
Dalam tidur Sanum terlihat sangat gelisah, keringat dingin membasahi tubuhnya yang terlihat sudah berisi dan padat. mengingat selera makan Sanum yang mulai meningkat Akir-akir ini.
"Tidakkkkk.... jangan Arya... jangan ambil anak-anakku." Sanum terus mengejar Arya.
"Sanum, kamu tidak boleh egois. mereka juga anak-anak ku." teriak Arya dengan tatapan tajam, sambil menggendong Revano didepan, sedangkan Devan bergelayut manja diatas punggung Arya. kedua Anak laki-laki Sanum terlihat sangat bahagia.
"Tidak Arya, dia Anakku. karena hanya aku sendirian yang berjuang untuk melahirkan dan membesarkan mereka selama ini." Sanum menghadang Arya sambil berusaha menarik tangan anak-anak nya.
"Ayo sayang ikut Mama," mencoba menarik tangan mereka yang selalu dihalang-halangi oleh Arya.
"Tidak, kami mau sama papa...selama ini kami selalu merindukan dan mengharapkan mempunyai papa." Ucap Revano.
Air mata Sanum tumpah, dia sangat sedih dan terpukul mendengar penuturan anak-anak nya yang memilih ingin bersama Arya.
"Jadi kalian tidak membutuhkan Mama lagi..." Ucap Sanum menangis sedih, tubuhnya melorot ketanah sambil menunduk menahan isakan tangisnya.
__ADS_1
"Kami butuh Mama dan papa, dan tinggal bersama. Mama mau kan?" terdengar suara lembutnya Davina yang berusaha meminta persetujuan mamanya.
Sanum menatap satu-persatu wajah-wajah mereka, mulai dari Arya dan ketiga anak-anak nya, mereka terlihat begitu mengharapkan jawaban Sanum.
Senyum manis mengembang dibibir seksi Sanum, sambil mengangguk perlahan menandakan jika dia sangat menyetujui permintaan anak-anak nya.
"Demi ketiga anak-anak ku, Baiklah aku bersedia kita tinggal bersama Arya." jawab Sanum. namun tiba-tiba seseorang wanita berambut pirang muncul seolah-olah Manarik tangan Arya untuk menjauh, begitu juga dengan Sanum. dia tercekat begitu melihat Rendi mantan tunangan nya tiba-tiba muncul menghalangi langkah kakinya untuk mendekati Arya.
Sanum dengan kesal bercampur marah mendorong tubuh Rendi, hingga pria itu terguling jatuh. tapi Arya dan ketiga anaknya seketika menghilang dari tempat itu, begitu juga dengan wanita berambut pirang.? membuat Sanum kebingungan dan panik.
Sanum terus menggapai- gapai sambil menangis, memanggil anak-anaknya dan Arya.
"Nona....Nina muda bangun....," tubuh Sanum diguncang pelan oleh kepala pelayan yang sempat mendengar teriakan Sanum. saat kebetulan melintasi kamar Arya.
Sanum membuka mata, diliriknya Davina masih tertidur pulas disampingnya.
__ADS_1
"Syukurlah cuma mimpi." ujar Sanum yang masih berusaha untuk mengatur pernafasannya yang tersa masih memburu.
Sementara dimeksiko, Arya sangat bahagia begitu membuka matanya dilirik nya disini kanan dan kirinya, Devan dan Revano tidur pulas dengan gaya dan tingkah mereka masing-masing.
"Anak-anak ku yang tampan," mendarat kan ciuman hangat pada pipi Devan dan Devano.
"Sanum, ternyata kamu begitu pintar menyembunyikan mereka, namun aku sangat bersyukur anak-anak ku sangat cantik dan tampan. okey sayang mulai sekarang aku akan mengikuti permainan mu, setelah masalah ini selesai aku akan kembali menemui mu segera. aku sudah tidak sabar memulai permainan baru dengan mu supaya kamu kapok dan tidak berani lagi main kucing-kucingan dengan ku..ha...ha..." Arya tertawa lepas pagi ini suasana hatinya sangat indah dan bahagia.
"Pagi Oma, Mami dan anak-anak ku yang tampan." Arya mendarat kan ciuman hangat pada pipi kedua nya, pagi ini mereka menikmati sarapan bersama sambil sesekali bercanda. saat ini lah yang selama ini dinanti-nanti kan Oma.
Sampai dikantor senyum masih mengembang dibibir Arya. dia tersenyum ramah setiap membalas sapaan para karyawan nya yang kebetulan berpas- Pasan dengan nya. sesuatu yang jarang sekali Dilakukan oleh Arya. sehingga banyak diantara mereka menggelengkan kepalanya heran.
"Selamat pagi Tuan." sapa Zein dan Mika yang menyambut kedatangan Arya diruanganya.
"Pagi juga " balas Arya sambil duduk menyilang kan kakinya duduk dikursi kebesarannya, dan mulai memeriksa berkas dan bukti-bukti penyelidikan tim audit Handalan Arya.
__ADS_1