One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Tidak punya pilihan lain


__ADS_3

"Sanum, saya sudah sering memperingatkan untuk tidak melupakan jadwal cek up Davina." terang dokter.


"Maafkan saya dokter, ini memang kesalahan ku hu...hu..." Ucap Sanum.


"Sanum, biasanya kamu sangat teliti dan tidak pernah lupa dengan jadwal pemeriksaan kesehatan Davina." terang dokter sambil menatap Sanum.


"Ibu saya dua bulan terakhir ini seringkali sakit, dan meninggal dunia baru-baru ini, sehingga saya melupakan jadwal Davina karena sibuk membagi waktu dengan pekerjaan.. hu..hu... maafkan Mama sayang." Sanum mencium kening Davina yang sudah terpasang infus.


"Davina harus segera dioperasi, dan kami akan merekomendasikan rumah sakit terbaik di Singapura." terang dokter.


"Opresai?"


"Ya, karena saat ini itulah pilihan yang terbaik untuk menyelamatkan Davina." terang dokter.


"Aku...aku...." Sanum menangis dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Sanum ini merupakan brosur rumah sakit Jantung tersebut, berserta rincian biayanya." dokter memberikan beberapa lembar kertas pada Sanum untuk dibaca dan dipahami nya.

__ADS_1


Sanum menerima dengan tangan bergetar, dia tidak bisa berkata-kata lagi saat melihat total biaya yang harus dikeluarkan nya.


"Hampir mencapai setengah milyar lebih dok?" Ucap Sanum yang tiba-tiba mersa tempat disekelilingnya berputar hingga dia hilang kesadaran.


dokter dibantu seorang perawat wanita segera membantu membaringkan tubuh Sanum di sebelah Davina yang sudah tertidur pulas.


"Kasihan wanita ini." terang dokter.


"Bagaimana kondisi nya dok,?" Ucap perawat yang membantu Sanum.


"Dia hanya syok, sebentar lagi pasti siuman kembali."


"Syukurlah kamu sudah sadar kembali Sanum." Ucap dokter.


"Terimakasih dok, beri saya waktu untuk beberapa hari ini untuk mencari jalan keluar nya." Ucap Sanum menatap sedih putr kecilnya, diusianya yang masih kecil harus menanggung sakit seberat ini.


"Kalau bisa secepatnya ya Sanum, karena Davina masih kecil takutnya dia tidak tahan dengan penyakit nya ini." Ucap dokter yang kemudian pamit karena harus memeriksa pasien lainnnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang. kemana aku harus mencari uang sebanyak itu. meskipun aku meminjam pada semua teman-teman ku, tidak akan bisa paling akan terkumpul beberapa juta saja karena mereka juga butuh biaya hidup. apa aku harus berterus terang pada Arya?"


"Tidak....aku takut dia tidak akan percaya, atau malah sebaliknya dia mengambil ketiga anak-anak ku, karena beranggapan aku tidak mampu mengurus mereka dengan baik." Ucap Sanum mondar-mandir berusaha berfikir keras, mengingat dia tidak mempunyai banyak waktu untuk mengabaikan penyakit Davina.


"Aku harus menemui Bu Mery, sapa tahu perusahaan mau meminjamkan aku uang dalam jumlah banyak," gumam Sanum segera menuju perusahaan kembali lalu menitipkan Davina pada perawat yang jaga.


"Ada apalagi Sanum?" Ucap Bu Mery terlihat kesal kearahnya, karena merasa Sanum mengganggu kesibukan nya.


"Bu saya butuh pinjaman uang, saya akan mencicil dengan potongan gaji saya tiap bulannya."


"Sanum....Sanum, hutangmu yang kemaren masih sisa beberapa bulan lagi, sekarang kamu sudah mengusulkan untuk meminjam uang lagi ha....Ha...lucu kamu Sanum." suara Bu Mery yang keras membuat nyali Sanum menciut dan yakin jika usaha nya ini bakal sia-sia.


"Memang seberapa banyak sih yang kamu butuhkan.?"


"Tujuh ratus lima puluh juta bu," jawab Sanum pelan.


"Ha....Ha....Ha....Sanum, apa kamu sadar dengan ucapan mu itu, aku saja yang sudah hampir berkarat bekerja di perusahan ini tidak pernah mendapatkan pinjaman sebanyak itu, apa lagi kamu.," Ucap Bu Mery.

__ADS_1


"Tapi Bu, saya sangat butuh sekali." sebenarnya Sanum sudah malas meladeni Bu Mery, namun dia tidak punya pilihan lain selain mencoba, dan berharap.


Tanpa mereka sadari, Arya mendengar percakapan mereka dari luar ruangan Bu Mery.


__ADS_2