
Zein dan keluarga nya, menyambut hangat kedatangan bos Arya, Sanum dan anaknya, mereka saling melepas kangen dan terlibat obrolan seru. Zein juga menceritakan bagaimana pengalaman yang dialaminya selama berada dan melakukan perjalanan panjang, di bukit Savana yang dengan hutan belantara yang lebat dan seram.
Meskipun diluar logika menurut pemikiran Arya, namun dia terlihat antusias mendengarkan cerita yang meluncur langsung dibibir Zein. sang asisten yang sudah lama bekerja dan sudah dianggap saudara kandung oleh Arya.
"Jadi kapan? rencana pernikahan Safira dan Alexander dilangsungkan?"
Arya menanyakan hal itu, karena dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Safira lagi, mengingat dia sudah hampir sebulan kabur bersama Arden (Alexander).
"Secepatnya." balas Zein.
Davina tersenyum menatap Safira, yang seperti malu untuk bertemu dengan sahabat lamanya.
"Hay Davina, pakabar?"
"Baik Safira."
Mereka duduk bersebelahan, menjarak dari orang tua mereka yang masih ngobrol hangat seputar perjalanan, bisnis termasuk rencana pernikahan Safira dan Alexander. semua mereka bahas.
__ADS_1
"Selamat ya Safira, sebentar lagi kamu bakal menikah."
Davina menatap kagum, Safira yang cantik. di umurnya yang masih muda sudah mempunyai seorang kekasih yang sangat dicintainya. CEO kaya raya anak pengusaha terkenal.
"Aku malu sama kamu Davina, meskipun sudah remaja kamu fokus belajar dan masa depan, sedangkan aku sudah mau menikah. meskipun ini keinginan ku." balas Safira.
"Santai saja Safira, banyak kok teman-teman ku yang nikah muda, bagiku itu tidak masalah. berarti mereka cepat menemukan jodohnya." balas Davina.
Mereka berdua tertawa bahagia, meskipun saat ini pikiran Davina teringat Aldo, laki-laki sederhana. namun dia sangat menyukai kesederhanaan Aldo tersebut, kejujuran dan sikap laki-laki tampan yang apa adanya.
"Kedengarannya, kamu lagi dekat sama Aldo ya?"
"Ya kenalah, Aldo kan termasuk kerabat papaku dikampung nya." balas Safira.
"Tapi kami sebatas dekat saja kok, dia kan ditugaskan papa untuk menjadi sopir dan asisten ku."
"Wah bagus lah, aku rasa Aldo orang yang baik. semoga saja dengan sering bersama kalian bisa saling menyukai." bisik Safira.
__ADS_1
"Benar juga sih, tapi aku takut papa tidak bakal merestui kami."
Davina menundukkan kepalanya, membayangkan apa reaksi papanya Arya, jika dia dan Aldo nantinya memutuskan untuk berpacaran ataupun menjalin hubungan dekat.
"Papamu orang baik Davina, aku yakin dia pasti bakal merestui hubungan kalian."
"Semoga, tapi aku dan Aldo belum pacaran. bahkan kami masih diam-diam dengan perasaan kami. tapi aku kok yakin banget ya, jika sesungguhnya Aldo juga memiliki perasaan yang sama dengan ku." ucapan Davina membuat Safira tertawa.
"Aku yakin banget, kalian berdua memiliki perasaan yang sama, namun gengsi dan ego untuk mengakui perasaan kalian masing-masing, udah deh Davina jujur saja sama Aldo, keburu dia diambil cewek lain. ntar kamu patah hati." ledek Safira.
"Aku masih ragu dan malu untuk mengungkapkan nya duluan, padahal diantara teman-teman ku, hanya aku yang jomblo." Davina memanyunkan bibirnya.
Sementara dirumah, Aldo tiba-tiba keselek biji salak yang dimakannya bareng Jonathan.
"Huck..huck..." Aldo berusaha untuk mengeluarkan nya, dengan bantuan Jo yang menepuk-nepuk pundak nya.
"Kamu lucu Al, masa biji salak sebesar itu masih saja ditelan. kan masih banyak buah salak yang lain, yang bisa untuk dimakan." terang Jo antara ingin tertawa dan cemas.
__ADS_1
"Ngak tahu, aku tiba-tiba saja keselek. seperti ada yang membicarakan aku dibelakang." Aldo menarik nafas lega ketika dia berhasil mengeluarkan biji salak tersebut.