One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Rasa penasaran Arya


__ADS_3

"Aaaaaaaggghh," Arya mengusap kasar wajahnya, dia meletakkan kembali ponselnya diatas meja kerja. kemudian merebahkan tubuhnya di sandaran kursi kebesaran, untuk merilekskan pikiran nya beberapa saat.


Rapat dadakan kali ini tidak menunjukkan hasil yang memuaskan, karena tim Audit belum menemukan bukti-bukti keganjalan. untuk sementara penyelidikan terus dilakukan, sambil menunggu rapat besar setelah Arya mengambil keputusan. termasuk Menganti rugi pihak konsumen yang merasa telah dirugikan oleh produk perusahaan mereka.


Arya tidak mempermasalahkan uang yang harus dikeluarkan oleh perusahaan nya untuk mengganti rugi, namun yang membuat nya marah nama perusahaan nya sudah tercoreng karena kasus ini. mengingat selama ini perusahaan nya tersebut paling bagus, dan no satu dari segi kualitasnya dibandingkan perusahaan lain yang mengeluarkan produk yang sama.


Arya memejamkan matanya yang lelah, membayangkan wajah Sanum dan putri nya Davina membuat lelah dan stres Arya berkurang. perlahan dia merasakan pijatan lembut di kepala dan pindah ke bahu nya, senyum manis mengembang sudut bibir Arya, karena dia berfikir ini hanya mimpi, karena terlalu merindukan sentuhan Sanum.


Dengan mata yang masih terpejam, Arya Merasa sentuhan itu semakin tersa dan nyata, saat seseorang seperti duduk dipangkuannya dengan bibir kenyal mencium lembut bibir Arya. refleks dia langsung membuka mata dan dibuat kaget saat melihat Jeniffer tersenyum diatas pangkuannya.


"Jenifer, kamu sadar dengan apa yang telah kamu lakukan." Arya mendorong tubuh Jeniffer dan langsung berdiri memperbaiki pakaian nya. mengibaskan tangannya dipakaianya itu, seakan-akan Arya Merasa jijik disentuh wanita selain Sanum.

__ADS_1


"Kak Arya, Jeni sadar sekali dengan apa yang Jen lakukan. selama ini Jen hanya memendam perasaan ini, karena Jeni tahu selama ini kak Arya tidak pernah dekat dengan wanita manapun, namun saat Jeni tahu jika ternyata selama ini berasumsi salah, bahkan Jeni telah kalah satu langkah dari wanita itu, mungkin sekarang waktu yang tepat untuk Jeni mengatakan perasaan ya sesungguhnya, Jeni sangat mencintaimu kak Arya. jauh semenjak dulu saat kita sering menghabiskan waktu bermain bersama dirumah Oma.." Ucap Jeniffer mengusap air matanya.


"Jeniffer, aku hanya menganggap mu sebagai adik perempuan ku sendiri tidak lebih, dan siapa perempuan yang kamu maksud?" Ucap Arya mengerutkan keningnya bingung, karena tidak mungkin Jeni mengetahui tentang hubungannya dengan Sanum.


"Kak Arya jangan mengelak tentang ibu dari anak-anak kembar mu itu kak." Jeni semakin kuat menangis mengingat tentang anak-anak Arya. bahkan sudah ada buktinya Arya masih belum juga mau berterus terang.


"My good, please Jeni. aku sama sekali tidak mengerti maksud mu ini?" Ucap Arya tersenyum menatap Jeni yang seolah-olah mengada-ada.


"Anak? mungkin Oma dan Mami sudah mengadopsi dua orang anak, sehingga mereka tidak menuntut ku lagi untuk segera menikah, baguslah jadi aku bebas dengan pilihan ku nanti, pantas mereka sekarang jarang menghubungiku lagi dan menuntut agar aku segera menikah, ternyata ini alasannya." gumam Arya tersenyum.


"Tidak kak Arya, mereka benar-benar anakmu. lihlah wajahnya persis duplikat mu sewaktu kecil kak." terang Jeniffer yang mulai goyah mendengar keraguan Arya.

__ADS_1


"Duplikat ku?" Arya mengerutkan keningnya, Secara tidak langsung ucapan Jeni membuat nya penasaran.


"Kejutan apa lagi ini, setelah mendapati Sanum yang ternyata menyembunyikan Putri ku, apa aku juga pernah menghamili wanita selain Sanum? tidak....tidak...aku tidak pernah menggauli wanita lain. atau jangan-jangan....?" Arya langsung mengambil kunci mobilnya dan melaju kencang menuju pulang kerumahnya.


Arya tidak menghiraukan teriakan Jeniffer yang memangilnya, termasuk Zein dan Mika yang mencoba mengejar langkah panjang Arya, namun mereka menyerah saat melihat mobil Arya telah meluncur dengan kecepatan tinggi.


"Ada apa dengan nos Arya?" tanya sein penasaran.


Mika hanya mengangkat bahunya, menandakan jika dia juga tidak tahu apa-apa tentang masalah baru yang dihadapi Presdir mereka itu.


Sepanjang perjalanan Arya melajukan mobilnya, menghiraukan teriakan pengendara lain yang memakinya karena mereka hampir celaka karena Arya.

__ADS_1


__ADS_2