
"Hallo Sanum?" terdengar suara Nita yang menghubungi nya.
"Ya, pa kabar Nita?" jawab Sanum sambil meringkuk dibalik selimut, menjawab panggilan sahabat baiknya itu.
"Aku sangat baik Sanum, selepas pulang dari Amerika. aku berhenti bekerja dan mulai merintis usaha ku sendiri, karena Bu Melinda memberikan ku bantuan modal usaha yang cukup, Sanum kita beruntung sekali ya bisa bertemu dengan wanita yang sangat dermawan itu." Tutur Nita.
"Ya Nita, bahkan Bu Melinda dan Oma. sangat menyayangi ketiga anak-anak kembarku." balas Sanum
"Syukurlah Sanum, aku ikut bahagia mendengarnya." Nita juga sangat menyayangi anak-anak Sanum, terutama Davina yang paling imut dan manja.
"Nita, akhir-akir ini aku sering sekali meresa mual dan pusing. aku takut terjadi sesuatu dengan diriku?" Sanum ingin meminta pendapat Nita.
"Apa kamu sudah coba periksa ke dokter?"
"Belum, aku takut membayangkan kemungkinan buruk. setelah mengetahui hasil pemeriksaan dokter. apalagi disini aku tinggal bersama bu Melinda." Sanum semakin gusar.
"Sanum, jangan-jangan..?" Nita menggantungkan ucapan nya, karena dia sendiri juga bingung.
__ADS_1
"Maksudmu apa nit, jangan membuat ku bertambah panik." Ucap Sanum.
"Mungkin kamu hamil anaknya Arya kembali." Tutur Nita.
"Tidaaaakkk Nita, sewaktu hamil ketiga anak-anak ku dulu tidak pernah aku merasakan seperti ini Nita." Ucap Sanum berusaha mengendalikan rasa takutnya.
"Sanum, kehamilan setiap anak berbeda-beda. untuk lebih jelasnya kamu memang harus memeriksakan dirimu atau melakukan tespec sendiri untuk mengetahui hasilnya." saran Nita.
"Tidak mungkin aku memesan alat itu, nanti Mami Melinda mengetahui nya Nita."
"Begini saja, bagaimana jika kamu balik keindonesia. bawa Davina balik karena dia tidak akan sanggup berpisah lama darimu. sementara Devan dan Revano. titip sama Bu Melinda mereka orang-orang baik dan tidak akan menelantarkan anak-anakmu. lagian ada bi Ijah juga yang bantu-bantu disana." terang Nita.
"Sanum, jika Tuan Arya menemukan mu tidak ada masalah. katakan saja Davina adalah putri ku. kita akan tinggal sama-sama dirumah ku." usul Nita yang mersa prihatin melihat sahabatnya itu.
"Baiklah Nita, aku akan memberitahu Bu Melinda dan Oma. tentang keputusan ku ini." jawab Sanum.
"Apa kamu sudah yakin ingin balik keindonesia Sanum?" Tanya Bu Melinda intens.
__ADS_1
"Sudah mi, karena sanum masih mempunyai banyak urusan yang belum Sanum selesaikan." jawab Sanum menunduk.
"Pergilah nak, tapi anak-anak ditinggalkan disini sama mami dan Oma ya. biar kami menjaganya dengan baik. kamu juga tidak perlu direpotkan nantinya." Ucap Melinda yang tidak ingin berpisah lagi dari ketiga cucu-cucu nya.
"Baiklah, tapi Davina Sanum bawa saja ya mi, dia selama ini tidak bisa lepas dari Sanum." Ucap Sanum sambil mengelus-elus rambut Davina.
Melinda nampak berfikir, lalu berjalan mendekati oma, mereka berbicara serius. meskipun Sanum tidak bisa mendengar dengan jelas namun dia bisa melihat raut keberatan dari Oma kemudian Melinda seolah-olah membujuk wanita berumur itu. setelah Oma terlihat tenang dan mau tersenyum lagi. Melinda kembali mendekati Sanum.
"Sanum, semula Oma keberatan berpisah dengan Davina. tapi sekarang dia sudah Ngak papa lagi setelah Mami membujuknya dan mengatakan alasan mu yang sesungguhnya." Ucap Melinda.
"Syukurlah mu," balas Sanum.
"Sayang Mama, untuk sementara Mama tinggal Abang Revano dan Devan dulu ya nak. karena Mama ada urusan yang sangat - sangat penting. setelah semua selesai Mama akan balik lagi kesini." mencium kedua anaknya bergantian.
"Okey Mama..." jawabnya serentak. karena keduanya sang suka tempat baru mereka sekarang, semua nya serba ada. tidak seperti dulu jika ingin mainan baru, harus nunggu Sanum gajian terlebih dahulu.
Sanum mrnaiki penerbangan pertama, sambil membimbing Davina kecil menaiki pesawat.
__ADS_1
"Moga saja Arya tidak menemukan kami." gumam Sanum seiring pesawat yang sudah tinggal landas meninggalkn negara Meksiko.