One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Potong rambut


__ADS_3

Pagi yang cerah ini, seakan melukiskan suasana hati dan kebahagiaan keluarga kecil Sanum, dia menatap Arya dan ketiga anak-anak berlarian ditaman rumah. senyum manis mengembang disudut bibirnya sambil mengelus-elus perutnya yang semakin membesar.


Sudah menjadi kebiasaan Arya, setiap hari Minggu dia menghabiskan waktu bersama keluarnya, mengajak main, jalan-jalan yang penting senyum Sanum dan anak-anak nya membuat Arya dan Melinda merasa kebahagiaan mereka sangat lengkap.


Arya juga sudah mulai memperkenalkan pendidikan, dengan mendatangkan guru profesional kerumahnya, untuk mengajari sikembar secara perlahan-lahan.


Meskipun pencarian terhadap Zein dan Jeniffer masih tetap dilanjutkan, bahkan Arya menambah dan mengerahkan orang-orang kepercayaan nya yang handal. berharap keduanya bisa ditemukan dengan selamat.


********


Dirumah Rendi, merengkuh tubuh Sahsa kedalam pelukannya, rasanya dia begitu dilema untuk berterus-terang. Rendi melihat maminya Berliana yang tengah mengintip mereka dari balik pintu.


Berliana memberi Kode dengan bahasa isyarat, meminta Rendi untuk berterus-terang. Melihat dukungan dari Mami nya barusan. Rendi menarik nafas dalam-dalam, dan merenggang kan pelukannya. Sambil membulat kan tekad untuk berterus-terang terang pada Sahsa.


“Mungkin sekarang waktu yang tepat, Sasha harus tahu jika aku ada laki-laki brengsek yang telah menghamilinya.” Gumam Rendi.


“Sahsa aku mau potong rambut, dan membersihkan bulu-bulu halus diwajahku ini.” Ucap Rendi.


“Benar mas.” Ucap Sahsa antusias.


“Ya Sha, tapi dengan beberapa syarat yang harus kamu penuhi.” Ucap Rendi dengan mimik serius.


“Okey, aku setuju.” Sahsa tersenyum membelai wajah Rendi.

__ADS_1


“Pertama, aku ingin kamu sendiri yang memotong  rambut ku. Apa kamu siap?” tanya Rendi.


“Siap,” balas Sahsa.


“Kedua, aku ingin kamu berjanji tidak akan pergi meninggalkan aku. setelah tahu bentuk wajah ku yang sesungguhnya. apapun nantinya Kamu harus menerima ku.”


“Ketiga, kamu harus memaafkan ku.” Ucap Rendi.


“Iya mas, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu.” Menautkan jemari kelingkingnya.


Sahsa mendorong pelan kursi roda Rendi menuju sebuah ruangan, disana sudah tersedia alat-alat untuk bercukur dan potong rambut. Meskipun tidak memiliki keahlian khusus. Namun Sahsa sangat  paham dan mengerti cara penggunaan alat-alat tersebut.


Detak jantung Rendi jangan ditanya lagi, semakin berpacu bercampur cemas. Menunggu reaksi Sahsa nantinya.


Setelah merapikan rambut Rendi, Sahsa mulai mencukur secara perlahan jambang  diwajah tampan Rendi.


“Kenapa perasaan ku menjadi tiba-tiba tidak enak begini, setelah mencukur jambang dan rambut mas Rendi.” Gumam Sahsa sambil teringat kembali wajah laki-laki malam itu.


Terakhir tinggal  kumis yang masih melekat diwajah Rendi, saat tangan Sahsa terangkat ingin mencukur kumis tersebut. Rendi tiba-tiba menghentikan tangan Sahsa.


“Cukup Sha.” Ucap Rendi. 


“Kenapa mas?”

__ADS_1


Sahsa semakin dibuat penasaran, detak jantung nya dan Rendi saat ini saling berpacu dengan perasaan mereka masing-masing.


“Aku takut Sha.”


“Takut kenapa mas.” Ucap Sahsa.


Rendi menarik tubuh Sahsa kedalam pelukannya, seakan dia begitu takut kehilangan gadis dihadapannya ini.


“Mas, aku sayang dan mencintai mu mas. Percayalah aku tidak akan pergi.” Bujuk Sahsa.


“Biarkan seperti ini dulu Sha, aku masih ingin berada dalam pelukanmu.” Bisik Rendi.


Iya mas,” Sahsa juga membalas pelukan Rendi, yang kemudian menangkup wajah cantik Sahsa. Memberikan ciuman hangat dikening, mata dan kedua pipinya.


Tangan Rendi mengusap bibir Sahsa, ingin sekali dia mencium dan menumpahkan rasa cinta nya. Tapi keraguan membuat nya yang menatap dan mengelus lembut.


Entah keberanian dari mana, tanpa sadar Sahsa semakin mendekatkan bibirnya dan mencium lembut Rendi duluan.


“I Love Yuo mas Rendi.” Bisik Sahsa.


“Love Yuo too Sha,” balas Rendi Tanpa sadar menitikkan air matanya.


 

__ADS_1


__ADS_2