One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Mimpi Sahsa


__ADS_3

Berliana langsung memberi Kode, dengan bahasa isyarat jari telunjuk yang didekatkan dibibir. Meminta Rendi untuk tenang dan diam. Mengingat dia dan Sahsa masih  melakukan panggilan.


“Okey, Ngak papa.... sebaiknya Sahsa istrahat saja ya sayang.. apa perlu Tante kirim seorang pelayan kesana untuk menjagamu.” Ucap Berliana.


“Tidak perlu Nyonya, mungkin dengan istrahat. Tubuhku serasa lebih nyaman dan mendingan dari sebelumnya.” Jawab Sahsa, lalu menutup panggilan mereka berdua.


Sasha merasa sungkan, karena sikap yang ditunjukkan  Rendi dan Nyonya Berliana diluar dugaan nya.


“Ternyata Mereka begitu baik dan sangat perhatian, aku begitu bersyukur, bertemu dengan orang-orang seperti Nyonya Berliana dan anaknya Tuan Rendi.”


Sasha melanjutkan tidurnya, sambil mengelus-elus perutnya yang masih belum terlihat dengan jelas, tapi Sahsa sudah bisa merasakan seperti detak jantung yang tersa begitu indah. Meskipun kehadiran nya semula tidak dikehendaki oleh Sahsa, namun dia akan menerima dan menyayangi bayinya, paling tidak Sahsa berusaha untuk berubah dan berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak akan terjerumus dalam lembah dosa lagi.


“Mami gimana sih, kok Sahsa Ngak dibujuk dan dibawa kesini saja.” Ucap Rendi yang terlihat kesal bercampur khawatir.


“Rendi kamu harus tenang nak, kita tidak boleh gegabah. Bisa-bisa Sahsa curiga dan menolak, mengira kita memiliki maksud tertentu dengan perubahan sikap kita ini yang terkesan begitu tiba-tiba.” Berliana berusaha menenangkan Rendi yang resah.

__ADS_1


“Baiklah mi,” Rendi pasrah.


“Hari ini Mami harus mengadakan rapat besar, termasuk dengan perusahaan Arya. Gimana untuk hari ini kamu dibantu pelayan saja. Atau Mami Carikan perawat untuk menggantikan Sahsa untuk satu  hari ini saja.” Berliana susah bersiap-siap untuk berangkat kerja.


“Tidak perlu mi, Rendi sudah bisa mengurus semuanya sendiri. Rendi tidak butuh siapa-siapa selain kehadiran Sahsa.” Ucap Rendi tidak bersemangat lagi.


Berliana mengangkat bahunya pasrah, dengan sikap keras kepala Rendi.  Sebelum Pergi ke kantor, Berliana meminta dua orang pelayan nya untuk terus mengawasi Rendi.


Selepas kepergian orang tua nya, Rendi langsung melacak posisi keberadaan Sahsa melalui ponselnya. Dia sudah dibutakan cinta dan perasaan Sayang nya, sehingga Rendi tidak menghiraukan perkataan maminya yang meminta Rendi bersabar dan tenang.


“Tuan muda Anda mau kemana?”  pelayan langsung menghampiri Rendi, yang sedang memegang handel pintu keluar.


“Aku ingin kerumah Sahsa, cepat kalian siapkan mobil dan segera panggil sopir untuk mengantarkan aku.” Perintah Rendi.


“Ba..Baiklah Tuan muda.”

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sahsa, senyum tidak lepas dari bibir Rendi.


“Sudah sampai Tuan,” Ucap sopir pribadi Rendi, sambil membantu Rendi turun dan mendudukkannya dengan hati-hati dikursi rodanya kembali. Rendi menatap rumah sederhana itu.


“Rumah kecil,  gang yang sempit. Begitu menderita kah dirimu sayang.” Gumam Rendi mersa kasihan melihat Sahsa. Rendi mendorong kursi roda nya pelan kearah pintu kamar.


“Tok....tok....tok....” Rendi mengetuk pintu.


Sementara Sahsa yang masih tidur dengan nyenyak, bersama mimpi indahnya. tidak mendengar pintu diketuk.


Dalam tidur nya Sahsa Kembali bertemu dengan laki-laki yang pernah menghamilinya, dia pun bersedia bertanggung jawab Menerima dan mengakui keberadaan bayi Sahsa, serta siap menikahi Sahsa.


“Kamu pergi kemana selama ini?”  tanya Sahsa disela-sela menyalami tamu yang hadir di pernikahan mewah mereka.


“Maaf Sha, bukan nya aku bermaksud untuk menghilang dari mu, Tapi aku masih mencari-cari pengaman (kon**dom) ku yang hilang itu.” Balasnya sambil menyembunyikan senyum kearah Sahsa.

__ADS_1


"Apa? bodoxx ngapain kamu masih mencari-cari benda keramat yang tertinggal disini." Sahsa menunjuk bawah perutnya nya kesal.


__ADS_2