
"Jeniffer, cantik kan calon kakak ipar mu ini." Ucap Oma senang melirik Sanum yang tersenyum manis duduk disebelah Arya.
"I...Iya sih Oma," jawab Jeni memaksakan senyum. meskipun dihatinya sekarang bersarang kebencian dan rasa dengki.
"Oma sangat bahagia, Melihat keluarga kita bisa berkumpul seperti ini, apalagi Jeniffer sekarang sudah menunjukkan perubahan yang sangat baik." Ucap Oma.
"Iya Oma, Jeni sangat menyesal atas kesalahan-kesalahan yang pernah Jeni lakukan, terutama pada kak Arya." Jeniffer melirik Arya yang cuek.
Meskipun begitu, tidak menyurutkan rasa cinta Jeniffer. dia seperti mendapatkan tantangan baru untuk menaklukkan hati dan cinta Arya. sehingga dia semakin termotivasi Melihat sikap dingin dan cuek Arya.
"Mmmmhhh...kita lihat saja nanti, sejauh mana kamu bisa membentengi dirimu kak Arya." gumam Jeni.
Seminggu berlalu, setelah semua keinginan nya hampir terpenuhi semua, kesehatan Oma yang semula sudah dikatakan membaik. tiba-tiba mengalami penurunan drastis, sehingga Arya tidak ingin membuang-buang waktu lagi, dia langsung membawa Oma kerumah sakit terbaik negara ini.
Kondisi Oma benar-benar droup, hingga tidak sadarkah diri dihari kedua dia dirawat. hal ini membuat Arya hanya bisa pasrah sambil berdoa untuk kesembuhan Oma, sebelah tangan Arya mengusap-usap pelan rambut putih Oma.
"Oma, cepat sembuh. bukan kah Oma ingin melihat Arya menikah?" bisik Arya.
Didalam bawah sadarnya, Oma mencoba membuka mata dan menggerakkan anggota tubuh nya. semangat perempuan sepuh itu seakan-akan terpanggil kembali begitu mendengar Arya yang ingin segera menikah.
__ADS_1
"Cucuku Arya, cepatlah menikah nak.....Oma tidak punya banyak waktu lagi." terdengar suara Oma yang sangat pelan, nyaris seperti bisikkan.
"Syukurlah Oma sudah sadar, Ba... Baiklah Oma," Ucap Arya bangkit dan langsung memberitahukan kepada maminya dan Sanum agar segera bersiap.
Ruangan tempat Oma dirawat, langsung disulap menjadi tempat pernikahan dadakan dan sangat sederhana. tidak ada dekorasi mahal maupun pakaian penganten dengan rancangan Desainer Dunia, seperti harapan Arya sebelumnya.
Dengan bersandar pada tempat tidur ruang rawatnya, oma tersenyum senang. sambil memperhatikan Sanum dan Arya yang sudah duduk dihadapan wali hakim dan penghulu yang akan menikahkan mereka berdua.
"Semoga kalian berdua bahagia cucu-cucu ku," Ucap Oma memberi restu pada Sanum dan Arya.
Dengan lantang Arya mengucapkan akad nikah, karena Arya tidak ingin melakukan kesalahan lagi dihari yang paling berharga sekali seumur hidupnya, dia juga tidak ingin membuang-buang waktu mengingat Oma yang sudah sesak nafas, tetapi masih memaksakan dirinya tersenyum bahagia.
Terdengar ucapan dari saksi-saksi yang menyaksikan proses akad nikah, yang langsung disambung dengan doa untuk kedua mempelai.
"Mama," terdengar teriakan Mami Melinda yang menangus memeluk Oma, sehingga mengagetkan Arya yang tengah khusuk berdoa. dia mengangkat kepalanya melirik kearah Oma.
"Oma," Ucap Arya.
Tim dokter segera memeriksa kondisi Oma yang sudah terdiam, namun raut wajahnya terlihat seperti tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Bagaimana dok?"
"Maaf tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. namun yang diatas berkehendak lain. dia lebih menyayangi Nyonya Elizabeth." Ucap dokter.
Arya terdiam, mulutnya seakan terkunci rapat. dalam hatinya Arya menangis pilu Melihat Oma yang disayangi nya telah pergi untuk selamanya. begitu juga dengan Sanum, dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, untuk menahan isak tangisnya. Sanum merasa sedih sama sewaktu ibunya yang dulu berpulang.
"Selamat jalan Oma," Ucap Sanum lirih.
Prose pemakaman Oma berjalan hikmah, sesuai permintaan terakhir nya yang ingin dikubur disamping makam suaminya tercinta. dan disebelah kanannya merupakan makam papinya Arya.
Jeniffer diapit kedua orang tuanya, hanya bisa terdiam membisu mengikuti prosesi pemakaman, yang diliput langsung oleh media lokal maupun internasional, mengingat Arya dan keluarganyanya bukan lah orang sembarangan.
"Sekarang aku sudah kalah dari perempuan itu, mereka ternyata sudah menikah dirumah sakit ma," Jeniffer merengek, berbisik ditelinga maminya.
"Sabar Jeniffer, bersikap lah sebaik mungkin dan sewajarnya. " balas maminya mencoba untuk menenangkan putrinya yang tengah cemburu buta.
Sementara itu, Rendi yang secara tidak sengaja menyaksikan siaran langsung proses pemakaman Oma Arya tercekat. sambil memperhatikan seksama wajah wanita cantik yang berdiri disebelah Arya dengan mengunakan pakaian hitam serta penutup kepala, meskipun wajah cantik disebelah Arya itu juga mengunakan kaca mata hitam, namun Rendi masih bisa mengenali dengan jelas siapa wanita itu.
"Sanum?"
__ADS_1