One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Merasa nyaman


__ADS_3

Balqis menganti pakaian sekolah, dengan pakaian yang lebih santai. merebahkan tubuhnya yang lelah setelah pelajaran matematika yang membuat nya puyeng, mengingat kemampuan belajar Balqis dan Hayona terbilang biasa saja, bahkan mereka berdua juga tidak memiliki prestasi selama ini untuk dibanggakan, hanya wajah cantik lah yang menjadi daya tarik bagi Balqis yang juga terlahir dari keluarga kaya.


Meskipun begitu, Balqis merasa betah, dan sangat nyaman dengan sekolah baru, dia dan Hayona begitu Cocok tinggal satu kamar maupun kelas, dan selalu bersama-sama untuk pergi kemana pun.


"Balqis cepatan lihat sini"


Hayona menarik tangan Balqis yang masih enggan beranjak dari tempat tidur.


"Apaan sih" umpet Balqis malas, tapi dia tetap mengikuti langkah kaki Hayona menuju balkon asrama Putri, yang berhadapan langsung dengan asrama putra, yang dibatasi sebuah lapangan basket ditengah-tengah nya.


"Tuch...liat cowok kembar, yang main basket di lapangan itu. penampilan mereka begitu memukau " ucap Hayona begitu antusias, memperhatikan Devan, Devano serta tim basket mereka yang tengah berlatih.


" Itukan kak Devan sama kak Devano, udah ah. aku mau lanjut tidur" ucap Balqis, tapi langkahnya dihentikan kembali oleh Hayona.

__ADS_1


"Ya..Ya ...aku tahu, dan mereka sangat tampan sekali, ngomong-ngomong aku dengar kamu mengenal mereka berdua, apa kamu tidak tertarik salah satu diantara mereka?" ucap Hayona.


"Nggak aku tidak tertarik dengan nya, aku sudah menganggap mereka sebagai saudara saja, mending biat kamu aja Kedua nya." balas Balqis.


"Keduanya, wah....wah.... bagaimana rasanya ya?" pikiran mesum Hayona langsung berkelana, bercinta dengan dua pria tampan.


Saat Balqis ingin berbalik Kekamar, namun terlambat Devan melirik ke atas, dan melambaikan tangannya ke arah Balqis, tapi malah Hayona yang lebih semangat membalas lambaian tangan Devan itu.


Permainan bola basket Devan dan Devano sungguh memukau, membuat para cewek sekolah yang melihat mereka latihan di lapangan itu berteriak histeris, dan mengelu-elukan dua remaja tampan-tampan itu.


Balqis tiba-tiba membulatkan matanya tidak percaya, saat menyaksikan Hayona ternyata tidak berada disamping nya lagi. gadis itu sudah sampai di bawah berlari ke arah Devan dan Devano membawakan minuman mineral.


"Hayona benar-benar nekat, sejak kapan anak itu turun kebawah. apa dia menanggapi ucapan ku barusan dengan serius, dan berharap bisa memiliki keduanya?" gumam Balqis sambil melirik sekitar nya sudah yang sudah Kosong.

__ADS_1


"Kak Devan pasti haus, ni minuman mineral yang sengaja aku bawain buat kak Devan" Hayona tersenyum kagum ke arah Devan.


"Terimakasih, kamu pasti teman satu kamar Balqis" ucap Devan.


"Ya Kak"


"Kalau begitu kamu bisa bantuin aku nggak" bisik Devan, yang membuat Devano melirik kearah Devan dan Hayona bingung karena mereka seperti berbisik-bisik tetangga.


"Bantu aku agar bisa dekat dengan Balqis, ntar kamu aku kasih imbalan nya" mencoba membujuk Hayona yang tiba-tiba terdiam.


"Aduuuuh...gue pikir kak Devan bakal tertarik melihat ku, tuanya minta supaya menjadi makanan comblang. tapi ngak apalah masih ada satu lagi. sapa tahu dia juga bakal tertarik melihat pesona seorang Hayona seperti ku" Gumam Hayona nyengir kuda.


"Ya aku mau, asal kak Devano juga mau bantuin aku." menatap serius Devan.

__ADS_1


"Bantuin apa?"


__ADS_2