
"Papa pulang" Teriak Arya yang beberapa hari ini di luar kota bersama asisten nya Mika dan Zein.
Karya tersenyum bahagia menghampiri keluarga kecilnya yang tengah tersenyum menyambut kepulangan nya dari luar kota. termasuk kedua sibungsu yang langsung menanyakan buah tangan dari papanya.
"Papa kenapa lama sekali ke luar kota nya, biasa pergi paling dua atau tiga hari, sekarang seminggu" Celetuk sibungsu.
"Papa sedang ada proyek baru Sayang" Jawab Arya duduk ditengah-tengah anak istri tercinta.
"Oya pa, kita makan yuk. Mama udah Masakin makanan kesukaan papa untuk menyambut kepulangan papa" ujar Sanum mengandeng mesra lengan Arya yang terlihat lebih gemuk dan berisi, gerbang terbalik dengan postur tubuhnya semasa bujangan tinggi dengan bentuk perut yang sispec.
"Duh mesranya yang lagi kangen- kangenan." ledek kelima anak kembarnya yang suka usil.
"Iya dong, katanya kalian berdua pengen segera punya adek lagi?" goda Arya yang langsung membuat Davina dan Devan saling pandang dan yang lain menggeleng kan kepalanya tidak suka.
"Jangan pa, Davina malu ntar sama teman-teman yang lain, masa usah Gee gini punya adik lagi."
"Ya ngak papa lah."
"Tapi Davina malu."
"Ngak boleh gitu sayang." ucap Arya.
Sanum dan Arya suaminya, menikmati makan dengan penuh kebahagiaan dan canda tawa bersama anak-anak mereka, "semoga kita selalu seperti ini pa."
__ADS_1
"Iya sayang." balas Arya.
***
Pagi ini disekolah Davina.
"Setiap manusia harus menjaga kebersihan, terutama kita yang masih remaja ini. karena selain untuk menjaga kesehatan, kebersihan juga merupakan sebagian dari iman.
Teman-teman semua, ada yang tahu iman nggak?" terdengar suara lantang Jonathan saat praktek pidato mata pelajaran Agama.
"Ngak tahu." jawab sebagian kelas mulai heboh.
"Aku tahu." jawab sebagian lagi.
"Hu...hu....hu... garing." jawab mereka.
Seperti biasa, saat jam istrahat tempat tujuan utama mereka adalah kantin sekolah. tengah asyik memulai makannya, Davina yang masih sok jaim. tidak menolak sedikit pun saat kedua sahabatnya mengajak duduk dimeja yang sama dengan Aldo.
"Kita boleh gabung ngak, berhubung meja pada udah hampir penuh." ucap Vita mencoba mencari-cari alasan, padahal dia ingin dekat dengan Jonathan.
"Boleh." jawab Aldo sambil melirik Davina sekilas, Davina langsung menunduk begitu pandangan mata mereka bertemu.
" Duh jantung, kenapa engkau mulai tidak mau diajak untuk kompromi." Gumam Davina yang mersa gugup dan jantung yang terus berdetak kencang duduk bersebelahan dengan Aldo.
__ADS_1
"Aku takut lama-lama bisa jantungan, mana tiap hari baik dirumah dan sekolah harus bertemu." Gumam Davina.
Semua murid mencari kursi dan meja masing-masing dan duduk dengan manis, terkecuali Jonathan yang tiba-tiba berkeringat melihat Vita yang genit tiba-tiba Memilih duduk di sebelah nya.
Jonathan melirik ke arah Aldo memilih duduk dibagian depan, dia ingin pindah dan melirik sekeliling kelas, namun setiap kursi dan meja sudah terisi penuh, dan sudah ada pemiliknya masing-masing.
"Hay tampan" bisik Vita.
Saat Jonathan hendak duduk, refleks dia melonggos kesal. Vita telah duduk manis di sebelah nya. sambil tersenyum penuh kemenangan. sambil memainkan jemarinya.
"Minggir Vit, itu kursinya Aldo" ucap Jonathan kesal.
"Kamu lupa ya, jika Aldo udah pindah kedepan.
"Aku ngak peduli." Jawab Jonathan cuek.
Sebenarnya Jonathan secara tidak langsung sudah tertarik dengan Vita, namun dia masih gengsi untuk mengakui nya, mengingat mereka sering berdebat.
Vita menulis di selembar kertas, dan mendorong pelan ketangan Jonathan disampingnya, karena takut ketahuan guru yang sibuk menerangkan pelajaran.
Jonathan mengerutkan keningnya bingung, dan membuka lembaran kertas itu
..."I.... LOVE ... Jonathan,...
__ADS_1