
"Wajah Anak laki-laki yang sangat mirip dengan ku? kejutan apa lagi ini?" memukul stir mobilnya.
Begitu banyak masalah yang dihadapi Arya Akir-akir ini sehingga membuat perasaan Presdir itu berkacamuk antara bahagia, bingung, penasaran dan kesal, selain kejutan dari Sanum dan Davina, masalah perusahaan juga harus segera diselesaikannya.
Saat mobil nya sampai di gerbang utama rumah mewah sang Oma, Arya memencet klason mobil secara tidak sabaran. membuat security yang sedang bersantai menonton drama telenovela favoritnya di pos keamanan itu kalang kabut, berusaha membuka gerbang dengan gerakan cepat, mereka berdua tidak menyangka jika Arya pulang secara tiba-tiba.
"Mami, Oma" terdengar teriakan suara Arya dari lantai utama, Arya kembali mengulangi panggilan nya ketika tidak mendengar suara jawaban.
Arya mengerutkan keningnya, ketika melihat salah satu ruangan besar dirumah nya sudah disulap menjadi tempat bermain, yang menyimpan banyak sekali mainan anak-anak laki-laki.
Pojok sebelah kanan yang menghadap taman, juga terdapat tempat bermain anak perempuan, karena banyak nya boneka-boneka serta rumah Barbie yang berwarna pink muda.
"Rumah ini sekarang sudah seperti taman kanak-kanak?" gumam Arya sambil berkacak pinggang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Mama, aku seperti mendengar suara Arya yang memanggil kita." Ucap Melinda pada mertuanya.
__ADS_1
"Arya, apa dia pulang ke negara ini?" Tanya Oma yang terlihat bingung.
" Coba aku lihat keluar dulu ma,"
Melinda berjalan keluar dari kamar tidur Devan dan Revano, Dia langsung kaget saat dilantai utama Arya sedang berdiri. kemudian Arya berjalan menuju kamar Oma.
"Ma, Arya benararan pulang." Ucap Melinda kembali masuk kekamar cucunya.
Oma duduk dari tidur nya yang semula miring sambil mengelus-elus punggung Devan mencoba menidurkan cicitnya.
"Gimana ini, sekarang kita tidak bisa mengelak lagi dari Arya. mungkin sudah saatnya dia tahu tentang kebenaran ini." Ucap Oma.
"Mami dan Oma pada Kemana sih?" Arya melangkahkan ke lantai dua hendak menuju kamarnya, namun tiba-tiba dia menghentikan langkah begitu melihat salah satu kamar disebelah kamar maminya terdapat patung karakter robot legend Hero, yang bertuliskan nama didadanya.
"Kamar Revano dan Devan."
__ADS_1
"Siapa mereka? Revano dan Devan itu?" gumam Arya melangkahkan kearah pintu dan ceklek...... pintu terbuka.
"Arya?" Ucap Mami dan Oma bersamaan.
Arya langsung syok, menatap dua orang bocah laki-laki yang juga tengah menatap kearahnya.
"Ya Tuhan...., apa benar bocah tampan ini anak-anak ku. wajahnya begitu mirip dengan ku. dan benar-benar asli tanpa dibuat-buat ataupun operasi plastik." gumam Arya menatap lekat Revano yang tengah berada dipangkuan mami.
Kemudian Arya mengalihkan pandangannya pada Devan, yang juga memiliki raut wajah yang sama. namun sedikit mempunyai perbedaan pada tatapan dan bola matanya yang lebih mirip kedua bola mata Sanum.
"Mereka berdua terlihat seperti perpaduan diriku dan Sanum, apa mereka anak-anak kami yang juga berhasil disembunyikan Sanum dariku selama ini." Ucap Arya yang terus perang batin dengan perasaan nya sendiri. berbagai pertanyaan bermunculan dibenaknya.
Arya tidak menghiraukan lagi sapaan Oma dan panggilan suara Mami yang semakin kencang, Arya hanya fokus pada dua bocah dihadapannya yang terlihat takut dengan tatapan Arya yang terlihat menakutkan, sehingga kedua bocah itu bersembunyi diperlukan Oma - Omanya.
"Revano, Devan jangan takut, itu papa kalian nak. dia menatap kalian seperti itu karena syok. mengingat selama ini dia tidak mengetahui tentang keberadaan kalian berdua. tapi untuk adik kalian Davina, papa kalian sekarang sudah mengetahui nya." Ucap Oma pada kedua cucunya yang saling mendekat.
__ADS_1
Arya tersadar, begitu mendengar penuturan maminya pada kedua bocah itu, Arya segera mengusap wajahnya.
"Apa maksudnya semua ini mi, Oma?" terdengar suara Arya yang keras, Arya menatap Mami dan Oma yang seolah-olah ikut bekerjasama dengan Sanum, menyembunyikan kenyataan besar itu darinya.