One Night Love Presdir

One Night Love Presdir
Rasa rindu Arya


__ADS_3

Semua karyawan, di kantor perusahaan cabang Negara Meksiko dibuat kalang kabut begitu mengetahui kedatangan Arya. terutama karyawan bagian pengemasan produksi yang bekerja langsung dan Qc yang memeriksa kemasan produk hingga berhasil lolos dan dipasarkan.


Wajah tegang terpancar dari mereka, yang sudah pasrah akan nasip yang pekerjaan serta karir yang akan berakir dalam sekejap, mengingat kesalahan yang terjadi sangat fatal dan tidak mungkin rya dengan mudah memaafkan kesalahan mereka.


Mereka bekerja sudah sangat baik, sesuai dengan SOP yang ditetapkan perusahaan, mereka yang hanya operator dan karyawan rendahan itu tidak menyadari jika nasip pekerjaan nya sedang dipertaruhkan oleh seorang penguasa wanita yang bernama Jeniffer, wanita egois yang mempunyai ambisi kuat dan menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginan nya. tanpa peduli banyak orang yang akan dirugikan oleh ambisi nya tersebut.


"Bos apa kita melakukan Meeting dadakan, atau langsung audit ke Line yang bagian proses produksi, agar kita bisa melihat cara mereka secara langsung." tawar Zein yang diikuti Mika disebelah nya.


"Sebaiknya kita langsung mengecek cara kerja mereka dari bawah, apakah sudah sesuai dengan prosedur yang ada. setelah itu kita akan langsung melakukan penyelidikan apakah kesalahan ini murni kekhilafan mereka dalam bekerja atau ada seseorang yang dengan sengaja melakukan hal ini dengan maksud tertentu." Ucap Arya.


Semua pekerja terlihat tegang dan fokus dengan bidang pekerjaan yang ada dihadapan mereka masing-masing, seolah-olah berusaha untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apapun.


"Selamat datang Tuan Arya," Ucap supervisor.


Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Arya, dia mengabaikan para supervisor dan leader Line yang berusaha menyambut dan mengikuti langkah mereka.


Arya mengelilingi Line demi Line, fokus memperhatikan cara kerja mereka, termasuk para Qc yang memeriksa memastikan produk yang dikemas sesuai dengan dokumentasi nya.


"Aku rasa mereka sudah bekerja cukup baik, dan sesuai prosedur. sehingga kemungkinan kecil terjadinya kesalahan." gumam Arya.

__ADS_1


"Benar bos, aku juga berfikir seperti itu," balas Zein.


Arya terus berkeliling memperhatikan pekerjaan mereka, dia tidak peduli rasa capek yang di rasakannya.


"Aku tidak akan bisa tenang sebelum memastikan semuanya berjalan dengan baik." Ucap Arya.


Diruanganya, Jeniffer mulai sibuk memperbaiki penampilan nya. dia berusaha secantik mungkin saat bertemu dengan Arya nanti. dia mengulum senyum sambil terus memperhatikan Arya melalui layar monitor cctv.


"Semoga kak Arya tidak menemukan bukti kesalahan ini," perasaan Jeniffer berkecamuk antara senang dan dan cemas.


"Zein segera lakukan rapat dadakan, untuk tiga hari kedepan." Ucap Arya.


"Satu lagi, datangkan tim audit andalan kita segera. untuk memeriksa kesalahan ini." Arya melangkahkan panjang menuju ruangan CEO yang sudah lama tidak dia tempati lagi.


Arya merebahkan tubuhnya di sandaran Kursi kebesarannya, pikiran nya menerawang teringat Sanum dan putri kecilnya Davina.


"Sedang apa ya mereka sekarang, aku merasa begitu merindukan mereka berdua." gumam Arya memijid pelipisnya.


Rapat dadakan terus dilanjutkan, meskipun sudah lewat dari jam kerja Normal. semua karyawan peserta rapat dadakan dilembur kan, mampak wajah-wajah kusut dan lelah serta raut khawatir terpancar dari wajah mereka. kecuali Jeniffer dia terlihat anggun dan bersemangat senyum manis terukir dari bibirnya ketika melihat Arya melangkah memasuki ruangan rapat yang diikuti oleh dua asisten Zein dan Mika.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kak Arya bertambah tampan sekarang." menatap terpesona wajah Arya yang melangkah duduk dikursi kebesarannya.


Selama rapat berlangsung, Arya terlihat sangat fokus. dia tidak mempunyai Waktu untuk sekilas melirik pada Jeniffer yang selalu berusaha untuk mengambil perhatian Arya.


Di villa Sanum terbangun dari tidur nya, ketika Davina kecil merengek minta susu.


"Ma banguuuunn Mama....Vina mau mimik cucu...," Ucap nya mengguncang pelan bahu Sanum.


"I...iii..ya sayang." Sanum berusaha duduk sambil mengucek pelan matanya. lalu mengikat asal rambut panjang bergelombang nya. dia mengjak Davina membersihkan wajah, dan langsung turun ke bawah.


"Selamat siang Nona." Ucap pelayan sambil menunduk hormat.


"Siang?" Sanum tertegun mendengar ucapan pelayan, sambil melirik jam besar yang terletak di tengah-tengah ruang Utama.


"Ternyata selepas muntah-muntah dan kepergok Arya tadi, aku tertidur pulas sampai siang." gumam Sanum berjalan menuju dapur dia ingin membuat kan Davina susu.


"Nyonya mau kemana?"


"Silahkan duduk, biar kami yang menyiapkan semuanya." Ucap pelayan.

__ADS_1


Sanum celingak-celinguk mencari-cari keberadaan sosok Arya, namun tidak terlihat sama sekali.


__ADS_2