
Arya merasa gemas dengan tingkah Putri kecilnya itu. Refleks dia menarik tubuh Davina dan mengangkatnya tinggi-tinggi. membuat gadis kecil itu tertawa bahagia.
“Ternyata Putri kecilku yang cantik ini, sudah tidak sabaran lagi untuk punya dedek bayi ya.” Mencium kedua pipi Davina yang tertawa lepas.
"Iya pa, pasti adek Davina nantinya cantik-cantik dan imut." balasnya.
Ditengah-tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba Sanum mersa sakit yang teramat sangat. meskipun beberapa hari ini dia sudah sering merasakan kontraksi palsu, namun sekarang rasanya jauh lebih sakit.
“Aduuuh... aduuuuuh sakiiit mas,” Ucap Sanum tiba-tiba, yang membuat semua langsung panik.
“Sayang kamu kenapa?” Arya menurunkan Davina dari pangkuan nya.
“Arya mungkin sudah waktunya Sanum melahirkan, sebaiknya kita segera bawa kerumah sakit.” Ucap Mami Melinda.
“Iya mi,” Arya kewalahan mengendong tubuh Sanum, sehingga untuk menjaga keamanan Sanum dan bayinya. Terpaksa Sanum didorong mengunakan kursi roda menuju mobil yang sudah siap untuk mengantarkannya kerumah sakit.
Sementara Melinda tidak bisa ikut karena harus menjaga dan menenangkan Davina, Devan dan Devano yang cemas melihat mamanya.
“Sakit banget mas.” Ucap Sanum mengigit bibir bawahnya, menahan kontraksi diiringi keringat dingin yang membasahi wajah cantik Sanum.
“Sabar sayang, sebentar lagi kita pasti sampai.” Bujuk Arya yang juga sangat panik.
“Bang Jono bisa lebih cepat lagi ngak nyetir nya.” Bentak Arya.
“Maaf bos, seperti nya didepan sedang terjadi macet.” Ucap Jono yang juga mulai panik memikirkan jalan alternatif lain agar segera sampai kerumah sakit.
“Aduuuuuh bagaimana ini?” Ucap Arya mengusap kasar wajahnya.
“Sepertinya didepan sedang terjadi kecelakaan bos.” Terang Jono lagi.
__ADS_1
Arya melepaskan pelukannya dari tubuh Sanum yang masih mengerang kesakitan, entah dorongan dari mana Arya tiba-tiba turun, dia penasaran ingin memastikan sosok orang yang kecelakaan lalu lintas yang terbaring tidak berdaya, sementara orang-orang yang mengerumuni korban sangat banyak.
“Nita.” Ucap Arya seakan-akan tidak percaya dengan penglihatannya, Nita merupakan sahabat baik Sanum yang juga mantan karyawan perusahaan Arya dulunya.
“Cepat tolong bawa segera kerumah sakit.” Teriak Arya yang bertepatan dengan ambulans yang juga sudah sampai di TKP. kondisi Nita cukup parah, kecelakaan tabrak lari yang membuatnya sudah tidak sadarkan lagi.
“Ada apa mas? Bajumu berdarah?” tanya Sanum disela-sela rasa sakit yang dirasakannya.
“Ak...aku baru saja membantu korban kecelakaan,” Ucap Arya yang tidak ingin berterus terang, dia tidak ingin Sanum syok jika mengetahui bahwa korban kecelakaan itu ada sahabatnya sendiri Nita.
"Cepat Jono, istriku sudah kesakitan."
"Baik bos." mulai meluncur.
Sanum semakin kesakitan, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. kehamilan nya yang sekarang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. hingga membuat nya tanpa kendali.
“Mas aku tidak kuat lagi... sepertinya kepala anakku su....su...sudah nongol, ingin segera keluar.” Teriak Sanum terbata-bata, tanpa sadar dia menarik-narik rambut Arya kuat yang tiba-tiba ikutan berteriak kesakitan.
Mendengar teriakan kesakitan dari Arya membuat Jono yang semula panik, bertambah panik dan bingung.
“Sebenarnya yang mau melahirkan siapa sih, bos Arya berteriak kesakitan, nyonya Sanum juga begitu.” Gumam Jono bingung sehingga dia tidak konsentrasi mengendarai mobilnya. dan membelokkan mobil kejalur yang Salah.
“Bang Jono kenapa kita belum sampai-sampai juga.” Ucap Arya, yang berhasil melepaskan rambut nya dari tarikan kuat tangan Sanum.
“Astaga...bos kita tersesat.” Ucap Jono tersadar dan melihat disekeliling mereka sudah terlihat jalanan yang sepi.
“Brengsek kamu Jono,” Arya sangat marah sehingga menendang keras jok mobil dari belakang. Membuat Jono terlonjak kaget, dia menggigil ketakutan sambil menunduk tidak berani mengangkat kepalanya apalagi melirik Arya yang terlihat begitu marah.
“Ma....maaf bos, saya tidak konsentrasi lagi untuk berfikir secara jernih, saat bos ikutan berteriak-teriak kesakitan barusan.” Ucap Jono yang bingung ingin berbalik karena didepan nya ada tiga persimpangan, dan mobil yang tiba-tiba ikut mogok dan mati ditempat sepi itu.
__ADS_1
“Ya Tuhan bagaimana ini” Uda Arya panik sementara Sanum tidak mampu lagi untuk bertahan.
“Mas Arya, sepertinya aku melahirkan ditempat ini.” Ucap Sanum disela-sela nafas nya yang sudah ngos-ngosan.
“Sayang bertahan lah” bujuk Arya.
“Jono.” Teriak Arya kembali, membuat Jono yang tengah memeriksa mobil mewah yang dipikirkan nya tidak akan pernah mogok itu terlonjak kaget.
“Ya bos,”
“Cepat kamu cari dokter, atau tenaga kesehatan terdekat. Istriku sudah mau melahirkan.” Bentak Arya.
“I...iya bos.” Jono segera berlari meninggalkan Arya dan Sanum.
“Sayang hati-hati, dan langkahkan kakimu secara perlahan.” Bujuk Arya memapah tubuh Sanum untuk turun dari mobil dan membawanya kesebuah gubuk tinggal yang terdapat ditepi jalanan yang dikelilingi sawah.
Arya membaringkan tubuhnya Sanum perlahan, yang merasa lega dibandingkan dalam mobil yang membuat pergerakan nya terbatas.
“Mas... aduuuuh.” Ucap Sanum.
Sementara Arya mengusap kasar wajahnya, sambil mondar-mandir panik menunggu kedatangan Jono mencari klinik terdekat.
“Mas Arya....sakit.” teriak Sanum merentangkan kakinya sambil mengejan.
"Sayang, bagaimana ini mas benar-benar bingung harus berbuat apa." ucap Arya gelagapan.
"Cepat buka celana ku mas," perintah Sanum.
"Buka?"
__ADS_1
"Please, jangan ditempat ini sayang." bujuk Arya panik.