercinta nya.
Ceklek... , pintu terbuka " Malam sayang." Ucap Arya tersenyum senang begitu tahu jika yang membukakan pintu adalah istri tercintanya.
Sanum menyalami tangan suaminya, dan membantu membawakan tas kecil kerja Arya.
"Mas tumben pulang kerja larut begini?"
__ADS_1
"Iya sayang, karena Zein sudah berhenti dari perusahaan, sehingga mas terpaksa menghandle semua pekerjaan sendiri sampai mas menemukan penggantinya yang baru." terang Arya.
"Berhenti? kenapa mas dan kenapa begitu mendadak?" ucap Sanum heran sekaligus Bingung.