
“Aku khawatir, jika perempuan itu datang dengan suaminya, dan....dan ...Rendi tidak sanggup menerima kenyataan dan kembali mengamuk. Hanya kamu harapan ku Sasha. Tolong selalu dampingi Rendi. Buat dia iklas untuk menerima apapun kenyataan pahit yang menimpa dirinya.” Ucap Berliana yang berbicara tersendat- sendat sambil mengusap air mata yang membanjiri wajah awet muda nya.
“Baik Nyonya aku akan berusaha sebaik mungkin.” Balas Sasha yang semakin prihatin dan kasian pada Tuan mudanya itu.
"Aku percaya padamu Sasha, karena semenjak kedatangan mu, Rendi sudah banyak menunjukkan perubahan. padahal sebelumnya banyak pelayan yang kabur karena tidak tahan melihat sikap Rendi yang kasar dan mengamuk." Berliana mengusap air matanya.
"Terimakasih atas kepercayaan nyonya, sehingga membuat saya lebih bersemangat dan percaya diri untuk bekerja." balas Sasha.
“Sekarang pergilah, kasihan Rendi yang menunggu mu cukup lama.”
“Ya Nyonya, saya permisi dulu.” Sasha melangkah keluar dari ruangan kerja Berliana, sambil mengingat kembali wajah Arya difoto tersebut.
__ADS_1
“Sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu, tapi dimana ya dan kapan?” gumam Sasha berbicara sendiri sambil berjalan mendekati Rendi yang masih betah memperhatikan anak-anak ikan hias kesayangan nya.
“Apa yang kamu bicarakan dengan Mami barusan?” Ucap Rendi Tanpa menoleh kearah Sasha.
“Kami hanya bicara tentang belajar menerima yang namanya ikhlas, dan cara melepaskan sesuatu yang kita sayangi dengan hati terbuka dan dada yang lapang. seberat apapun masalah yang kita hadapi.” Balas Sasha duduk disebelah Rendi.
“ Mmmmhhh... bicara sangat mudah, apa kamu pernah mempunyai masalah?” sindir Rendi sedikit tersinggung.
“Pernah, dan masalah ku sangat banyak.” Tiba-tiba Sasha menangis terbawa perasaan nya sendiri.
Rendi menatap Sasha, sambil berfikir masalah apa yang menimpa gadis yang terlihat tenang, seperti tidak memikul permasalahan apapun.
__ADS_1
“Apa permasalahan mu jika aku boleh tahu.?” Ucap Rendi.
“Apa permasalahan gadis ini menyangkut dengan ku kah? yang pernah merenggut sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.” Gumam Rendi perang batin dengan pikiran nya sendiri.
"Baiklah, aku akan terbuka kepadamu Tuan muda, semoga cerita ku ini sedikit banyak Bisa membuat mu bisa berfikir jika di dunia ini bukan dirimu saja yang mempunyai masalah hidup.” Terang Sasha panjang lebar, membuat Rendi terlihat sudah tidak sabaran lagi.
“Jangan berbelit-belit, apa permasalahan mu itu?” Ucap Rendi.
“Kehidupan keluarga ku hancur, kedua orang tua ku sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Termasuk papaku yang sudah mempunyai wanita simpanan, harta kekayaan kami juga sudah digadaikan papa secara diam-diam. Hal itu membuat ku kecewa dan frustasi, sehingga aku juga bersenang-senang mengikuti pergaulan kedua sahabat ku yang salah.” Sasha kemudian terdiam, gadis itu terlihat ragu untuk membuka semua aib tentang dirinya.
“Lanjutkan,” Ucap Rendi.
__ADS_1
“Aku sudah tidak perawan lagi hu...hu...dimana teman-teman ku mengajak taruhan, semenjak kejadian itu aku begitu menyesal dan bertaubat dengan menjauhi teman-teman ku, termasuk kabur dari rumah. Karena aku capek dengan kedua orang tua ku yang selalu bertengkar, termasuk menyembunyikan sesuatu yang tidak semua orang mengetahui nya.” Spontan Sasha menutupi mulutnya, ketika menyadari jika dia sudah terlalu banyak membuka cerita tentang kehidupannya pada Rendi.
"Menyembunyikan apa lagi?"