
"Nyonya Berliana, menunggu Nona di ruang keluarga." Ucap pelayan tersebut.
Sasha mengikuti langkah kaki nya dari belakang. disofa ruangan besar nampak seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik diusianya yang tak lagi muda, namun dari gaya berpakaiannya Sasha yakin jika wanita ini bukan lah wanita sembarangan melainkan wanita karier.
"Silahkan duduk," Ucap Berliana tanpa menoleh dan sibuk dengan beberapa berkas ditangannya.
"Iya Nyonya," Sasha tiba-tiba merasa gugup.
"Apa kamu sudah mengerti tentang tugas-tugas mu dirumah ini.?" Ucap Berliana.
"Sudah, merawat suami Nyonya." jawab Sasha polos.
"Apa? kamu salah, suamiku tidak perlu kamu bantu mengurusnya. aku butuh kamu membatu dan menyemangati putra kesayangan ku dan memberikan nya obat tepat waktu." Tutur Berliana.
"Yauupps maaf Nyonya," jawab Sasha menyadari kesalahannya.
Berliana menyebutkan dan memberikan daftar nama obat-obatan anaknya yang bernama Rendi, serta tugas-tugas Sasha yang harus lebih banyak sabar dalam mengurus Rendi.
"Apa kamu sudah paham?" Tanya Berlian memastikan.
__ADS_1
"Sudah Nyonya." balas Sasha yang juga ragu dengan keputusan nya.
"Ikut aku kekamar atas." Berliana bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamar Rendi. sementara Sasha meremas jemarinya yang tiba-tiba tersa dingin sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang terlihat sangat sepi.
Ceklek.... pintu kamar terbuka lebar, nampak seorang laki-laki tengah duduk di teras depan kamarnya sambil perhatikan pemandangan luar jendela. dan membelakangi Sasha dan Berliana yang berjalan mendekati nya.
"Anakku Rendi, bagaimana keadaan mu sekarang sayang." Berliana mengusap pelan bahu Rendi.
"Baik mi." jawabnya singkat dan kembali asyik menatap keluar.
Sasha ikut mendekat, dia penasaran dengan sosok laki-laki dengan wajah yang dipenuhi jambang serta rambutnya yang panjang. dia berdiri disampingnya. Rendi terlihat acuh tanpa menoleh sedikit pun padanya.
"Sasha Nyonya."
Saat Sasha berbicara, Rendi refleks mengangkat wajahnya. dia mersa pernah mendengar suara gadis ini. Suara yang pernah berteriak panik ketakutan.
"Mana pengaman mu semalam? cepat cari brengxxxx, sial.....," masih banyak kata-kata umpatan lagi yang keluar dari mulut mungil Sasha saat itu. Rendi langsung menatap Sasha.
"Dia?, ya dia seperti gadis yang tidur dengan ku malam itu, tapi untuk apa dua kesini menemuiku? apa dia ingin meminta pertanggungjawabaan dari laki-laki lumpuh seperku ini?" berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Rendi.
__ADS_1
"Okey Baiklah Sasha, mulai hari ini kamu urus Rendi sebaik-baiknya. karena aku harus mengikuti rapat besar hari ini." Ucap Berliana.
"Sayang, Mami pergi dulu ya nak." mencium sekilas kening Rendi dan meninggalkan kamar Rendi.
Sasha tiba-tiba menjadi gugup, ketika melihat tatapan Rendi yang tajam. dia mundur beberapa langkah.
"Siapa sebenarnya pria ini, kenapa aku begitu akrab saat melihat tatapan nya. tapi tubuh kurus, rambut panjang ini? aku benar-benar tidak mengenali laki-laki yang sangat tepat dikatakan sebagai laki-laki yang tengah mengalami gangguan jiwa." gumam Sasha ketakutan.
"Tuhan lindungi aku," keringat dingin membasahi wajah cantik Sasha.
"Ya dia benar-benar Perempuan itu?" ingatan Rendi berputar-putar pada beberapa waktu silam.
"Wanita pertama, yang pernah aku renggut kesucian nya." gumam Rendi.
"Aaaaaaaaaaaaa... aaaaahhk," Rendi mengusap kasar wajah dan rambut nya.
"Aku pernah berfikir ingin mencari wanita ini untuk meminta maaf, karena perasaan bersalah telah merusak masa depan nya. meskipun hubungan itu kami lakukan tanpa paksaan sedikitpun. tapi aku benar-benar malu dengan keadaan ku sekarang....aku laki-laki lumpuh yang tidak berguna sama sekali. bahkan untuk mengurus diriku sendiri pun tidak bisa." Rendi tiba-tiba mengamuk membuat Sasha semakin ketakutan dan menangis.
"Diam.!!" teriak Rendi marah begitu mendengar Sasha yang ketakutan dan menangis. Sasha langsung terdiam, sambil mengusap air matanya.
__ADS_1