
"Kamu mau kemana nak?" Tanya Mami Jeniffer sambil mengernyitkan kening, menatap heran putrinya yang terlihat sangat tergesa-gesa sambil mengemasi pakaian.
"Aku mau keindonesia mi," jawab nya singkat.
"What's?"
"Aku ingin menemui salah seorang sahabat ku mi, dan ini sangat penting. jadi tolong kali ini Mami tidak menghalangi Jeniffer." mengatup kedua tangannya dihadapan sang mami yang masih belum puas dengan jawaban Putri nya.
Okey, tapi Mami tidak ingin kamu mendapatkan masalah lagi, terutama dengan Arya." Ucap Mami.
Jeniffer tidak menghiraukan lagi perkataan dan teriakan sang mami, dia langsung mengambil penerbangan Menuju Indonesia. dengan harapan bertemu Rendi untuk mendapatkan dukungannya, mengingat wanita yang dicintai Rendi dulu sudah dimiliki oleh Arya.
"Aku yakin usaha ku kali ini akan berhasil." Ucap nya mantap.
Perjalanan panjang, seakan tersa begitu cepat bagi Jeniffer mengingat Ambisi nya. dia tidak menyadari dibelakangnya seseorang telah mengikutinya selama dalam perjalanan. Dia mengunakan topi dan berpura-pura sibuk membaca surat kabar yang dipegangnya.
Laki-laki itu adalah Zein, asisten yang ditugaskan oleh Arya untuk memata-matai setiap gerak-gerik Jeniffer yang dirasa mencurigakan. semenjak Arya tahu sifat buruk Jeniffer, dia mulai waspada Karena Arya tidak ingin kebahagiaan nya dan Sanum akan terusik.
__ADS_1
Dan misi kedua Arya menugaskan Zein, untuk pulang keindonesia untuk mencari keberadaan Rendi yang sebenarnya, berdasarkan informasi yang didapatkan Arya. jika sahabatnya itu sudah pindah rumah dan keluarganya. tapi Arya tidak tahu pasti alasan jelasnya. meskipun Arya tahu beberapa cabang perusahaan keluarga Rendi, namun dia tidak ingin sesuatu menimpa sahabatnya itu, sehingga dia langsung menugaskan asisten untuk mencaritahu secara langsung.
"Dasar wanita ular, kamu pikir aku tidak mengetahui niat jahat mu itu." gumam Zein tersenyum, melihat kebodohan Jeniffer yang sudah dibutakan oleh cinta, sehingga dia tidak mampu berfikir secara jernih dan menerima kenyataan jika Arya sudah menikah dan tidak mencintainya sama sekali.
"Akirnya aku sampai juga dinegara ini," gumam Jeniffer sambil memperhatikan alamat rumah yang pernah diberikan Rendi dulu.
Dengan bermodalkan bahasa Indonesia yang berantakan, Jeniffer memaksakan bertanya pada seseorang yang kebetulan berdiri didekat nya. namun pengamen jalanan yang tidak mengerti bahasa yang digunakan Jeniffer hanya tertawa Sambil menggelengkan kepalanya, malah dia mengeluarkan ponselnya untuk mengajak Jeniffer berfoto Selfi sambil mengajak serta teman-teman nya yang lain.
"Lumayan ni, bisa ber-selfie ria dengan cewek bule yang sangat cantik ini." gumamnya dalam bahasa Jawa.
Zein dari kejauhan tidak mampu menahan gelak tawanya, sambil memegangi perutnya.
"Wah Jeniffer naik taxi online, aku harus mengikuti nya." Zein langsung mengikuti dari belakang.
Jeniffer tersenyum puas, saat sampai di alamat rumah yang ditujunya, namun senyuman yang semula mengembang indah, tiba-tiba memudar tak kala rumah mewah itu terlihat kosong tanpa penghuni.
Security perumahan, yang melihat kedatangan Jeniffer datang menghampiri wanita berambut pirang tersebut. sambil berusaha menjawab pertanyaan Jeniffer yang membuat nya pusing serta merasa lucu dengan bahasa Indonesia yang terbalik-balik.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari security, Jeniffer pergi meninggalkan rumah kosong Rendi dengan langkah kaki hampa, sia-sia perjuangan nya jauh-jauh mencari Rendi sampai ke negara ini Namun tidak membuahkan hasil.
"Aku harus tetap di negara ini, sebaiknya aku mencari tempat penginapan terlebih dahulu, untuk istrahat sampai aku menemukan Rendi." gumam Jeniffer.
"Bruuuaggkk," seseorang menabrak tubuh Jeniffer dari arah belakang, dan satunya lagi menarik tas gadis itu, membuat Jeniffer panik dan meminta tolong.
"Siapa kalian?, jangan ambil tas ku." Jeniffer berusaha untuk mempertahankan tasnya yang menyimpan semua barang-barang berharga yang dimiliki nya, termasuk passport, dompet serta ponselnya.
"Ha...Ha...Ha...ngomong apa kamu gadis cantik." mereka mentertawakan Jeniffer, sambil terus kembali mendekati gadis yang mulai ketakutan dan panik.
"Tolong.... tolong....," tetiak Jeniffer dijalanan yang terlihat sepi.
Melihat hal itu Zein segera berinisiatif untuk menolong.
"Lepaskan Gadis itu, " bentak Zein, memberanikan dirinya, meskipun sebenarnya dia juga gemetaran melihat komplotan preman yang berbadan besar dan kekar dihadapannya itu.
"Om Zein," Ucap Jeniffer terkejut, melihat asisten Arya, berada dihadapannya saat ini.
__ADS_1
"Ha...Ha...hey bung, jangan ikut campur jika tidak ingin nyawamu yang tinggal satu itu terbang terbuang percuma ditangan kami." Ucap laki-laki yang bertubuh paling besar.