One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Mainan baru


__ADS_3

Sanum tersenyum senang begitu menginjakkan kakinya dibandara internasional Indonesia, dia menghirup udara segar tanah air nya, begitu juga dengan Melinda.


 "Syukurlah kita sampai dengan selamat, dinegara dan tanah air yang selalu Mami rindukan. Mami merasa bebas dan menjadi diri sendiri jika berada dinegara sendiri." Tutur Melinda.


"Sanum juga mersa seperti itu mi," balasnya.


Ketiga anak-anak Sanum, juga saling berlarian menuju mobil jemputan yang sudah menunggu kedatangan mereka didepan bandara.


“Hati- hati nak, jangan saling berebutan.” Ucap Sanum saat anak-anak nya yang bersemangat sekali. Arya kewalahan melihat ketiganya yang Aktif. Sambil tersenyum senang dan bangga pada ketiga anaknya yang tampan dan cantik itu.


“Hati- hati sayang.” Memantu menaikkan anak-anak nya satu persatu kedalam mobil.


“Aku mau duduk ditengah-tengah,” teriak Davina yang manja.


“Iya sayang,” balas Arya yang begitu sabar menghadapi sikap anaknya yang mulai bertingkah ini dan itu.


Belum jauh perjalanan, tiba-tiba Devan berteriak.


“Papa, Devan mau mainan robot yang baru.” Ucap nya antusias dan  tidak sabaran, begitu mobil mereka melintas pelan di depan pusat menjual mainan khusus anak-anak.


“Aku juga mau pa,” Ucap Revano.

__ADS_1


“Davina mau boneka Barbie yang pakai bikini.” Ucap nya polos karena kelamaan tinggal dimeksiko. Davina juga sempat melihat boneka Barbie yang pakai bikini. Yang dijual dipusat perbelanjaan disana.


Semua tercekat mendengar penuturan Davina.


“Sayang, Ngak boleh beli boneka yang pakai bikini di negara kita, karena disini udaranya sangat dingin. Nanti boneka Barbie nya bisa masuk angin dan sakit. Kita beli yang pakai gaun panjang ya.” Bujuk Sanum.


“Iya ma, Ngak papa kok.” Ucap Davina senang.


“Pak, berhenti dulu di depan.” Ucap Arya.


“Hore, asyikkkk kita punya mainan baru lagi.” Ucap anak-anak nya kompak.


Puas Memilih mainan yang mereka sukai, Arya kembali mengajak anak-anak pulang, nampak sekali kebahagiaan terpancar dari wajah ketiga anak-anak nya.


"Terimakasih papa," Ucap mereka senang sambil memeluk mainan kesukaan masing-masing.


"Iya sayang." memberikan ciuman pada satu persatu anak-anak nya.


Sementara kedua orang tua Jeniffer lebih memilih tinggal di salah satu Apartemen Arya, dia merasa segan dan malu tinggal satu rumah bersama dengan Sanum dan Melinda, mengingat kesalahan yang pernah diperbuat Putri nya Jeniffer dulu.


Pihak kepolisian dan orang-orang pilihan Arya juga kesulitan melacak dan mencari keberadaan Jeniffer dan Zein, mengingat mereka berdua yang menghilang begitu cepat.

__ADS_1


“Apa kita tidak bisa melacak melalui tempat-tempat yang mereka kunjungi, atau melalui kartu kredit yang biasa digunakan Jeniffer menginap di hotel-hotel besar.” Ucap maminya.


“Tidak, karena berdasarkan penyelidikan. Jeniffer belum menginap ditempat manapun. Dan belum satupun dia  melakukan  baik dengan kartu maupun ATM, sehingga kita benar-benar kesulitan melacak keberadaan mereka berdua.” Jawab Arya.


“Jenifer anakku hu...hu...” Mami kembali menangis teringat anaknya.


 Jeniffer belum sempat menginap di hotel, begitu juga Zein belum bertemu orang-orang kantor ataupun pulang kerumah Arya. Selepas dari bandara mereka berdua langsung menghilang.


“Aku menemukan alamat rumah Rendi yang baru.” Tutur Arya senang.


“Rendi?” Ucap Sanum.


“Ya Rendi Wirjawan, anak dari pengusaha cosmetic perempuan hebat yang vernama Berliana.” Tutur Arya.


“Ja....jadi sahabat mu itu  Rendi Wirjawan, anak Bu Berliana.” Ucap Sanum yang langsung syok, namun dia berusaha mengendalikan dirinya.


“Sayang kamu kenapa?” Arya ikutan panik saat melihat wajah Sanum yang pucat.


“Sayang, apa kamu mengenali Rendi.?” Tanya Arya.


 

__ADS_1


__ADS_2